Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Kecelakaan Mita


__ADS_3

Setipa harinya ada saja permintaan sang istri yang membuat Ibra hampir menyerah. Namun, selang beberapa bulan kemudian ngidam Mita telah hilang begitu saja dan sekarang sudah kembali normal kembali.


"Mas, siang nanti Mita belanja keperluan untuk bayi kita ya, entah kenapa Mita ingin sekali memesan banyak pakaian untuk bayi kecil kita, ini" ucap Mita sembari mengelus perut buncitnya.


"Tapi sayang, kan hari ini Mas lagi kerja, mungkin esok saja ya, biar kita belanjanya sama-sama," balas Ibra yang masih fokus dengan komputernya.


"Huh, tahu gitu lebih baik aku di rumah saja, dari pada di sini," sebal Mita yang diajak oleh Ibra ke dalam kantornya.


Hingga saat Mita sudah berada dibatas maksimal rasa bosannya, Mita langsung mencoba turun dan keluar dari kantor Ibra yang tanpa Mita sadari, kalau seseorang sedang memantau nya dengan senyuman sinis dan orang itu langsung mempercepat laju mobilnya, hingga akhirnya tak terelakkan lagi kecelakaan tersebut.


Braaak, suara mobil yang menghantam tubuh Mita hingga terpelanting sampai beberapa meter di jalan.


"Bagus, akhirnya selesai juga dan nanti pasti aku akan mendapatkan jatah dari dua wanita itu," batin si penabrak yang langsung melarikan diri.


Setelah kejadian kecelakaan itu, beberapa karyawan langsung menghampiri Mita yang kondisinya sudah tidak sadarkan diri lagi, hingga salah satu orang berinisiatif memanggil ambulans dan satunya lagi memanggil atasannya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karyawan Ibra langsung masuk begitu saja dan mengabarkan berita kecelakaan Mita.


"Apa, sekarang dimana istriku!", syok Ibra saat seseorang mengabari berita kecelakaan Mita.


"Istri Bapak sepertinya sudah dibawa oleh ambulans Pak." Balas karyawan tersebut dan bergegas Ibra keluar begitu saja dari ruangannya untuk mencoba mengikuti ambulans yang membawa istrinya.


Sementara itu, ambulans yang membawa Mita akhirnya sampai juga di dalam rumah sakit dan segera Mita mendapatkan penanganan secara intensif dari dokter yang merawatnya.


"Suster, cepat bawa beberapa kantong darah yang tersisa, sebab pasien saat ini sedang mengalami pendarahan!" ucap sang dokter dengan memerintahkan suster yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Jika saat ini para dokter dan suster sibuk menangani Mita, maka sebaliknya Ibra yang ternyata baru sampai di rumah sakit itu, langsung masuk begitu saja ke dalam ruang perawatan istrinya.


"Anda siapa Pak, kenapa masuk begitu saja ke dalam ruangan pasien kami?" tanya sang dokter, namun masih tetap fokus dengan penyumbatan pendarahan Mita.


"Sa-saya suaminya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ibra gagap.


"Tidak Anda lihat kah kami sedang ngapain saat ini, jadi tolong secepatnya Anda keluar dari ruangan ini, soalnya saya lagi menangani pasien yang sedang pendarahan ini!" tegas sang dokter yang membuat Ibra menuruti perintahnya dan segera meninggalkan ruang perawatan Mita.


"Sayang, semoga kamu tidak apa-apa, tolong bertahanlah," batin Ibra dalam hati dan segera mencoba menelepon kedua orang tuanya dan juga mengabarkan kepada Nenek Ijah terkait kondisi cucunya.


Setelah dirinya mengirimkan pesan kepada kedua orang tuanya dan juga mengabari para pekerjanya ke Nenek Ijah, sekarang yang dilakukan Ibra hanyalah menatap ke arah kaca dalam ruangan Mita dan dapat Ibra lihat sendiri jika para dokter masih sibuk menangani istrinya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua sore dari jam sepuluh pagi setelah Ibra berada di rumah sakit tersebut dan kedua orang tuanya serta Nek Ijah juga sudah berhadir. Saat mereka berkumpul di luar ruangan Mita, tiba-tiba saja dari dalam ruangan tempat Mita dirawat, sang suster keluar dengan membawa sesuatu di dalam tangannya yang tak lain adalah jenazah janin miliknya dan milik istrinya Mita.


