
Setelah hari berganti menjadi malam, maka saatnya orang-orang suruhan Yuda langsung menyelinap ke dalam kediaman milik Ibra dan Mita.
Sementara Yuda, Siska dan Lea, berada di teras rumahnya saja sembari menunggu kabar bahagia yang akan dibawa oleh orang-orang suruhannya.
Tak beberapa lama, terdengar mulai adanya suara teriakan dari dalam rumah itu, sehingga mereka bertiga berpikir, bahwa suruhan yang sudah mereka perintahkan telah berhasil untuk membunuh Ibra dan Mita.
Detik, menit bahkan sudah berganti jam lamanya mereka menunggu. Namun, tetap tak ada satu pun yang keluar orang suruhan mereka itu dari dalam rumah Ibra dan Mita.
Alhasil membuat ketiganya mencoba untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ini kok rumahnya gelap gulita ya, sepertinya ada yang tidak beres," ucap Siska saat mereka bertiga sudah berada di dalam ruang tamu.
"Tunggu, jangan-jangan kita," terputus ucapan Yuda karena terkejut melihat beberapa bawahannya yang tiba-tiba tewas mengenaskan, sehingga saat ini dapat Yuda yakini kalau rencana mereka jelas gagal dan malah mereka yang terjebak di dalam rencana Ibra dan Mita.
"Selamat datang di rumahku ini," ujar Ibra yang turun dari tangganya dengan menyeret beberapa mayat orang suruhan Yuda.
Mendengar ucapan Ibra dan melihat apa yang Ibra seret, seketika tubuh mereka bertiga bergetar hebat, hingga untuk melangkahkan kakinya untuk kabur saja, mereka bertiga sudah tidak sanggup lagi.
"Tamat sudah riwayat kita," ucap Yuda pelan, namun masih bisa didengar oleh Siska dan juga Lea.
Yuda, Siska dan Lea yang merasa telah terkena jebakan Ibra, mencoba untuk melarikan diri. Namun, baru beberapa langkah, mereka langsung dikepung begitu saja oleh bawahan Ibra dan segera menangkap ketiganya yang hendak melarikan diri.
Setelah itu, dibawa pergi begitu saja oleh anak buah Ibra ke suatu tempat dengan diikuti Ibra dari belakang.
Bruk, suara anak buah Ibra saat menjatuhkan Yuda, Siska dan juga Lea ke lantai dan setelah itu membiarkan mereka yang nantinya akan dihukum langsung oleh Ibra.
"Ternyata, kalian bertiga lah yang sudah berkomplot untuk mau mencelakai aku dan istriku kan!" ucap Ibra dengan tegas, sembari mengelilingi mereka bertiga.
"Ma-maafkan saya Pak Ibra, ini bukan salah saya, tapi mereka berdua lah yang salah karena mereka berdua lah pelaku yang sebenarnya, saya hanya," terputus ucapannya.
__ADS_1
"Hanya melakukan apa yang mereka suruh, begitu maksud kamu Yuda!" teriak Ibra dengan emosi.
"Pokoknya, kalian bertiga hari ini juga harus memiliki rasa sakit yang sama seperti rasa sakit istriku, kalian semua siksa mereka bertiga sampai mereka merasakan memilih mati dibandingkan dengan hidup lagi!" perintah Ibra menunjuk beberapa bawahnya dan sekarang baru dimulailah eksekusi Yuda, Siska dan juga Lea.
Baru beberapa menit dieksekusi, sudah mulai terdengar jeritan, rintihan dan kesakitan dari mereka bertiga, sampai-sampai mereka memohon maaf kepada Ibra.
Namun, apakah Ibra peduli, jawabannya adalah tidak dan malah menyuruh bawahannya kembali menyiksa Yuda, Siska dan Lea.
Saat para bawahan Ibra masih menyiksa ketiganya, tiba-tiba saja dari arah pintu masuk, Mita datang dengan membawa bungkusan hitam di tangan kanannya.
Ibra yang melihat kedatangan istrinya, langsung terkejut dan segera menghampiri istrinya.
"Sayang, kenapa kamu ke sini?" tanya Ibra.
"Aku ke sini karena hanya mau memberikan ini saja Mas," jawab Mita sembari mengangkat bungkusan kecilnya.
"Itu apa sayang, jangan-jangan."
"Mas, tolong suruh bawahan mu, suntikkan ini ke mereka bertiga ya," pinta Mita
"Iya sayang, hei kalian bertiga bawa apa yang dipegang istriku dan suntikan ke mereka bertiga!" perintah Ibra.
"Baik Bos." Balas salah satu bawahannya dan langsung menyuntikkan cairan yang telah diracik Mita ke tubuh Yuda, Siska dan juga Lea.
