
Setelah menumpahkan rasa sedihnya ke Arya, sekarang perasaan Mila sudah sedikit lega, apa lagi dirinya mendengar nasihat dari Arya untuk ikhlas melepaskan mantan suaminya tanpa beban apa pun, sebab jika sudah iklhas maka tidak ada lagi rasa sakit di dalam hati.
Setelah kembali pulang dari pesta tersebut, Mila lalu membersihkan diri dan setelahnya menemani kedua anaknya tidur bersama.
"Sayang, sekarang ayah kalian sudah bahagia bersama yang lain, mungkin hanya kalian berdua lah yang menjadi penguat Mama selama ini, pokoknya Mama akan terus bersama dengan kalian," ucap Mila pelan sembari mengelus kedua kepala anaknya dengan lembut.
Tanpa terasa, Mila juga ikut tertidur di ranjang kedua anaknya.
Keesokan paginya, terlihat sinar matahari mulai menyorot ke arah Mila, sehingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Ya hari ini Mila terbangun sedikit terlambat, karena hari libur seperti ini membuat Mila tidak harus bangun pagi-pagi buta. Apa lagi hari ini agenda Mila bersama dengan kedua anaknya. Sehingga Mila berinisiatif untuk mengajak kedua anaknya berjalan-jalan di sekitar taman kota.
"Sayang, hari ini kita bermain-main di dekat taman kota saja ya, nanti kalau Mama ada waktu cuti, baru kita bermain di pantai," ujar Mila yang membuat kedua anaknya mengangguk paham, karena mereka tahu kalau Mama nya bekerja juga untuk kebutuhan mereka berdua.
"Iya, pokoknya kapan pun Mama mau mengajak kami ke pantai, Andrew dan Syifa akan ikut saja karena yang paling penting buat kami adalah bisa bersama dengan Mama sepuasnya," jawab Andrew si sulung dengan pemikiran dewasanya. Bahkan perkataan Andrew membuat Mila terharu, sebab putranya sangat mengerti akan kondisi dirinya saat ini.
Setelah selesai membersihkan diri dan sarapan, sekarang waktunya Mila dan kedua anaknya pergi menuju ke taman kota, untuk sekedar bermain bersama.
Sesampai di taman kota, terlihat banyak anak-anak seusia Andrew dan juga Syifa tengah asik main bersama, sehingga Mila menyuruh Andrew dan Syifa untuk gabung bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Sayang, sana gabung dengan yang lain, Mama akan tunggu kalian di sini saja," ucap Mila dan setelahnya Andrew dan Syifa pergi untuk bermain bersama dengan anak-anak seusia mereka.
Melihat kedua anaknya begitu aktif bermain dan berbaur bersama yang lain, membuat Mila menjadi senang, apa lagi saat ini kebahagiaan yang dia miliki adalah melihat kedua anaknya senang dan riang bermain.
Masih di taman kota juga, terlihat Ibra dan Siska tampak ada di sana juga, lebih tepatnya Ibra yang mengikuti Mila dan kedua anaknya dari belakang.
"Sayang, kita kenapa ke sini sih, panas tahu takutnya nanti kulit aku menjadi terbakar, mana panas terik lagi," keluh Siska saat Ibra mengajaknya ke taman kota.
"Sudah lah kamu diam saja Siska, kalau enggak mau kan bisa kembali masuk ke dalam mobil, biar aku lihat kedua anakku dari sini," balas Ibra santai dan setelahnya Siska benar-benar meninggalkan Ibra sendiri di taman kota, untuk kembali masuk ke dalam mobilnya yang diberikan oleh Ibra sebagai hadiah pertunangannya.
Ibra yang melihat Mila tersenyum sendiri, langsung mencoba untuk mendekatinya, namun kali ini sepertinya ada rencana lain lagi yang sudah Ibra siap kan.
"Woy, kalau ada orang bicara itu dijawab!" bentak Ibra keras, yang membuat Mila lalu menghadap ke arahnya.