"Pak Ibra, silakan Anda kebumikan jenazah anak Bapak, maaf sebenarnya kami sudah melakukan yang terbaik, namun tetap saja kami tidak dapat menyelamatkannya," imbuh sang suster dan langsung memberikan janin kecil kepada Ibra.


Tangisan pun sudah tak terelakan lagi untuk Ibra, dimana saat ini dirinya sudah berderai air mata, begitu juga dengan Pak Arman, Bu Hana dan Nek Ijah.


Cucu yang merangkap sebagai Cicit mereka, telah berpulang untuk selama-lamanya.


"Ci-cicit ku," ucap Nek Ijah dengan nada yang terbata-bata.


Hampir satu jam mereka menangisi jenazah mungil, anak dari Ibra dan Mita. Sekarang mereka melakukan penguburan kepada jenazah kecil itu.


"Sayang, maafkan Papa ya yang tidak bisa melihat kamu lagi ke dunia," ucap Ibra pelan yang masih bersimpuh di liang lahat anaknya.

__ADS_1


Ibra meratapi kesedihannya karena kehilangan anak ketiganya. Anak yang selama ini belum Ibra lihat rupanya dan anak yang saat ini menjadikan hidup Ibra berwarna, dimana ada rasa senang, sedih bercampur marah saat dahulu sang anak meminta sesuatu hal yang aneh kepadanya saat masih di dalam kandungan Mita.


Puas meratapinya, Ibra kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat perkembangan istrinya.


Dengan menyemangati diri sendiri, Ibra bertekad untuk tidak larut dalam kesedihannya. sebab masih ada sang istri yang harus dia pikirkan kondisinya.


"Dok, bagaimana kondisi istri saya, apa istri saya baik-baik saja?" tanya Ibra sendu dan dengan raut wajah khawatir.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Ibra, dokter yang merawat Mita menghela napas panjangnya.


"Huh, maaf Pak, saat ini kondisi istri Bapak sedang tidak baik-baik saja, sebab pendarahan yang dialami oleh pasien menyebabkan nya kondisi saat ini kritis atau bisa dikatakan koma Pak, namun untung saja stok darah di rumah sakit ini masih ada sehingga saya masih bisa menangani kondisi istri bapak," ucap Dokter pelan yang membuat Ibra lemas seketika, begitu juga dengan kedua orang tuanya dan Nek Ijah yang kembali syok, setelah mendapatkan kedua kabar yang tidak mengenakkan hati ini.


"Bapak pokoknya tenang saja, serahkan semua ini pada Tuhan, sebab hanya Tuhan lah yang mampu memberikan mukjizat nya," sambung sang dokter kembali dan setelahnya pergi dari hadapan Ibra.


Ibra yang mendengarkan perkataan dokter hanya masuk lewat telinga kiri dan keluar telinga kanan saja, sebab fokusnya saat ini hanyalah ke arah Mita.


Dengan melangkahkan kakinya pelan, Ibra masuk ke dalam ruang perawatan Mita. Dapat Ibra lihat sendiri, kalau beberapa selang telah memenuhi tubuh istrinya dan dengan jelas Ibra lihat kalau saat ini Mita masih terlelap dalam tidurnya ya tidur bukan koma, itulah yang Ibra yakini saat ini.


Sementara itu, di sisi lain. Mila dan Arya yang masih sibuk-sibuknya bersama keluarga kecilnya, tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari mantan mertuanya kalau istri mantan suaminya yaitu Ibra koma dan harus mengalami keguguran.


Syok, pasti Mila merasakan syok walaupun masih tidak terlalu mengenal istri Ibra. Namun, Mila yakin pasti keadaannya di sana sangatlah terpuruk.


"Mas, hari ini kita jadi kan ke rumah sakitnya?" tanya Mila.


"Jadi dong sayang, nanti kita ajak anak-anak juga untuk menghibur Ibra," balas Arya dan setelah itu mereka bersiap-siap menuju ke rumah sakit tempat Mita dirawat.

__ADS_1


Semoga dengan kedatangan kedua anaknya, dapat membuat Ibra tidak terlalu terpuruk dengan dua keadaan yang sedang menimpanya saat ini.



__ADS_2