Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Hampir Kecelakaan


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi buta Ibra sudah kembali lagi ke rumah Mila, dimana alasannya masih sama yakni ingin bersama dengan kedua anaknya yaitu Andrew dan juga Syifa.


Tok.


Tok.


Tok, bunyi suara pintu yang diketuk oleh Ibra, sehingga membangunkan Mila dari tidurnya.


Mila yang masih sadar dan tak sadar, karena belum selesai mengumpulkan nyawanya, harus membuka pintu depan yang baru saja diketuk oleh seseorang.


"Mas Ibra, kenapa pagi-pagi buta Mas sudah berada di sini, kan Andrew dan juga Syifa masih tidur Mas," ucap Mila yang masih setengah sadar.


"Itu, Mas kangen saja dengan Andrew dan juga Syifa, oh iya dari kemarin kenapa Mas tidak melihat orang tua mu, apa jangan-jangan," terpotong ucapannya.


"Oh, kalau untuk Ayah dan Mama sekarang sudah tidak tinggal di sini Mas, karena Ayah dan Mama sudah beli rumah di dekat desa, jadi memang sudah hampir beberapa hari ini Mila hanya tinggal bersama Andrew dan juga Syifa saja," jelas Mila yang membuat Ibra menganggukkan kepalanya.


"Mas, mau minum apa biar Mila buatkan," sambung Mila menawarkan minum untuk Ibra.


"Mas mau kopi saja seperti dulu yang kamu buat."


"Baiklah Mas, segera Mila buatkan ya," jawab Mila dan setelahnya beralih ke dapur untuk membuatkan Ibra segelas kopi hangat.


Sembari menunggu Mila membuatkannya kopi, Ibra lalu beralih menuju ke kamar Andrew dan juga Syifa untuk melihat kedua anaknya tidur.


Saat Ibra sampai di kamar anak-anaknya, di sana dapat Ibra lihat betapa lucunya kedua anaknya saat tertidur, terutama si bungsu Syifa yang gaya tidurnya persis seperti dia yaitu telungkup dengan air luar yang sudah membasahi bantalnya.


Dengan sedikit jahil, Ibra mencoba mengganggu kedua anaknya dengan cara mencubit gemas pipi Andrew dan juga Syifa sehingga membuat tidur keduanya terganggu dan alhasil Andrew dan Syifa akhirnya terbangun juga dari tidurnya.

__ADS_1


"Eh Ayah, ternyata pagi-pagi seperti ini sudah ada Ayah di kamar kami," ucap Andrew. Sementara Syifa yang melihat Ibra, langsung menempelkan tubuhnya di dekapan Ibra.


"Sayang, kalau baru bangun itu langsung pergi ke kamar mandi, jangan menempel ke Ayah kalian, terutama kamu Syifa, nanti air liurnya jatuh ke pakaian Ayah, kan jadinya Ayah nanti bau," imbuh Mila yang secara tidak sengaja masuk ke dalam kamar anaknya.


Ya, setelah Mila selesai membuatkan secangkir kopi untuk Ibra, kemudian Mila meletakkan kopi tersebut di ruang tamu. Namun, Mila tidak melihat keberadaan Ibra dan alhasil Mila mencari Ibra yang ternyata berada di kamar anak-anaknya.


Selepas Mila menasihati kedua anaknya, kemudian Mila menyuruh Ibra untuk kembali ke ruang tamu karena kopi yang dia minta sudah Mila buatkan.


"Mas, kopinya sudah Mila buatkan dan Mila letakkan di meja ruang tamu, silakan diminum Mas dari pada keburu dingin," sahut Mila dan kemudian kembali menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi bekerja.


Sementara Ibra, kembali menuju ke ruang tamu dan langsung meneguk kopi buatan Mila.


"Ternyata rasanya masih sama enaknya, huh mas jadi kangen kopi buatan kamu lagi Mila, apa lagi dulu kamu selalu menyiapkan kopi hangat ini sebelum Mas pergi bekerja," batin Ibra kembali seraya mengingat kenangannya dahulu bersama dengan Mila.


Tidak beberapa lama kemudian, akhirnya Mila dan anak-anaknya turun. Dimana Mila yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, sementara Andrew dan Syifa yang juga sudah siap dengan pakaian sekolahnya.


