Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Rencana Lea


__ADS_3

Suara Ibra yang membentak Lea, ternyata sampai juga di telinga Mita dan Nek Ijah, dimana sedari tadi pagi saat Mita bangun, dirinya sudah berada di halaman bersama dengan Nek Ijah, untuk melakukan penyegaran sekaligus berjemur di bawah sinar matahari pagi.


"Ada apa Mas, kenapa pagi-pagi Mas sudah ribut begini?" tanya Mita.


"Tanyakan saja kepada pembantu ini, karena Mas pikir kamu yang memasak makanan untuk Mas, eh rupanya malah dia, jadinya Mas mengira kalau dia itu kamu," jelas Ibra yang masih kesal dengan Lea.


"Oh iya kah Mas, padahal kemarin aku sudah mengatakan ke Lea loh kalau semua yang terkait dengan masak memasak, biar itu menjadi urusanku," jawab Mita yang membuat Lea semakin menunduk ketakutan.


Apa lagi sedari tadi Ibra terus menatapnya dengan tatapan tajam.


"Nah dengar itu, istriku sudah bilang, kalau urusan masak memasak memang sudah tugasnya, jadi kamu jangan sok memasak untukku, karena aku tahu kalau masakan kamu itu tidak sebanding dengan istriku ini," ucap Ibra sembari merangkul Mita dengan sangat erat.


Hingga membuat api cemburu Lea menyala, apa lagi jika dilihat semakin detail, Lea sedari tadi sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Ya, Lea emosi tapi bukan emosi akibat dimarahi Ibra. Melainkan, Lea emosi karena Ibra yang merangkul Mita dengan sangat mesra.


"Mas, sudah ya mungkin Lea lupa Mas," ucap Mita yang lagi dan lagi tak enak hati dengan Lea.


"Hmm, oh iya sayang, sekarang kamu saja ya yang masak, aku sudah lapar loh," ujar Ibra dengan membawa tangan Mita mengelus ke arah perutnya.


"I-iya Mas, ini aku akan memasak," balas Mita dengan wajah bersemu merah akibat menahan malu dan buru-buru mengambil bahan-bahan masakan lagi dari dalam kulkas.


Sedangkan Lea yang terlihat bengong seperti itu, langsung mendapatkan senyuman sinis dari Ibra.


"Hei Lea, kau pikir aku tidak tahu niat tersembunyi mu yang ingin merusak pernikahan kami, jangan kau pikir aku lugu seperti Mita yang kau manfaatkan ya," ujar Ibra kembali dan setelah itu meninggalkan Lea dan menghampiri Mita.


"Sial, sepertinya suami Mita tahu saja kalau aku ingin mendekatinya," batin Lea dalam hati dan secepat mungkin meninggalkan dua sejoli itu di dapur dengan perasaan marah.


Setelah redam keributan pagi ini, hingga sampailah pada malamnya dan saat ini adalah saat-saat yang ditunggu oleh Lea.


Ya, malam ini Lea akan mencoba merencanakan sesuatu kepada Mita dan juga Ibra.


Melihat Mita yang masih berada di ruang tamu sendirian membuat Lea buru-buru datang menghampirinya.


"Mita," sapa Lea.

__ADS_1


"Iya kenapa Lea?" tanya Mita


"Ini aku ada membuatkan wedang ronde kesukaan kamu dan ini aku membuatkan juga untuk suami kamu, aku letakkan di sini saja ya, soalnya ini wedang ronde khas dari desa kita," jawab Lea dan disambut anggukan kepala oleh Mita.


"Terima kasih ya Lea, kamu orangnya pengertian, apa lagi saat ini pas dengan cuaca yang dingin, jadi memang enak untuk minum yang hangat-hangat," ucap Mita.


"Iya tidak apa-apa, kalau begitu aku ke belakang dulu ya."


"Iya Lea," balas Mita dan kembali menonton drama korea nya di ruang tamu.


Setelah dipastikan dirinya menata tempat minumnya dengan pas, sekarang Lea tinggal menunggu beberapa waktu untuk melihat reaksinya.


"Duh, tidak sabar ingin melihat rencana ku yang akan berhasil ini," batinnya dalam hati seraya mengintip di balik tembok.


Kembali dengan Mita yang sedang asyik menonton, tiba-tiba dirinya didatangi oleh Ibra, bahkan Ibra sekarang langsung duduk di sebelah Mita sembari memeluk erat Mita dengan tangan kirinya.


