
"Tan ... Tante, kenapa Tante ada di sini," ucap Mila terkejut karena tiba-tiba saja Tante Rina berada di dalam ruangannya. Padahal yang ia tahu bahwa Tante Rina saat ini sudah mendekam di dalam penjara.
"Kenapa, terkejut ya wanita sialan, lihat ini wajahku, gara-gara kamu dan Arya itu, aku ditindas oleh tahanan lain!" balas Tante Rina dengan penuh emosi.
"Mana aku tahu kalau Tante jadinya seperti itu, kan bisa Tante berteriak meminta tolong kepada petugas," imbuh Mila pelan.
"Ck, ringan sekali mulutmu berkata seperti itu, karena kamu belum pernah merasakan siksaan di dalam penjara itu kan, tapi tenang saja, sekarang aku yang akan menyiksamu menggunakan ini," ujar Tante Rina kembali seraya memegang pisau di tangannya.
Melihat apa yang dipegang oleh Tante Rina, seketika Mila langsung berteriak histeris dan memundurkan tubuhnya hingga sampai menatap dinding.
"Tante, apa yang kamu lakukan, lepaskan pisau itu," ucap Mila ketakutan.
"Heh, untuk apa aku melepaskan pisaunya, kan aku mau melenyapkan kamu, agar kamu bisa menemani anakku di atas sana dan meminta maaf kepadanya karena telah merebut Arya darinya," kata Tante Rina sembari mendekat ke arah Mila.
Saat Tante Rina telah mendekati Mila dan mencoba menancapkan pisaunya tersebut, tiba-tiba saja dari arah belakang, Ibra langsung memukul tengkuk Tante Rina sampai membuat Tante Rina tidak sadarkan diri.
"Mila, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ibra khawatir dan kemudian Mila langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Mas, hanya saja aku syok saat Tante Rina ingin mencoba mencelakai ku," jawab Mila.
"Oh iya Mas, kenapa Mas Ibra bisa ada di sini?" sambung Mila kembali dengan bertanya kepada Ibra.
Saat Ibra ingin menjawab pertanyaan Mila, tiba-tiba saja beberapa polisi masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi Pak dan Bu, apa kalian melihat wanita paruh baya seperti yang ada di dalam foto ini?" tanya sang polisi yang memperlihatkan foto Tante Rina.
"Itu Pak, dia sudah aku buat pingsan, karena dia hampir menyerang Mila, pokoknya bawa pergi dia sejauh-jauhnya Pak Polisi, agar tidak membahayakan orang lain lagi," sahut Ibra dengan menunjuk ke arah Tante Rina yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Baik Pak terima kasih, kalau begitu saya bawa dulu tahanan kami," ucap sang polisi dan segera membawa Tante Rina pergi dari ruangan Mila.
"Oh iya Mas, pertanyaan ku tadi belum Mas jawab loh," imbuh Mila mengingatkan Ibra akan pertanyaannya terkait kedatangan Ibra di ruangannya.
"Oh itu, Mas tadi hanya ..."terpotong ucapannya kembali karena ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Mila.
"Pak Ibra, ngapain Anda di ruangan istri saya," ucap Arya yang baru masuk ke dalam ruangan Mila.
"Oh, anu tadi aku tidak sengaja mendengar teriakkan Mila dan ternyata ada seorang wanita tua yang ingin mencelakainya."
"Hah, maksudnya?" tanya Arya kembali karena masih tidak paham akan perkataan Ibra.
"Iya Mas, tadi Tante Rina tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan ku dan mencoba untuk mencelakai aku Mas, tapi untung saja Mas Ibra cepat-cepat datang ke sini dan sekarang Tante Rina sudah dibawa kembali oleh pihak kepolisian, karena katanya dia juga habis berobat di rumah sakit ini, sebab kemarin malam Tante Rina habis dipukul oleh tahanan lain," jelas Mia panjang lebar agar suaminya tidak salah paham dengan Ibra.
"Oh ternyata seperti itu, terima kasih ya Pak Ibra sudah menyelamatkan istri saya, kalau tidak ada Bapak, entah bagaimana jadinya istri saya tadi," ucap Arya dengan senyum tulus berterima kasih kepada Ibra.
