
Saat ini, Ibra dan Arya langsung pergi ke lokasi pembangunan hotel tempat kompetitor nya, dimana saat ini baik Ibra dan Arya memantau pembangunan hotel tersebut dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ternyata mereka sama saja seperti kita, tidak ada lagi yang melakukan pembangunan lanjutan hotelnya, menurut mu apakah semua hambatan kita bukan rencana mereka, namun memang ini ada kesalahan dari supplier penyedia bahan baku?" tanya Ibra kepada Arya.
"Entahlah, aku pun tidak tahu, yang paling penting sekarang kita coba saja dulu pantau, jika ada sesuatu yang mencurigakan maka kita akan mencoba mendekati proyek pembangunan hotel itu," jawab Arya sembari melihat disekitarnya yang entah kenapa menurut Arya terasa ganjil, sebab tempat yang mereka gunakan untuk mengintai pembangunan proyek kompetitor merupakan tempat yang sepertinya termasuk ramai.
Namun saat ini terlihat sepertinya tempat tersebut sangat sepi, persis seperti sudah disetting oleh orang lain untuk mereka.
Tidak lama Ibra dan Arya memantau di tempat itu, mereka melihat ada satu orang yang mencurigakan. Baik dari gerak gerik atupun tingkah lakunya dan setelah dilihat lebih lanjut, alangkah terkejutnya mereka, terutama Ibra yang melihat secara langsung ternyata orang tersebut adalah Sekretaris Han, sedang berada di tempat pembangunan proyek hotel milik pihak kompetitor.
Bahkan samar-samar dapat mereka dengar suara dari sekretaris Han dan dengan seorang pria lain yang baru keluar dari lokasi pembangunan hotel itu.
"Bagaimana Bos, semua tampak lancar bukan?" tanya Han.
"Benar semua tampak lancar, pokoknya aku berterima kasih kepada mu Han, sebab jika kau tidak memantau ruang gerak mereka, maka bisa dipastikan aku tidak bisa membangun hotel ini."
"Tidak perlu seperti itu Pak Hans, yang harusnya berterima kasih itu adalah saya, sebab dari bapak lah saya bisa mendapatkan uang lebih untuk mengobati istri saya," jelas Han.
"Iya sudah, ayo kita masuk dulu melihat-lihat dari arah dalam pembangunan hotel ini, siapa tahu kan nanti kau bisa membantuku kalau ada yang kurang dari pembangunan hotel ini," ujar Hans.
"Hmm, baiklah ayo kita masuk ke dalam."
Setelah itu, Han dan Hans masuk ke dalam bangunan proyek hotel tersebut.
__ADS_1
Setelah mereka mendengar secara langsung, ternyata memang benar kalau Sekretaris Han adalah dalang dibalik semuanya, bahkan dengan tega dia telah membocorkan rahasia kerja samanya dengan Arya.
Ibra yang tengah diliputi rasa marah, tentu langsung ingin masuk ke dalam proyek tersebut dan menghabisi Sekretaris Han. Namun, baru beberapa langkah dirinya akan pergi dan masuk ke dalam proyek pembangunan hotel tersebut.Secara mengejutkan, Arya langsung menahannya dengan sekuat tenaga.
"Pak Ibra sadarlah, apa yang mau Bapak lakukan dengan masuk ke dalam, apa Bapak mau menyerahkan diri Hah!" bentak Arya secara spontan.
"Diam lah, kau tidak tahu rasanya dikhianati oleh orang terdekat sendiri Pak Arya!" ucap Ibra dengan suara yang tak kalah membentak.
"Andaikan kau tahu, mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama yaitu menghabisi si brengsek Han itu!" sambung Ibra dengan emosi yang masih meledak-ledak.
"Iya saya tahu, tapi pikirkan lah resikonya, jangan sampai gara-gara emosi Anda Pak Ibra, bisa menggagalkan rencana kita, ingat tujuan kita ke sini adalah mencari bukti terkait kecurangan dari saingan kita," jelas Arya yang sedikit memelankan suaranya.
"Huh, kau benar aku seharusnya tidak boleh terlalu emosi berlebihan seperti ini," ucap Ibra dan setelahnya mencoba menetralkan dirinya dari segala emosi ataupun amarah yang ada dan kembali memantau.