Baru lima menit disuntikkan cairan tersebut, tampak Yuda, Siska dan Lea langsung meraung-raung kesakitan, bahkan sesekali bukan rasa sakit saja melainkan rasa birahinya yang tiba-tiba muncul, namun tidak bisa disalurkan karena tubuh mereka merasakan mati rasa.
"Sayang, sebenarnya apa yang kamu berikan kepada mereka, kenapa mereka lebih menyedihkan dari pada siksaan yang ku buat?" tanya Ibra kepada Mita.
"Hanya sedikit mencampurkan obat perangsang, obat mati rasa dan juga obat yang membuat mereka tiba-tiba terbakar Mas, kan jadinya seru kalau kuberikan itu dan ternyata memang benar, akhirnya aku puas mendengarkan teriakan dan erangan kesakitan mereka, karena itulah yang ku suka," jelas Mita dengan seringai kecilnya yang membuat Ibra merasa iba, ya iba karena istrinya kini telah sedikit berubah.
__ADS_1
Ibra tidak mau istrinya berubah menjadi sosok yang begitu kejam, karena Ibra ingin istrinya selalu menjadi orang yang lembut dan baik, yang mau menolong sesama dan mudah tersenyum. Namun, apa mau dikata, Ibra tidak bisa mencegahnya, sebab kehilangan seorang anak pasti sangat sakit, hingga Ibra membiarkan rasa sakit Mita disalurkan ke tiga orang yang memang telah mencelakainya.
"Sayang Mas mohon, tetaplah menjadi Mita yang ceria, Mita yang baik, karena Mas tidak mau kamu ternoda dengan kejahatan ini sayang," imbuh Ibra sembari memeluk Mita dengan erat.
Mendengar perkataan Ibra, seketika Mita menangis, sebab benar apa yang dikatakan suaminya kalau dirinya memang seharusnya tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi, apa mau dikata, dirinya juga sudah bersumpah untuk membalaskan sendiri kematian anaknya, sehingga ini adalah kali terakhirnya Mita melakukan kejahatan, ya kejahatan balas dendam untuk memenuhi sumpahnya.
Puas melihat ketiganya tersiksa, sekarang saatnya Ibra membawa ketiganya menuju ke kantor polisi, walaupun ketiganya saat ini dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Bagaimana tidak mengenaskan, kalau sedari tadi Yuda, Siska dan juga Lea sangat tersiksa hampir beberapa jam lamanya, hingga akhirnya mereka bertiga menjadi tak sadarkan diri.
Sesampai di kantor polisi, anak buah Ibra langsung menggeret ketiganya masuk ke dalam kantor polisi dan segera memberitahukan kejahatan ketiganya yang membuat Mita mengalami keguguran, selain itu kasus asusila yang telah mereka lakukan, juga menambah daftar lapisan hukuman yang akan mereka terima.
"Baik Pak Ibra, sepertinya kasus ini sangat berat dan bisa dipastikan mereka akan berada di dalam penjara dalam waktu yang sangat lama, terima kasih ya Pak atas laporannya," ucap sang Polisi.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pulang dulu, sekali lagi pastikan mereka bertiga jangan sampai lolos ya Pak," tekan Ibra di setiap kata-katanya dan sang polisi langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai membereskan ketiga pelaku penabrak istrinya, sekarang Ibra kembali pulang ke rumah, namun sebelum pulang, tak lupa Ibra memberikan sebuah hadiah untuk istrinya.
"Sayang, sini Mas ada hadiah untuk kamu," ucap Ibra dan segera Mita menghampirinya.
"Memangnya hadiah apa Mas?" tanya Mita dan segera Ibra memberikan kotak kecil untuk Mita.
Saat Mita membuka isi kotak tersebut, betapa mengejutkannya kalau isinya adalah sebuah cincin kecil yang berhiaskan berlian di tengahnya dan sudah dipastikan kalau harga nya sangatlah mahal.
"Mas, i-ini untuk aku," ucap Mita dengan terbata-bata karena terharu dengan pemberian suaminya.
"Iya sayang, itu untuk kamu, tapi sebelum kamu memakainya boleh kah aku untuk," tidak melanjutkan perkataannya karena Mita sudah tahu maksud suaminya.
"Boleh Mas, pasti mau membuatkan adik untuk anak kita yang telah tiada kan," imbuh Mita dan langsung Ibra menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Boleh Mas, tapi di kamar saja ya Mas, jangan di sini soalnya Mita malu."
"Tentu saja sayang," balas Ibra sembari menggendong istrinya menuju ke ranjang milik mereka berdua.