"Hmm, ada apa mas Ibra?" tanya Mila dengan dingin, sebab kedatangan Ibra kali ini memang sangat tidak diinginkan oleh Mila.
"Ck, aku datang tidak kamu sambut dengan baik, sedangkan Arya kamu menyambutnya bak seorang raja, dasar wanita sundal," gumam Ibra pelan, namun masih dapat didengar oleh Mila.
__ADS_1
"Terima kasih ya Mas, atas gelarnya yang kau sematkan ke diriku, tapi dari mana kau tahu aku wanita sundal, apa dari kedekatan kami saja atau memang hanya dari mulut mu itu yang semakin bau Mas, makannya hanya bisa mengeluarkan kata-kata kotor seperti itu," balas Mila dengan sedikit mengejek, karena baru kali ini Mila mendengar langsung bagaimana Ibra mengatai dirinya dengan keji, bahkan selama delapan tahun bersamanya, Ibra tidak seperti ini, dan termasuk orang yang suka menjaga lisannya dari perkataan-perkataan buruk.
"Dasar wanita sial, menyesal aku telah menghampiri kamu ke sini, oh iya aku lupa mengingatkan kamu, untuk surat perceraian kita sebentar lagi akan selesai, namun satu hal yang harus kamu tahu kalau aku sudah menggugat untuk hak asuh Andrew dan juga Syifa, jadi ingat itu!" seru Ibra dengan emosi dan setelahnya pergi begitu saja dari hadapan Mila.
Sementara Mila tersentak kaget, saat mendengar langsung dari mulut mantan suaminya yaitu Ibra, terkait gugatan untuk hak asuh kedua anaknya. Mila yang mendengar perkataannya sangat begitu emosi, apa lagi selama ini, Ibra sang mantan suami tidak pernah memperdulikan kedua anaknya, bahkan terkesan cuek saat mereka masih bersama dulu.
Kini dengan ringannya dia mengatakan untuk merebut hak asuh Andrew dan juga Syifa, yang membuat amarah Mila keluar begitu saja.
"Mas Ibra, dasar lelaki brengsek, tidak pernah satu pun kamu untuk mencoba mendekati anak-anak, tapi kenapa saat ini dengan mudahnya kamu mau merebut hak asuh Andrew dan juga Syifa, sebenarnya manusia seperti apa kamu itu Mas," batin Mila marah, sampai-sampai dirinya tidak sadar kalau kuku-kukunya sudah menancap sempurna di kedua kulit tangannya.
Suasana yang tadi sudah membaik untuk Mila, kembali menjadi suram baginya, apa lagi kedatangan Ibra yang membuat perasaanya semakin buruk.
Mengenai hak asuh Andrew dan juga Syifa, tentu saja tidak mau Mila menyerahkannya begitu saja kepada Ibra, bahkan seluruh dunia Mila yang dia punya hanyalah kedua anaknya, jadi sudah pasti sakitnya jika sampai Ibra memenangkan gugatan hak asuh kedua anaknya.
Tidak mau berlama-lama di taman kota itu, Mila kembali mengajak kedua anaknya untuk kembali pulang, sebab saat ini yang mau Mila lakukan adalah berunding dengan kedua orang tuanya mengenai Ibra, sang mantan suami yang menggugat hak asuh Andrew dan juga Syifa.
"Anak-anak, ayo kita pulang, soalnya Mama ada urusan mendadak," seru Mila yang kemudian kedua anaknya mendekat ke arah Mila.
__ADS_1
Setelah Andrew dan juga Syifa berada di dekat Mila, baru lah Mila langsung bergegas kembali pulang ke rumah nya.
Andrew dan juga Syifa yang melihat mama nya seperti orang yang sedang panik, hanya diam saja, sebab mereka tahu kalau Mama nya sudah seperti itu, pasti ada suatu urusan yang memang benar-benar sangat penting.