"Mas, kenapa kamu peluk aku sih, biasanya juga enggak kayak gini," imbuh Mita, namun masih dengan menatap layar televisi nya.


"Tidak apa-apa, Mas hanya ingin memeluk kamu saja."


"Benarkah, kalau begitu Mas cicipi ya, soalnya Mas belum pernah meminumnya."


"Iya Mas, ayo kita minum bersama," balas Mita dengan sedikit antusias.


Glek, suara Mita dan Ibra yang minum wedang ronde itu secara bersamaan.


Setelah beberapa menit mereka minum bersama, tiba-tiba saja kepala Mita sedikit pusing, hingga tak beberapa lama tiba-tiba Mita tidak sadarkan diri.


Sedangkan untuk Ibra sendiri, Ibra tubuhnya seakan-akan merasakan hawa terbakar dan membuatnya mulai sedikit demi sedikit melepaskan pakaian yang dia kenakan.


Melihat jika Ibra dan Mita sudah terkena efek minuman tersebut, maka Lea buru-buru datang menghampiri mereka, ralat maksudnya adalah menghampiri Ibra dengan sedikit memakai pakaian terbukanya.


"Duh, sayang kenapa kamu bisa pingsan dan ah panas sekali rasanya tubuhku," ucap Ibra yang masih melepaskan pakaiannya.

__ADS_1


"Pak Ibra, kenapa Bapak melepaskan pakaian Bapak, lebih baik sini aku bantu Bapak," imbuh Lea dan mencoba mendekati ke arah Ibra.


"Stop, jangan mendekat ke sini wanita murahan, aku tahu pasti kamu kan yang membuat minuman ini dengan meletakkan sesuatu di dalamnya!" marah Ibra.


"Benar sekali Pak, tepat dugaan Anda, tapi Pak dari pada Bapak marah-marah mending kita have fun saja sembari," terpotong ucapannya karena langsung dipukul tengkuknya oleh Ibra hingga pingsan.


"Ck, kau pikir aku mau menghabiskan malam pertama ku dengan wanita seperti mu, lebih baik aku menghabiskannya dengan Mita," seru Ibra dan setelahnya membawa Mita ke dalam kamar tidur mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Ibra langsung menggagahi Mita yang masih dalam keadaan pingsan.


Sekali, dua kali bahkan berkali-kali Ibra menggagahi istrinya sampai dirinya sudah mencapai puncak dan langsung menumpahkan lahar putihnya ke dalam rahim Mita.


"Ah, akhirnya aku puas juga, terima kasih ya sayang untuk malam ini, maafkan aku yang tidak meminta persetujuan dari mu," ucap Ibra pelan, seraya mengecup kening Mita dan setelahnya langsung tidur dengan saling berpelukan.


Keesokan paginya, terlihat Mita mulai terbangun dari tidurnya karena merasa ada sesuatu yang berat, sedang menimpanya.


"Duh, berat banget sih, ini juga kenapa kakinya menimpa pinggul ku sih," keluh Mita dan saat membuka matanya, Mita terkejut bukan main, karena dirinya terlihat polos, begitu juga dengan sang suami yaitu Ibra yang sama polosnya dengan dirinya.


"Jangan-jangan, kami melakukan itu lagi," ucap Mita sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Ti-tidak, ini tidak mungkin," sambung Mita menggelengkan kepalanya dan mencoba bangkit. Namun, baru saja Mita bangkit, tiba-tiba dirinya menjerit kesakitan.


"Sakit!" ucap Mita sembari memegang area bawah miliknya, hingga membuat Ibra langsung terbangun dari tidurnya.


"Duh, kenapa sih ribut-ribut," kata Ibra sembari mengucek kedua matanya.


"Bagian ini sakit sekali Mas," tunjuk Mita ke arah bagian sensitifnya.


Sehingga membuat Ibra terperangah sembari meneguk air liurnya.


"Glek," suara air liur Ibra yang dia teguk sendiri.


"Maaf ya, soalnya tadi malam Mas tidak sengaja," imbuh Ibra yang membuat Mita menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Maksud Mas?" tanya Mita.


"Sebenarnya, kemarin malam kita melakukan penyatuan itu karena memang ketidaksengajaan, sebab Lea teman kamu," terpotong ucapannya karena ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


__ADS_2