"Iya sama-sama, Pak Arya." Jawab Ibra sekenanya.
"Sayang, ini Mas sudah belikan makanan sehat untukmu dan untuk Arya junior, sini Mas yang akan menyuapi kamu," imbuh Arya dan setelahnya langsung menyuapi Mila dengan pelan.
Sementara itu, Ibra yang mendengar perkataan Arya kalau di dalam perut Mila ada anak Arya, langsung bergeming di tempat karena dirinya masih tidak bisa membayangkan, bagaimana sakit hatinya saat ini karena tahu Mila sudah hamil anak dari Arya.
Tidak mau berlama-lama berada di dalam ruangan itu, kemudian Ibra langsung pamit pulang begitu saja kepada Arya dan juga Mila.
"Aku pamit pulang dulu ya, maaf tidak bisa berlama-lama di sini karena masih ada urusan yang penting," kilah Ibra dan setelahnya langsung keluar dari ruangan Mila.
Setelah keluar dari ruangan Mila, terlihat Ibra sedikit mengepalkan tangannya yang mungkin baru saja mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan hati. Kalau untuk move on, sudah Ibra lakukan. Namun, nyatanya tetap saja masih terasa sulit, apa lagi bayang-bayang Mila masih melekat di dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
Sehingga jadilah seperti sekarang, yaitu terus mengikuti kegiatan Mila, bahkan saat Arya mengantar Mila pergi ke rumah sakit, Ibra langsung mengikutinya dari arah belakang sembari melihat-lihat situasi agar dirinya tidak ketahuan kalau sedang mengikuti Arya dan juga Mila.
Kembali lagi dengan Arya dan Mila, setelah Arya selesai menyuapi Mila makan, kini keduanya sedang terlihat saling bermesraan di satu ranjang yang sama.
"Sayang, kamu tahu tidak, entah kenapa perasaan ku mengatakan, sepertinya mantan suami kamu itu belum bisa move on sayang, bukan mau berburuk sangka, namun Mas dapat melihatnya sendiri dikedua matanya yang selalu menatap ke arah kamu," ucap Arya sembari membelai rambut Mila.
"Biar saja Mas, kalau urusan hati orang kita tidak bisa paksakan, yang penting kita sudah saling berkomitmen satu sama lain agar tidak terjerumus dengan namanya orang ketiga, apa lagi aku paling anti yang namanya perselingkuhan Mas, jadi tenang saja Mila pasti bisa jaga diri kok," balas Mila dengan keyakinan penuh kalau dirinya tidak akan berpaling ke lain hati.
"Iya Mas tahu kok, pasti hati kamu akan selalu untuk Mas kan."
"Tidak Mas, kamu salah," balas Mila dengan sedikit tertawa kecil.
"Jadi, untuk siapa hatimu, apa untuk Ibra?" tanya Arya dengan nada kesal.
"Salah Mas, hatiku ini selain untuk kamu, tapi juga untuk Andrew, Syifa dan untuk junior Arya ini," balas Mila sembari mengelus perutnya.
"Oh iya benar juga sayang, Mas lupa hati Mas juga untuk anak-anak kita," imbuh Arya sembari ikut mengelus perut Mila.
Puas bermesraan satu sama lain, kemudian Mila kembali di cek ulang kondisinya oleh dokter.
"Sekarang kondisi Bu Mila sudah lumayan baik, bahkan setelah saya cek kembali sepertinya keadaan Bu Mila juga sudah fit dan sudah bisa pulang hari ini juga."
"Terima kasih Dok, berarti hari ini juga saya sudah bisa pulang kan?" tanya Mila untuk memastikan apakah dirinya sudah bisa pulang atau belum.
"Sudah bisa Bu, hanya saja nanti saya akan meresepkan obat untuk penguat kandungan Anda serta jangan lupa untuk makan makanan yang bergizi, agar perkembangan janin Anda semakin baik," ucap sang dokter sembari memberikan nasihat kepada Mila.
"Iya Dok, terima kasih ya sudah merawat saya."
__ADS_1
"Iya sama-sama Bu, itu juga sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya permisi dulu ya mau melihat pasien yang lain."
"Iya Dok," ucap serempak Mila dan juga Arya, serta tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kembali.