Setelah puas makan bersama-sama, barulah Ibra keluar bersama kedua anaknya untuk mengantarkan mereka menuju ke sekolahnya.


"Mila, kamu enggak sekalian aku antar kerja, kan kita masih satu jalan sama perusahaan tempat kamu bekerja," ujar Ibra menawarkan tumpangan untuk Mila.


"Tidak perlu Mas, karena aku nanti diantar oleh Mas Arya," jawab Mila.


"Oh iya sudah, kalau begitu aku duluan ya mengantarkan anak-anak."


"Iya mas, hati-hati di jalan," seru Mila.


"Hmm," jawab Ibra dan setelahnya langsung melajukan mobilnya untuk mengantarkan Andrew dan juga Syifa ke sekolahnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Andrew dan Syifa, tampak Ibra seperti tidak fokus mengemudikan mobilnya, sebab pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya agar Ibra dapat memisahkan Arya dan Mila, karena setiap harinya dapan Ibra lihat kalau mereka semakin dekat saja, sehingga membuat Ibra kehilangan peluang untuk mendekati Mila, mantan istrinya.


Tanpa Ibra sadari, kalau dari arah depan terlihat ada sebuah truk yang mengarah ke mereka, sehingga otomatis membuat Andrew dan juga Syifa berteriak dengan kerasnya.


"Ayah awas, di depan ada truk yang mau menabrak kita!" ucap Andrew dan juga Syifa dengan serempak, sehingga membuat Ibra menjadi kaget dan sejurus kemudian Ibra membanting kan kemudinya di sisi kiri jalan.


"Huh, hampir saja, oh iya kalian bagaimana anak-anak, apa kalian ada yang terluka?" tanya Ibra.


"Tidak ada Yah, kami tidak terluka sedikit pun, makannya lain kali Ayah hati-hati membawa mobilnya," jawab Andrew memberikan nasihat kepada Ibra.


Sementara untuk Syifa sendiri, sepertinya masih sangat syok, apa lagi dia melihat bagaimana dirinya yang ikut hampir tertabrak truk karena ayahnya sendiri sedang melamun saat mengemudikan mobilnya.


"Untuk Syifa sendiri, bagaimana Nak, apa ada yang terluka?" tanya Ibra kembali yang sekarang ditujukan kepada Syifa.


Namun, saat Ibra bertanya, tidak ada sedikit pun respon dari Syifa yang membuat Ibra langsung khawatir dengan kondisi Syifa.


"Dek, kamu ditanyai Ayah Itu, kamu terluka atau tidak," ucap Andrew sembari memukul pelan pundak adiknya. Namun tetap saja, respon dari Syifa tidak ada, bahkan saat ini Syifa tampak bergeming di tempat duduknya.


"Ayah, sepertinya Syifa masih syok, karena kejadian tadi, lebih baik kita bawa Syifa ke rumah sakit ya Ayah," sambung Andrew yang membuat Ibra buru-buru memutar kemudi mobilnya kembali dan langsung berganti arah menuju ke rumah sakit terdekat.


Sesampai di rumah sakit, Ibra langsung menggendong Syifa menuju ke arah ruang psikiater untuk mengetahui terkait kondisi anaknya saat ini.


"Dokter, tolong segera periksa anak saya," ujar Ibra dan kemudian sang dokter menyuruh Ibra membaringkan Syifa ke atas ranjangnya dan setelahnya baru sang dokter mengecek kondisi Syifa.


Hampir satu jam lamanya dokter mengecek kondisi Syifa dan akhirnya sang dokter sudah selesai mengecek kondisi Syifa dan langsung menyampaikan kondisi Syifa saat ini kepada Ibra.


Dengan menghela napas panjang, sang dokter pun akhirnya menjelaskan kondisi Syifa yang ternyata syok akibat kecelakaan yang hampir di alami oleh Ibra.

__ADS_1


"Pak, setelah saya cek, kondisi anak bapak baik-baik saja, hanya mengalami guncangan kecil, jadi nanti setelah selesai pemeriksaan ini, coba ajak pasien untuk bicara agar dapat menenangkan mental pasien, sehingga membuat pasien dapat kembali dengan normal lagi,"imbuh sang dokter yang langsung membuat Ibra mengangguk paham akan penjelasan dokter tersebut.


__ADS_2