
Keesokan harinya, Mila mulai berangkat bekerja seperti biasa. Namun kali ini, sepertinya Mila harus menggunakan angkutan umum, sebab mobil miliknya masih berada di perusahaan tempat nya bekerja.
Saat Mila masuk ke dalam angkutan umum tersebut, tanpa sadar kalau disebelahnya yang duduk adalah Bibi Wati, mantan asisten rumah tangga, yang sekarang masih bekerja dengan Ibra.
"Nyonya Mila, saya tidak menyangka bertemu Nyonya di angkutan umum ini," ucap Bibi Wati dengan raut senang, sebab penantiannya dalam mencari Mila akhirnya terbayarkan juga.
"Lah, ada Bibi Wati rupanya, Bibi kenapa ada di angkutan umum ini, bukan kah jarak tempat ini ke rumah Ibra sangat jauh, bahkan jika Bibi ke pasar juga tidak menggunakan angkutan umum yang ini," imbuh Mila yang terlihat bingung saat Bibi Wati naik angkutan umum yang jalurnya berbeda dengan pasar atau pun rumah Ibra.
"Iya Nyonya, kebetulan saya menaiki angkutan umum ini untuk mencari keberadaan Nyonya dan anak-anak, sebab Tuan sangat merindukan kalian Nyonya," jelas Bibi Wati yang membuat Mila mengerutkan keningnya karena tidak paham akan ucapan Bibi Wati.
"Maksud Bibi?" tanya Mila yang belum jelas dengan perkataan Bibi Wati.
"Iya Nyonya, tuan sangat kangen sekali dengan Nyonya dan anak-anak, bahkan setelah Nyonya meninggalkan rumah, keesokannya Tuan langsung jatuh sakit," jawab Bibi Wati yang membuat Mila tidak percaya seratus persen dengan ucapannya. Sebab yang Mila tahu, Ibra bukanlah tipe orang yang seperti itu, jangankan kangen, untuk berkumpul bersamanya atau hanya sekedar bermain dengan anak-anaknya saja tidak pernah, eh malah Bibi Wati mengatakan kalau Ibra kangen dengan dirinya dan juga anak-anak.
Melihat raut wajah Mila, Bibi Wati bisa menebak kalau Nyonya nya belum percaya dengannya.
"Nyonya, apa yang saya katakan benar, kalau tidak percaya Nyonya bisa melihat rekaman yang saya ambil diam-diam dari kamar Tuan," imbuh Bibi Wati sembari mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman yang dia ambil dari ponsel miliknya.
Mila yang disodorkan ponsel milik Bibi Wati, langsung menerimanya dan melihat dengan seksama apakah Ibra benar-benar merindukan dirinya dan anak-anak atau tidak.
Mila langsung menekan tombol untuk melihat rekaman itu. Baru berjalan satu menit, dapat Mila lihat, kalau benar bahwa Ibra mengatakan berulang kali dengan perkataan sendu saat mengucapkan kalimat rindu untuknya dan anak-anaknya.
Tidak kuat melihat penampilan dan ucapan Ibra di dalam rekaman layar ponsel Bibi Wati, dengan segera Mila langsung memberikan kembali ponsel Bibi Wati, karena tak sanggup saat melihat penampilan Ibra dan perkataannya yang berbeda seratus delapan puluh derajat saat mereka masih menjalin tali pernikahan.
__ADS_1
"Bagaimana Nyonya, apakah Nyonya percaya dengan saya?" tanya Bibi Wati yang kemudian Mila menganggukkan kepala, tanda percaya dengan perkataannya.
"Nyonya, bisa kah hari ini Nyonya mengunjungi Tuan dan mengatakan kepadanya kalau Tuan harus semangat untuk hidup, karena selama satu minggu ini Bibi sangat risau, apa lagi Bibi tidak melihat adanya semangat untuk hidup di kedua bola mata Tuan," sambung nya kembali yang membuat Mila merasakan rasa iba.
"Baiklah, nanti akan saya coba mengusahakan untuk mengunjungi Ibra bersama anak-anak, tapi setelah saya pulang kerja ya, pokoknya Bibi Wati pantau saja keadaan Tuan," jelas Mila dan setelahnya memberhentikan angkutan umum itu di depan perusahaan tempatnya bekerja.
