Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Sadar dari Koma


__ADS_3

Setibanya kedatangan Mila beserta keluarga kecilnya di rumah sakit.


Mila langsung bergegas menuju ke ruang tempat Mita dirawat dan dapat terlihat, kalau saat ini Ibra, kedua mantan mertuanya dan seorang Nenek tua tengah menangis di luar lorong rumah sakit.


Mila yang melihat hal itu, langsung menyuruh untuk kedua anaknya yaitu Andrew dan Syifa untuk menenangkan Ayah mereka dan selanjutnya untuk Mila sendiri mencoba menghibur kedua mertuanya dan seorang nenek tua yang diyakini Mila, kalau dia adalah nenek dari Mita.


"Mama sama Ayah sabar ya, doakan saja untuk kesembuhannya, Nenek juga ya, ingat mukjizat Tuhan siapa yang tahu, jadi sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa, kita harus mengusahakan jalur langit untuk kesembuhan Mita," jelas Mila pelan yang membuat mantan kedua mertuanya dan Nek Ijah langsung menghapus air matanya.


"Benar apa yang kamu katakan sayang, lebih baik sekarang kita perbanyak doa saja untuk kesembuhan Mita," balas Pak Aksa yang kemudian bangkit dan bergegas menuju ke ruang ibadah yang ada di rumah sakit itu disertai dengan Bu Hana dan juga Nek Ijah.


"Syukurlah, semoga dengan doa-doa tulus dari orang-orang terdekatnya, membuat Mita menjadi pulih seperti sedia kala.


Kalau Mila sukses membuat Pak Arman, Bu Hana dan Nek Ijah bangkit dari keterpurukannya, maka beda halnya dengan Ibra yang sedari tadi masih menangisi keadaan istrinya. Walaupun Andrew dan Syifa sudah berusaha keras untuk menghibur Ayahnya. Namun, kenyataan masih tetap saja nol hasilnya, sebab Ibra masih menyelam ke dalam rasa keterpurukan yang membuatnya tidak sadar kalau saat ini kedua anaknya yaitu Andrew dan juga Syifa berada di dekatnya.


Hingga, membuat Mila dan Arya beralih ke arah Ibra.


"Pak Ibra, sadarlah Pak, jika Bapak menangis pun tidak ada gunanya, apa lagi tidak dapat membantu upaya kesembuhan istri Anda sendiri, lebih baik sekarang perbanyaklah doa, karena dengan doa pasti ada sesuatu mukjizat yang diberikan oleh yang maha kuasa," ujar Arya dengan menepuk pundak Ibra menggunakan kedua tangannya.


Ibra beralih menatap ke arah Arya dengan tatapan sendu dan rapuh, sehingga membuat orang-orang yang berada disekitarnya bisa merasakan kesedihan sesuai apa yang Ibra rasakan.

__ADS_1


"Pak Arya kamu tidak tahu rasanya," terpotong ucapannya karena Arya langsung menyela ucapan Ibra.


"Tidak pernah merasakan apa yang Pak Ibra rasakan, maksud Pak Ibra seperti itu kan, jangankan Bapak, saya juga dulu pernah merasakan kesedihan akibat masalah berat yang menimpa saya, namun yang saya lakukan adalah tidak meratapinya Pak, karena itu tidak membantu sama sekali, karena saya lebih suka berdoa, saya serahkan semuanya kepada sang pencipta," jelas Arya pelan dan mampu menggugah relung hati Ibra, hingga membuat Ibra bergegas masuk ke dalam ruangan Mita dan setelah itu mengeluarkan ponselnya untuk membaca berbagai doa, ya semoga dengan ini Mita dapat sadar dari komanya.


Tak terasa hari sudah berganti malam dan kini saatnya Mila dan keluarga kecilnya berpamitan dengan Ibra, kedua orang tua Ibra dan juga Nek Ijah.


"Kami pulang dulu dan semoga Mita segera sadar dari komanya, mungkin besok Mila akan kembali ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Mita," ujar Mila.


"Iya, terima kasih ya Mil, kamu masih mau menjenguk istriku dan untukmu Arya, terima kasih karena ucapan mu, akhirnya aku sadar bahwa kita jangan terlalu terpuruk atas musibah yang menimpah kita dan untuk kedua anak Ayah, doakan ya semoga Mama Mita cepat sadar," balas Ibra dan segera Andrew dan juga Syifa menganggukkan kepalanya.


