Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Mulai Mengawasi


__ADS_3

Ibra yang telah kembali di kamarnya, masih teringat akan ucapan Arya, apa lagi ucapan Arya sama persis seperti ayahnya.


"Huh, apa iya aku bisa mengikhlaskan Mila begitu saja untuknya, tapi kenapa rasanya sulit sekali, bahkan setiap Mila berdekatan dengan pria itu, di sini rasanya sangat sakit," tunjuk Ibra ke arah jantungnya sendiri.


Akhirnya, setelah bergelut dengan pikirannya, Ibra memutuskan hendak tidur saja, ya walaupun matanya masih tidak mau untuk terpejam.


Keesokan harinya, tampak Mila tengah bersiap-siap dengan pakaian kerjanya untuk meninjau ulang proyek pembangunan di wilayah B. Apa lagi saat ini, Mila yakin dan percaya akan bisa menyelesaikan permasalahannya hari ini juga.


Saat ke arah ruang Pantry, Mila tidak sengaja berpapasan dengan Ibra. Dapat Mila lihat kalau saat ini Ibra masih terlihat lusuh, dimana wajahnya terlihat pucat dengan lingkaran mata yang tercetak jelas berwarna hitam, persis seperti orang yang terkena insomnia atau orang yang sulit untuk tidur.


"Mas, wajah kamu kenapa, apa kamu kurang tidur Mas?" tanya Mila.


"Eh aku, anu kemarin tidak bisa tidur ya karena kebanyakan mabuk kopi, jadinya semalaman tidak tidur Mil," jawab Ibra yang tak lupa menyematkan senyuman lebarnya.


"Kalau Mas merasa masih kurang fit, lebih baik biar Mila sama Mas Arya saja yang meninjau proyek itu, Mas di sini saja istirahat yang cukup," saran Mila yang membuat Ibra terharu sekaligus merasakan perasaan yang aneh, karena kali ini jantungnya berdebar dengan cepat. Ibra terharu karena Mila masih memikirkan kondisinya walaupun saat ini mereka sudah tidak berstatus hubungan suami istri lagi.


"Tidak apa-apa Mil, Mas masih sanggup kok kalau untuk meninjau ulang proyek itu, bahkan Mas pernah tidak tidur selama tiga hari karena gara-gara pekerjaan dan ya syukur nya Mas masih tetap sehat," jelas Ibra yang sebenarnya dirinya tidak mau kalau hanya Arya dan Mila saja yang berduaan meninjau proyek tersebut dan pastinya Ibra tidak akan membiarkan mereka terus berdekatan.


"Iya sudah kalau Mas memang sanggup, nanti kalau sampai di sana tidak sanggup ya jangan dipaksakan Mas, oh iya sekarang kita makan saja yuk di pantry," seru Mila dan segera Ibra mengikuti Mila dari belakang untuk mengambil sarapan pagi.


Tak berlangsung lama mereka makan, tiba-tiba Arya juga sudah berada di tempat tersebut dan ikut gabung ke dalam meja Mila dan juga Ibra.

__ADS_1


"Sayang, kenapa sih enggak membangunkan Mas kalau kamu mau sarapan, kan kita bisa sarapan berdua," ucap Arya.


"Mila pikir tidak enak Mas, kalau membangunkan Mas tidur, jadinya Mila ke pantry sendiri dan ternyata jumpa dengan Mas Ibra, ya akhirnya kami makan bareng," jelas Mila yang tidak ingin membuat prasangka buruk ke Arya karena dirinya yang makan bersama dengan Ibra, sang mantan suami.


Sekarang, jadilah Mila, Arya dan Ibra sarapan bertiga, dimana yang semula Mila yang duduknya berdekatan dengan Ibra, kemudian beralih duduknya dekat dengan Arya, sebab Arya menyuruh Mila untuk pindah karena saat ini terlihat kalau Arya sedang cemburu buta dengannya.


Selesai dengan makannya, kemudian Mila, Arya dan Ibra langsung bergegas menuju ke lokasi pembangunan proyek hotel yang mengalami kendala tersebut. Dimana, setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di lokasi proyek pembuatan hotel.


"Bagaimana Pak, kira-kira sudah berapa persen progres penyelesaian pembangunan hotel ini?" tanya Mila ke mandor bangunan.


