
"Maafkan aku Anya, aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba bisa di atas tubuhku, maaf aku mendorong mu hingga menjadi seperti ini," ucap Arya dengan sesalnya karena tidak sengaja mendorong Anya.
Dengan tangan yang masih bergetar, Arya mencoba mengetik pesan yang ditujukan untuk Tante Rina, bahwasanya mengabarkan kematian anaknya.
...Isi Pesan....
..."Tante, maaf kan Arya yang secara tidak sengaja menyebabkan anak Tante kehilangan nyawanya, sekarang jenazah Anya berada di rumah sakit X X X Tan."...
"Sudah terkirim, semoga saja Tante Rina melihat isi pesanku," batin Arya dalam hati dan setelahnya langsung mengabari pihak rumah sakit untuk segera membersihkan jenazah Anya.
Sementara itu, Tante Rina yang baru sampai di rumah Arya, langsung menggedor-gedor pintu rumahnya hingga membuat bising di telinga Mila.
"Duh, siapa sih malam-malam begini mengetuk pintu sampai membuat berisik, apa jangan-jangan Mas Arya ya, karena baru pulang kerja," ujar Mila dan segera membuka pintu rumahnya.
Tanpa menoleh ke depan, Mila langsung mengomel begitu saja, seolah-olah yang membuat berisik adalah Arya.
"Mas, bisa enggak sih jangan ketuk pintu keras-keras," omel Mila yang tidak tahu kalau yang sedang berdiri dihadapannya adalah Tante Rina.
"Diam lah, sekarang kasih tahu aku dimana Arya sekarang?" tanya Tante Rina dengan nada ketus.
"Hah, aku pikir Mas Arya yang mengetuk pintu tadi, rupanya Tante, kalau mencari Mas Arya ya Mila enggak tahu Tan, kan Mila pikir tadi yang mengetuk pintu Mas Arya," jelas Mila yang membuat Tante Rina meradang.
"Ck, enggak usah alasan kamu, sekarang dimana Arya, dimana dia membawa anakku!" tegas Tante Rina.
__ADS_1
"Anak Tante, memangnya Arya membawa Anya, kan tidak mungkin," jawab Mila yang masih belum paham akan ucapan Tante Rina.
"Ck, sudahlah kalau kau juga tidak tahu, tapi asal kamu tahu ya kalau sebenarnya Arya itu sudah," terpotong ucapannya karena mendengar notifikasi pesan masuk di ponsel miliknya.
Saat membuka isi pesan tersebut, Tante Rina syok berat mendapatkan pesan kalau anaknya sudah tidak bernyawa dan tentu saja membuatnya langsung pingsan seketika di tempat.
"Tante Rina, Tante kenapa," ujar Mila yang kelimpungan melihat Tante Rina yang tiba-tiba saja pingsan dan mencoba meminta tolong orang-orang setempat yang ada disekitar pemukiman rumahnya.
Saat Tante Rina dibawa masuk ke dalam, tanpa Mila sengaja, dirinya melihat ponsel milik Tante Rina dan alangkah terkejutnya mengenai isi pesan yang ada di ponsel milik Tante Rina, terutama isi tersebut mengenai kematian Anya dan lebih mengejutkan nya lagi ternyata sang pengirim pesan adalah Arya, suaminya.
"Jangan-jangan, Tante Rina pingsan gara-gara pesan ini, lebih baik aku bawa Tante Rina sekalian untuk ke rumah sakit tersebut," imbuh Mila dan meminta tolong lagi kepada orang-orang yang ada di sekitar kompleknya untuk membantu mengangkat Tante Rina menuju mobilnya dan meninggalkan Andrew serta Syifa yang masih tidur di dalam rumah.
Saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, ternyata Tante Rina sudah sadar dari pingsannya.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Mila dan Tante Rina sampai di rumah sakit tempat yang ditunjukkan oleh pesan Arya.
Dengan langkah yang terkesan terburu-buru, akhirnya Mila dan Tante Rina sampai di ruang jenazah Anya. Dimana saat ini, terlihat di dalam ruangan tersebut sudah ada Arya yang tampak sudah acak-acakan sambil menatap dalam ke arah jenazah Anya.
