
"Ayo anak-anak, kita makan siang habis itu baru ke rumah Mama," ucap Ibra kepada Andrew dan Syifa.
"Iya Yah," jawab keduanya dan setelah itu makan bersama di ruang makan. Setelah selesai makan, kemudian Ibra membawa kedua anaknya pergi ke rumah Mila dan sebisa mungkin nantinya Ibra sedikit kontak langsung dengan Mila, agar Ibra bisa ikhlas melepaskan Mila dari hidupnya.
"Mama," seru Andrew dan juga Syifa, setelah itu keduanya memeluk Mila dengan sangat erat.
"Aduh, sayang sayangnya Mama baru sampai ya, ayo Andrew sama Syifa ikut Mama masuk ke dalam, kita akan segera berkemas karena mau pindah ke rumah Ayah Arya," ucap Mila dan setelahnya masuk ke dalam meninggalkan Ibra dan Arya di luar.
"Bagaimana malam pertamamu dengan Mila, apakah kalian sudah," terpotong ucapannya.
"Ya, kami sudah melakukannya, bahkan berkali-kali Pak Ibra, ternyata mantan istri Anda sangat candu untuk saya dan oh iya, menurut saya tidak etis jika Pak Ibra menanyakan privasi orang lain, jadi kedepannya jangan menanyakan hal yang kira-kira itu adalah privasi orang ya Pak, awas jatuhnya nanti kepo akan urusan pribadi orang lain," jelas Arya yang terlihat tidak suka saat Ibra membicarakan malam pertamanya dengan Mila.
Setelah pembicaraan itu, Arya dan Ibra masuk ke dalam rumah Mila dan membantu Mila untuk mengemas barang-barang yang akan dibawa ke rumah barunya.
"Sepertinya sudah semua barang dibawa, terima kasih ya Mas Arya dan Mas Ibra mau membantu Mila mengemas barang-barang Mila dan juga barang anak-anak."
"Tidak masalah Mil, kan sekarang aku adalah suami kamu," jawab Arya dengan menekan kata suami sehingga dapat didengar baik oleh Ibra.
"Iya, apa lagi Andrew dan Syifa adalah anak kita," balas Ibra yang menekan kata anak kita, sehingga membuat keduanya saling beradu pandang.
Melihat suasananya menjadi canggung, Mila buru-buru mencari topik lain agar Arya dan Ibra tidak sampai membuat keributan.
"Oh iya, ini barang-barang yang Mila bawa kan cukup lumayan banyak Mas, mungkin Mila minta tolong ke Mas Ibra juga untuk membawakan barang anak-anak ya Mas," ucap Mila seraya menatap ke arah Ibra.
__ADS_1
"Tenang saja Mil, barang anak-anak enggak apa-apa kok kalau Mas yang membawanya, apa lagi Mas suka jika ada yang butuh pertolongan Mas," jawab Ibra dengan senyum penuh kemenangan sehingga membuat Arya menatap Ibra dengan jengkel.
Namun, sejurus kemudian Arya tampak tersenyum licik sembari menatap Ibra dengan mengejek.
"Sayang, kenapa enggak semua saja barang-barang kamu dibawa ke dalam mobil Pak Ibra, biar kamu dan anak-anak naik ke mobilku saja, kan Pak Ibra suka membantu orang, berarti Pak Ibra tidak repot dong kalau membawa barang-barang kamu dan anak-anak, benarkan Pak Ibra?" tanya Arya dengan seringai tipisnya.
"Eh anu, iya enggak apa-apa, semua saja dibawa ke dalam mobilku," jawab Ibra dengan terpaksa, sebab jika Ibra menolaknya pasti dirinya menjadi buruk di mata Najwa, ralat maksudnya buruk di mata Mila.
"Terima kasih ya Mas Ibra, maaf Mila jadinya merepotkan Mas."
"Tidak apa-apa kok Mil," ucap Ibra dengan senyum yang dipaksakan sembari hatinya menyumpahi Arya, sebab karenanya lah semua barang-barang berada di dalam mobil miliknya.
Setelah selesai berkemas, sekarang Mila, Arya, Ibra dan kedua anaknya langsung pergi menuju ke rumah barunya yaitu rumah Arya yang telah dibeli sebagai hadiah pernikahannya untuk Mila.
Sepanjang perjalanan, tampak Ibra selalu menatap ke arah mobil milik Arya.