"Masih sekitar lima puluh persen Bu, soalnya hari ini banyak beberapa pekerja yang mengundurkan diri karena beralih ke pembangunan hotel perusahaan sebelah, selain itu saya sudah memesan beberapa bahan bangunan seminggu yang lalu, namun nyatanya sampai saat ini belum datang-datang juga Bu dan alhasil membuat pekerja yang lain hanya bisa bersantai saja sembari menunggu bahan-bahan bangunan sampai," jelas Mandor tersebut yang membuat Mila, Arya dan Ibra mengernyitkan dahi, sebab yang mereka ketahui bahwa dilaporan yang mereka terima kalau saat ini untuk semua bahan-bahan bangunan dan lain-lainnya masih aman.


Setelah mendengarkan perkataan dari mandor tersebut, baik Mila, Arya dan Ibra kembali memikirkan terkait laporan tersebut dan mereka dapat menarik kesimpulan. Bahwa telah terjadi manipulasi terkait isi dokumen tersebut.


"Pak Ibra, sebelumnya saya mohon maaf, sepertinya isi dari dokumen kemarin sepertinya telah dimanipulasi, dan dugaan saya mengarah ke," terpotong ucapan Mila.


"Dugaan kamu mengarah ke Sekretaris Han bukan," timpal Ibra.


"Benar Pak," jawab Mila.


"Kalau untuk Sekretaris Han, rasanya tidak mungkin dia melakukan perbuatan seperti itu, karena saya sudah lama mengenal Sekretaris Han."

__ADS_1


"Tapi kan bisa saja Pak Ibra, walaupun sudah lama Bapak mengenalnya belum tentu sifatnya tahu luar dalam, seperti waktu saya yang Bapak ceraikan secara tiba-tiba," ucap Mila yang kelepasan akan kata-katanya, sehingga Mila langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Mendengar perkataan Mila, membuat Ibra langsung berubah raut wajahnya, dimana saat ini terlihat raut wajah Ibra menjadi sendu setelah mendengarkan perkataan Mila yang mungkin dia tahu kalau Mila kelepasan dalam bicaranya.


"Maaf Pak Ibra, bukan maksud saya seperti itu," imbuh Mila yang merasakan perasaan bersalah, apa lagi Mila menyinggungnya tepat dihadapan Ibra.


"Iya saya tahu," balas Ibra dengan singkat.


Melihat suasananya yang tidak kondusif, membuat Arya yang berada di tengah-tengah mereka, langsung mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.


"Nah, karena sekarang kita sudah tahu masalahnya apa, lebih baik kita selidiki lebih mendalam, terutama masalah bahan-bahan kita yang sampai saat ini belum sampai dan juga masalah pekerja yang tiba-tiba saja pindah ke proyek kompetitor," kata Arya yang mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.


"Nah, benar apa kata Pak Arya, kalau begitu lebih baik kita bagi tugas saja, dimana ada yang mengawasi proyek ini dan satu lagi mengawasi proyek sebelah, karena dikhawatirkan kalau proyek sebelah berani bermain curang," ucap Mila yang mendapatkan anggukan dari Arya dan juga Ibra sebagai tanda setuju atas apa yang dikatakan oleh Mila.


"Baiklah, kalau begitu saya dan Pak Arya yang mengawasi proyek kompetitor sebelah dan kamu Mila, berjaga di proyek kita ini dan untuk Pak Suhendra selaku mandor di sini, tolong jaga Bu Mila," jelas Ibra yang membuat Mila, Arya dan Suhendra kembali mengangguk setuju.


Sementara itu, di sisi lain, terlihat bahwa ada beberapa orang yang mengawasi kegiatan Mila, Arya dan juga Ibra.


"Bos, sepertinya mereka sudah mencium rencana kita Bos, menurut Bos rencana apa yang harus kita lakukan selanjutnya," ucap salah seorang yang mengawasi Mila, Arya dan Ibra dari balik pohon.


"Ck, kita tidak perlu rencana, tapi biarkan kita memberikan umpan kepada mereka, setelah mereka memakan umpan kita, maka disaat itulah kita menghabisi mereka semua," ucap orang misterius yang ikut mengawasi di balik pohon besar yang ada di dekat proyek pembangunan hotel tersebut.

__ADS_1


__ADS_2