Saat mereka masih memantau, tiba-tiba dari arah belakang ada suara pukulan yang tepat mengenai mereka berdua dan otomatis membuat Arya dan Ibra pingsan seketika.
Setelah itu, mereka membawa Ibra dan Arya dengan cara diseret masuk ke dalam proyek pembangunan hotel tersebut.
Sementara itu, di sisi lain, tampak saat ini Mila duduk dengan gelisah, apa lagi sedari tadi dirinya menunggu kepulangan Ibra dan Arya.
"Aduh, mereka kenapa lama banget ya, apa jangan-jangan," terhenti ucapannya dan segera menemui mandor untuk membawanya ke proyek pembangunan hotel sebelah, sebab firasat Mila mengatakan kalau saat ini kondisi Arya dan Ibra dalam keadaan tidak baik-baik saja atau dalam artiannya Arya dan Ibra dalam keadaan bahaya.
Namun, saat Mila hendak menemui mandor Handoyo, secara tidak sengaja Mila mendengarkan percakapannya.
__ADS_1
"Tenang saja Bos, wanita itu masih di sini, mungkin saya akan membawanya kehadapan dua orang tadi yang sudah Bos tangkap," ucap Handoyo yang masih menelepon seseorang.
Mendengar ucapan Handoyo, membuat Mila terkejut dan segera menutup kedua mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah itu, Mila mencoba berjalan perlahan-lahan ke arah belakang untuk melarikan diri.
Namun, yang terjadi adalah Mila menginjak sebuah botol plastik. Sehingga menimbulkan suara yang keras dan membuat Handoyo langsung mematikan teleponnya.
"Krek." Bunyi suara botol plastik yang tidak sengaja Mila injak.
"Siapa di sana," ucap Handoyo sembari mendekat ke lokasi sumber suara, sehingga membuat Mila langsung berlari begitu saja.
"Aduh jangan-jangan wanita itu lagi," sambung Handoyo dan langsung bergegas ke lokasi sumber suara.
Secara tak sengaja, Handoyo melihat Mila berlari begitu saja.
"Sial, berhenti kau!" seru Handoyo sembari berlari mengejar Mila.
Mila yang mendengar suara Handoyo, langsung menambah kecepatan larinya. Tidak peduli kalau saat ini Mila menginjak sesuatu yang tajam seperti duri dan sebagainya, yang penting untuk saat ini harapan Mila adalah bisa meloloskannya diri dari tempat ini.
"Aduh, laki-laki itu semakin mendekat lagi," batin Mila yang masih terus berlari, hingga saat sudah mencapai batas maksimum nya, Mila lantas mencoba mencari tempat persembunyian. Tujuan persembunyian Mila saat ini adalah semak-semak belukar. Mila tidak perduli jika di dalam semak-semak itu ada bahaya yang mengintainya seperti ular dan binatang melata lainnya, yang penting dirinya dapat meloloskan diri dari mandor yang bernama Handoyo.
"Ah sial, pergi kemana wanita itu, kenapa larinya sangat cepat sekali sih atau oh jangan-jangan dia bersembunyi lagi di tempat ini," ujar Handoyo dan langsung mencoba mencari Mila di sekitar daerah itu.
Hampir setengah jam Handoyo mencari Mila, namun nyatanya dia tidak menemukan sedikit pun jejak Mila dan alhasil membuat Handoyo langsung bergegas pergi dari tempat itu untuk melaporkan kepada seseorang yang dia telepon tadi bahwa wanita yang bersamanya sudah kabur.
__ADS_1
Mila yang melihat kalau mandor Handoyo itu sudah pergi, barulah Mila keluar dari semak-semak belukar itu dan segera Mila mencoba mencari bala bantuan melalui aparat kepolisian dan juga mantan ayah mertuanya dengan harapan, mereka dapat menyelamatkan Ibra dan Arya yang sudah tertangkap oleh pihak kompetitor atau pihak musuh.
"Semoga Mas Arya dan juga Mas Ibra baik-baik saja," batin Mila dengan perasaan risau dalam hati.