Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Kedatangan Lea


__ADS_3

Setelah kemarin siang Mita mendapatkan persetujuan untuk memperkerjakan Lea, maka sekarang Mita sedang menunggu kedatangan Lea, karena hari ini juga Lea berangkat dari kampungnya menuju ke rumah Mita dan Ibra.


"Kenapa dia belum sampai-sampai juga ya," ujar Mita pelan sembari melirik ke arah halaman rumahnya.


Tak berapa lama setelah Mita melirik ke arah luar halaman rumahnya, dia melihat sebuah angkot yang tepat berhenti di depan teras rumahnya dan dapat Mita tebak, kalau yang keluar dari angkot tersebut adalah Lea, sahabatnya sendiri.


Lea keluar dengan membawa banyak sekali barang-barang bawaannya seperti tas ransel, koper, dan juga beberapa kardus yang dia pegang di sisi kiri dan kanan tangannya.


"Lea, banyak sekali barang-barang bawaan mu," ucap Mita yang membuat Lea hanya merunduk malu.


"I-iya, maklumlah soalnya aku banyak bawa oleh-oleh dari kampung nih untuk kamu, buka saja isi kardus yang aku bawa," balas Lea yang kemudian menyerahkan kardusnya ke Mita.


"Wah, terima kasih banyak ya Lea, ayo silakan masuk dulu, biar aku buatkan kamu minum," ajak Mita untuk masuk ke dalam rumahnya.


Kemudian keduanya bersama-sama masuk ke dalam rumah Mita.


Lea yang baru masuk ke dalam rumah Mita, sudah disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa, dimana Lea melihat jika bangunan sekaligus isi rumah Mita sangatlah mewah, dengan beberapa furniture yang sudah dipastikan sangat lah mahal harganya.


"Mita, rumah mu bagus sekali, beda dengan yang dulu, lihatlah semuanya tampak begitu mewah, kamu memang benar-benar beruntung telah menikah dengan duda kaya," ucap Lea yang masih menatap seisi rumah Mita dengan tatapan penuh kekaguman.


"Ah kamu bisa saja Lea, oh iya aku tinggal ke dapur dulu ya mau buatkan minuman untukmu," ujar Mita yang dibalas anggukan oleh Lea.


"Duh, beruntung sekali Mita bisa menikah dengan duda kaya, sehingga dia bisa menikmati semua kemewahan ini, andaikan aku yang menggantikan nasibnya, pasti aku sangat beruntung sekali," batin Lea dalam hati. Hingga tak berapa lama kemudian, Mita telah kembali dengan membawa segelas teh hangat untuk Lea.


"Ini diminum dulu, biar hangat badanmu Lea."


"Iya, terima kasih ya Mita, memang kamu adalah sahabat yang paling pengertian," balas Lea dan segera menyeruput segelas teh yang telah dibuat oleh Mita.

__ADS_1


Saat Mita dan Lea duduk bersama di ruang tamu, dari arah pintu masuk, terlihat Ibra yang baru pulang dari kerjanya dan segera melewati Mita dan juga Lea.


"Mas, kok nyelonong gitu sih masuknya, biasa Mita salim dulu tangan Mas."


"Oh iya, sini salim tangan Mas dulu," ucap Ibra dan segera Mita meraih tangan Ibra untuk dia cium.


"Mas, kenapa cepat sekali pulangnya, biasanya kan sampai sore?" tanya Mita hanya sekedar basa basi dengan suaminya.


"Biasa, pekerjaan Mas hari ini tidak terlalu banyak dan itu siapa, pembantu yang mau bekerja di rumah kita ya" ujar Ibra dengan menekan kata pembantu sehingga membuat Lea hanya terdiam saja di tempat duduknya.


"Hus, jangan begitu Mas, Lea ini kerja sebagai asisten rumah tangga kita kok."


"Ck, sama saja sayang, asisten rumah tangga ya pembantu juga kan, ya sudahlah Mas mau ke atas dulu mau bersih-bersih, sudah lengket semua nih badan Mas."