Sekitar dua jam, barulah sampai di rumah Arya, dimana waktu dua jam adalah waktu yang sangat lama menuju ke rumah baru mereka yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari rumah lama Mila.
Arya memang sengaja melajukan mobilnya dengan sangat lambat, agar bisa berlama-lama dengan Mila dan kedua anak tirinya, sehingga Arya dapat memanasi Ibra yang berada di belakang mobilnya.
Saat ini, di depan mereka tampak sebuah rumah mewah berwarna putih milik Arya dan juga Mila, sebab rumah tersebut adalah hadiah pernikahan untuk keduanya.
"Mas, rumah ini punya kita kah, Mas tidak salah kan?" tanya Mila untuk memastikan rumah yang ada di depannya adalah milik mereka.
__ADS_1
"Iya sayang, ini adalah rumah untuk keluarga kecil kita, jadi rumah ini adalah hadiah pernikahan untuk kita yang Mas beli secara diam-diam, sebagai kejutan untuk kamu dan juga anak-anak," sahut Arya.
"Mas, tapi ini sangat besar, bahkan saat aku dengan Mas Ibra saja rumah kami tidak sebesar ini," ucap Mila dengan kelepasan bicaranya, sehingga Mila langsung dengan cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya sembari melirik ke arah Ibra.
"Hei, kenapa melihat ku Mil, aku tidak apa-apa kok, memang benar apa yang kamu katakan kalau rumah ini lebih besar dibandingkan dengan rumah kita yang dulu," seru Ibra dengan senyum palsunya yang membuat Arya lagi dan lagi menyeringai tipis sembari mengejek ke arah Ibra tanpa sepengetahuan Mila dan kedua anaknya.
"Oh iya Mil, ini barang-barang mau dimasukkan dimana, biar Mas yang masukkan nanti dibantu sama Pak Arya," ucap Ibra yang langsung membuka suara terkait barang-barang yang ada di dalam mobilnya sekaligus agar Arya tidak berlama-lama mengejek dirinya.
"Oh, semua barang-barang itu biar Mas Arya saja yang mengaturnya, Mila hanya ikut saja," jawab Mila dan setelahnya Arya membantu Ibra mengeluarkan seluruh barang-barang bawaannya untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
Hampir semua barang yang dibawa termasuk barang terakhir yang saat ini dibawa oleh Arya dan juga Ibra, beberapa kali Arya kerap kali selalu menyindir Ibra tentang Mila yang hidup bersamanya, dimana Arya menyindir Ibra lewat kata-katanya yang sedikit pedas untuk di dengar. Namun, walaupun begitu Ibra masih tetap sabar menghadapi Arya, tapi sedetik kemudian, kesabaran Ibra sudah setipis tisu yang jika dibakar oleh api, maka sudah habis tak bersisa.
"Untung Mila dengan saya ya Pak Ibra, jadi bisa saya jamin kalau hidup Mila pasti akan lebih bahagia," kata Arya menyindir Ibra.
"Pak Arya, sudah bisakah Anda berhenti berbicara, apa Bapak tidak lelah menyindir saya terus, sedari tadi saya diam karena sabar, namun jika diungkit terus maka kesabaran saya pun sudah habis, coba Anda pikir, kalau hubungan saya dan Mila baik-baik saja, mungkin Anda tidak akan menikahinya bukan, jadi bersyukurlah sehingga Mila berada di sisi Anda Pak Arya dan seharusnya Anda berterima kasih kepada saya, sebab karena saya menalak Mila, sehingga Anda bisa bersamanya," jelas Ibra yang membuat Arya langsung terdiam dan tidak lagi mengeluarkan kalimat-kalimat menyindir yang ditujukan untuk Ibra.
Setelah semua barang selesai dimasukkan dan ditata rapi, barulah Ibra berpamitan untuk pulang.
"Mila, aku izin pulang dulu ya, maaf tidak bisa berlama-lama di sini," ungkap Ibra.
"Ya, baru saja Mila mau membuatkan minum untuk Mas Ibra dan Mas Arya, malah Mas Ibra langsung pulang, ya sudahlah kalau begitu Mas hati-hati di jalan ya."
"Iya Mil," jawab Ibra dan setelahnya berpamitan ke Andrew dan Syifa, serta kepada Arya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan Pak Ibra dan terima kasih karena berkat Anda, saya bisa bersama Mila."
"Hmm," gumam Ibra yang tidak mau melawan ucapan Arya dan setelahnya langsung melajukan mobilnya keluar dari lingkungan rumah Arya dan Mila.