Melihat bagaimana tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa dan terbujur kaku, membuat tangisan Tante Rina pecah seketika, apa lagi saat ini dirinya tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya sudah tidak bernyawa.
"Sayang bangun, jangan membuat Mama khawatir, ayo dong sayang bangun," ucap Tante Rina dengan pilu sambil menggoyangkan ranjang anaknya.
Suasana haru tersebut, membuat Arya kembali menangis sambil memukul-mukul kepalanya menggunakan kedua tangannya, hingga membuat Mila mencoba menenangkan suaminya, walaupun dirinya sendiri masih belum tenang dan belum menerima kenyataan kalau ternyata penyebab kematian Anya adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
"Sudah Mas, jangan menyakiti diri sendiri," imbuh Mila sembari mengusap punggung Arya. Hingga akhirnya Arya sedikit tenang dan langsung bersimpuh di bawah kaki Tante Rina.
"Tan, maafkan Arya karena tidak sengaja mendorong Anya," ucap Arya sembari memegang kaki Tante Rina yang membuat Tante Rina langsung menoleh ke arahnya dan menatap benci Arya.
"Tidak ada kata maaf untuk pembunuh seperti kamu Arya, pokoknya kamu harus bertanggung jawab karena sudah berani menghabisi nyawa anak saya!" bentak Tante Rina seraya menendang Arya menggunakan kakinya.
Keesokan harinya, jenazah Anya sudah mulai dimakamkan di tempat pemakaman umum. Dimana, pihak keluarga dari Tante Rina lah yang mengurus pemakaman tersebut, karena dari hari kemarin Tante Rina masih syok dan terlihat depresi atas kepergian Anya untuk selamanya.
Sedangkan untuk pihak dari keluarga Arya, juga ikut melihat pemakaman tersebut, apa lagi kedua orang tua Arya juga ikut syok mendengar berita kematian Anya yang ternyata secara tidak sengaja nyawanya dihilangkan oleh Arya, anak mereka sendiri.
Sekarang, saat mereka masih berada di pusara Anya, dapat mereka dengar bahwa ada seorang wanita yang berteriak mendekat ke arah mereka yang tak lain adalah Tante Rina.
Dengan penampilan lusuh, Tante Rina mendekati pusara anaknya, bahkan tak luput dari perhatian orang-orang yang berada disekitarnya, bagaimana pilu nya Tante Rina menangisi kepergian Anya.
"Sayang, jangan tinggalkan Mama sendiri di sini, kenapa kamu tidak ajak Mama sekalian sayang, tolong bawa Mama, karena Mama hanya punya kamu satu-satunya," imbuh Mama Rina dengan derasnya air mata yang mengalir disudut kedua matanya.
Saat Tante Rina masih menangis di atas pusara anaknya, secara tidak sengaja Tante Rina melihat Arya yang juga berada di tempat itu, hingga kesedihan yang semula Tante Rina rasakan, berubah menjadi nyala api yang berkobar hingga menyulut emosinya yang akan dia tumpahkan ke satu orang yang tak lain adalah Arya, sahabat anaknya.
Tanpa aba-aba, Tante Rina langsung berlari ke arah Arya sembari meneriakinya dengan sebutan pembunuh.
"Dasar pembunuh kamu Arya, kamu sudah membunuh putriku satu-satunya, pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas kematian anakku, pembunuh!" teriak Tante Rina seperti orang yang kesurupan, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya, langsung mencoba untuk menenangkan Tante Rina.
Sementara Arya yang diteriaki pembunuh, hanya diam di tempat sembari menerima cacian dan pukulan dari Tante Rina.
__ADS_1
Arya sadar, bahwa dirinya lah penyebab kematian Anya, hingga nantinya juga Arya akan bertanggung jawab dengan menyerahkan diri ke kantor polisi. Dirinya sudah pasrah akan menerima hukuman yang nantinya akan dia dapatkan dari hasil sidang pengadilan.