Setelah bercengkerama sedikit, akhirnya Mila, Arya dan kedua anaknya pamit pulang ke rumah.


Sekian lamanya Mita dirawat di rumah sakit itu, namun masih tetap saja tidak adanya menunjukkan tanda-tanda perkembangan dirinya dari koma, hingga membuat Nek Ijah, Pak Arman dan Bu Hana memasrahkan diri dan mereka telah mengikhlaskan jika Mita memang akan pergi selama-lamanya.


Apa lagi, kini sudah hampir enam bulan lamanya pasien koma, namun masih tetap saja tidak ada tanda-tanda perkembangan bahwa pasien akan mengalami kesadaran.


Saat dokter tersebut hendak melepaskan alat bantu Mita. Tiba-tiba saja dari arah luar, Ibra berlari masuk ke dalam ruang perawatan istrinya dan langsung mencegah sang dokter untuk melepaskan alat bantu tersebut.


"Jangan kau lepaskan alat bantu yang ada di istriku dokter!" teriak Ibra hingga sang dokter menghentikan untuk melepaskan alat bantu penunjang hidup Mita.

__ADS_1


"Tapi Pak, ini sudah persetujuan dari pihak saudara," balas sang dokter.


"Apa, siapa pihak saudara, apa mereka hah!" marah Ibra sembari menunjuk ke arah kedua orang tuanya dan juga Nek Ijah.


"Asal kau tahu ya, aku adalah suaminya jadi segala sesuatu yang menimpa istriku maka aku yang berhak memutuskan nya, ingat itu," sambung Ibra dengan nada mengancam sehingga membuat dokter tersebut tidak jadi melepaskan alat bantu Mita dan segera keluar dari ruangan itu.


"Nak, kenapa kamu halangi dokter tadi, memangnya mau sampai kapan alat-alat itu menempel di tubuh istri kamu, apa kamu tidak kasihan sama istrimu sendiri yang tersiksa seperti itu," ucap Pak Arman, namun Ibra tetap tidak mendengarkan ucapan Pak Arman dan malah saat ini, Ibra langsung menghampiri ranjang istrinya.


"Sayang, aku mohon sadarlah, apa kau tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu, ya aku sangat mencintaimu Mita, karena kamulah membuat hidupku lebih berwarna," bisik Ibra tepat di telinga Mita, hingga membuat Mita meneteskan air matanya, walaupun masih dalam keadaan mata tertutup.


Melihat respon istrinya, seketika membuat Ibra langsung bersorak riang dan segera mengucapkan kalimat-kalimat cintanya kepada Mita, hingga membuat Mita menunjukkan reaksinya kembali. Namun, kali ini reaksinya adalah dengan menggerakkan beberapa jarinya yang membuat Ibra kembali bahagia dan segera memanggil dokter yang merawat istrinya.


"Dokter, sekarang cepat kau periksakan istriku, soalnya saat aku membisikkan beberapa kalimat kepadanya, dia merespon dengan gerakkan jari," ucap Ibra dengan senang, sehingga sang dokter buru-buru memeriksa Mita dan benar saja sesuai yang dikatakan oleh Ibra.


Kalau saat ini, Mita sudah bisa menggerakkan beberapa jarinya, walau masih dengan matanya yang tertutup.


"Pak Ibra, coba bisikan lagi kalimat-kalimat yang Anda ucapkan tadi, saya lihat pasien sudah mulai meresponnya," perintah sang dokter dan segera Ibra mengikuti perintah dokter tersebut dan memulai kembali membisikkan kalimat-kalimat pernyataan cintanya.


Hampir beberapa menit Ibra terus menerus membisikkan kalimat-kalimat itu, akhirnya Mita mampu membuka kedua matanya dan langsung menatap seisi ruangan tersebut.

__ADS_1


"Dokter, istriku sudah sadar Dok," ucap Ibra yang membuat sang dokter langsung memeriksa kondisi Mita.


Sementara itu, Pak Arman, Bu Hana dan juga Nek Ijah yang mendengarkan perkataan Ibra, langsung mendekati ke arah ranjang Mita dan memang benar kalau saat ini Mita sudah sadar dari komanya.


__ADS_2