"Iya Mas," jawab Mita dan kemudian melirik ke arah Lea, karena Mita tak enak hati atas ucapan suaminya.


"Maafkan suamiku ya Lea, dia memang suka begitu, asal ceplos saja tanpa di filter ucapannya."


"Sial, mulut suami Mita ternyata pedas juga, tapi tidak apa-apa, aku lihat-lihat suami Mita tampan juga, sepertinya aku bisa merebutnya dari tangan sahabatku ini, secara kan aku lebih cantik dan bohay dari dia," batin Lea dengan penuh percaya diri jika dirinya mampu merebut Ibra dari tangan Mita.


"Oh iya, ngomong-ngomong dimana kamarku?" tanya Lea yang sepertinya sudah tidak tahan mendengarkan ocehan Mita yang sedari tadi terdengar berisik di telinganya.


"Oh iya hampir lupa, kamarmu ada di bagian belakang, sini ikut aku," ajak Mita dan setelahnya Lea mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di kamar belakang, terlihat Lea membuka mulutnya lebar-lebar, sebab kamar yang dia miliki ternyata cukup baik, dimana kamar seluas tiga kali empat yang menjadi tempat tidurnya terlihat sangat bagus, apa lagi sudah tersedia kipas angin dan lemari pakaian yang membuatnya tak perlu bersusah payah lagi mencari tempat penyimpanan pakaian nya.


"Mita, ini benar kamarku kan," ucap Lea memastikan bahwa saat ini dihadapannya adalah kamarnya.

__ADS_1


"Iya benar, ini kamar kamu, memangnya kenapa, apa kurang nyaman kah Lea?" tanya Mita.


"Tidak, malah ini cukup nyaman untukku, lihatlah semua ini sangat bagus," sorak Lea yang membuat Mita hanya bisa ikut tersenyum saja melihat sahabatnya yang begitu antusias dengan kamarnya sendiri.


"Andai kamu tahu bagaimana bentuk kamar milikku, mungkin kamu sudah menjerit kuat Lea," batin Mita dalam hati.


"Oh iya, aku tinggalkan kamu dulu di sini ya Lea, soalnya aku mau melihat suamiku dulu."


"Iya, tidak masalah dan mungkin nanti aku bisa buatkan minuman untuk suami mu, seperti kopi sebagai ucapan terima kasih karena sudah menerimaku bekerja di sini," imbuh Lea.


"Tidak perlu Lea, karena aku yang akan membuatkan kopi untuk Mas Ibra, kalau begitu aku tinggal dulu," balas Mita dan setelahnya pergi dari kamar Lea.


"Ck, sombong sekali, padahal kan aku pengen lihat juga suaminya yang tampan, untung saja masih banyak waktu untukku melihatnya, apa lagi saat ini aku sudah diterima kerja di sini, otomatis pasti selalu melihat suami Mita," batin Lea dengan senyum menyeringai nya.


......................


Keesokan paginya, Ibra telah terbangun dari tidurnya dan bergegas pergi menuju ke arah dapur seperti biasa untuk menjahili istrinya yang sedang memasak makanan untuknya.


Tanpa aba-aba, Ibra langsung memeluk wanita yang dia yakini adalah istrinya dari belakang.


"Mita, kamu masak apa hari ini?" tanya Ibra sembari mengeratkan pelukannya.


"Maaf Pak, saya bukan Mita," ujar Lea yang ternyata dirinyalah yang sedang memasak di dapur.


"Hah, kenapa kamu yang ada di sini, memangnya dimana istriku!" bentak Ibra marah karena dirinya telah salah memeluk orang.


Bahkan dengan sedikit rasa jijik, Ibra langsung mengepakkan pakaiannya yang sehabis memeluk Lea dan setelah itu berkata kepada Lea dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ingat ya, kau di sini hanya bekerja untuk bersih-bersih saja, sedangkan yang memasak adalah istriku, karena hanya dia yang bisa membuat makanan lezat, apa kau paham!" ancam Ibra.


"Paham Pak," tunduk Lea dengan seluruh tubuh yang bergetar, sebab suami Mita ternyata sangat mengerikan saat sedang marah.


__ADS_2