Sesampai nya masuk di dalam perusahaan, tanpa sengaja Mila berpapasan dengan Arya, sehingga mau menghindari pun tentu tidak bisa. Masih ingat di dalam kepala Mila, saat kemarin anak-anaknya membuat malu dirinya, bahkan asal ceplos saja mengatai Arya dengan sebutan pria tua dan sebagainya.
"Selamat pagi Pak Arya," ucap Mila mencoba tersenyum manis saat menyapa bos nya.
"Pagi juga, oh iya Mila, mobil kamu yang ada di parkir itu sudah diperbaiki ya sama orang bengkel, kemarin saya menelepon mereka untuk memperbaiki ban mobilnya," sahut Arya.
"Wah terima kasih Pak Arya, jadi repot-repot begini dan nanti untuk uang perbaikan mobilnya akan saya ganti Pak," jawab Mila.
Setelah itu, Mila kembali mengawali pekerjaannya dengan membuat berbagai laporan terkait pemasaran, karena saat ini jabatan Mila adalah kepala bagian pemasaran.
Setelah hari menjelang sore, Mila langsung bergegas pulang untuk menjemput anak-anaknya agar ikut ke rumah Ibra.
"Andrew, cepat ya ganti bajunya, Syifa juga jangan lama-lama," ujar Mila.
Setelah semuanya siap, barulah Mila pergi ke rumah Ibra, mantan suaminya.
Sesampai di rumah Ibra, tampak Mila disambut oleh Bibi Wati tepat berdiri di depan gerbang rumah.
__ADS_1
"Ayo Nyonya silakan masuk," ucap Bibi Wati dengan raut senang. Bahkan, terlihat jelas sampai senangnya, Bibi Wati tampak tidak sadar bersorak riang menyambut kedatangan Mila dan anak-anak.
Mila yang selesai memasukkan mobilnya ke dalam garasi, langsung bergegas keluar bersama anak-anaknya dan menuju ke ruangan yang ada Ibra di dalamnya.
"Semoga setelah ini, Mas Ibra sudah tidak sedih lagi dan semakin semangat saat aku membawa anak-anaknya," batin Mila.
Saat Mila hendak masuk ke dalam kamar Ibra, tampak Mila terkejut, saat mendengar suara Ibra yang lagi menelepon seorang wanita. Namun, bukan itu yang membuat Mila terkejut, tapi perkataan Ibra lah yang membuatnya terkejut.
"Sayang, sabar ya soalnya aku harus terus bersandiwara seperti ini, agar anak-anak bisa kembali denganku, kan kamu tahu sendiri kalau meminta restu orang tuaku, maka anak-anak harus ikut bersama kita," jawab Ibra dari telepon.
Mendengar perkataan Ibra, membuat Mila emosi seketika dan langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Ibra.
"Wah, aku pikir Mas Ibra benar-benar kangen sama aku dan anak-anak, ternyata ada udang dibalik batu rupanya," imbuh Mila dengan lugas. Setelahnya, Mila menginstruksikan Bibi Wati untuk membawa kedua anaknya pergi.
"Kenapa kamu harus pakai cara licik seperti ini sih Mas, kamu pikir siapa kamu hah!" bentak Mila yang membuat Ibra tersadar dari keterkejutannya.
"Mila, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ibra seperti orang linglung dan bodoh.
"Kenapa aku ada di sini, tentu saja mau menjenguk orang yang katanya depresi akibat ditinggalkan istri dan anak-anaknya, namun ternyata itu hanyalah permainan kotornya saja," sinis Mila menatap benci ke arah Ibra.
Sementara Ibra yang sudah ketahuan belangnya, hanya terdiam sesaat. Sebab tidak tahu harus apa yang dia lakukan saat ini.
"Mila, aku yakin kamu bisa bantu Mas, tolong agar anak-anak biar Mas saja yang urus ya," pinta Ibra dengan nada memohon.
__ADS_1
"CK, tidak akan aku menyerahkan kedua anakku kepada laki-laki brengsek seperti kamu Mas," balas Mira dan setelahnya langsung keluar dari kamar Ibra.