
Setelah beberapa hari pengusiran Lea, semua teman-teman Mita yang ingin meminta pekerjaan kepadanya tidak Mita hiraukan lagi. Bahkan sampai tidak mau berurusan dengan teman-teman yang ada di kampungnya, Mita langsung membuang kartu lamanya dan mengganti dengan yang baru.
"Mas, aku sudah membuang kartu lamaku, jadi tidak akan ada lagi yang menelepon ku, sehingga aku jamin tidak ada Lea selanjutnya yang akan mengganggu kamu lagi," ucap Mita sembari mengoleskan selai ke dalam roti tawarnya.
"Baguslah, kalau begitu kan Mas tidak terperdaya lagi dengan rayuan mu yang ingin memasukkan teman mu untuk bekerja di rumah ini," balas Ibra sembari memakan rotinya.
"Iya Mas, aku," terpotong ucapannya karena tiba-tiba saja, Mita merasakan mual yang begitu hebat sehingga dengan segera Mita langsung berlari ke arah toilet dan langsung menumpahkan segala isinya.
Melihat Mita yang terburu-buru lari ke arah toilet, otomatis Ibra mengikutinya dari arah belakang dan langsung mendekatinya.
"Mita, kamu kenapa?" tanya Ibra yang terlihat begitu khawatir dengan istrinya.
"Enggak tahu Mas, rasanya aku ingin," terhenti kembali ucapannya dan kembali memuntahkan isi perutnya, sehingga membuat Ibra langsung keluar begitu saja karena jijik melihat Mita.
Namun, di saat Ibra hendak meninggalkan Mita di dalam toilet tersebut, tiba-tiba Ibra mendengar suara keras dari dalam toilet yang ternyata dilihat kembali adalah Mita yang sudah tidak sadarkan diri.
Sehingga, seketika membuat Ibra langsung panik dan segera menggendong Mita ke dalam mobil untuk Ibra bawa menuju rumah sakit.
Setelah hampir satu jam lamanya perjalanan menuju rumah sakit dan Mita masih tetap belum sadarkan diri, Ibra lalu kembali menggendongnya menuju ke ruang perawatan dan langsung menidurkan Mita di atas ranjang.
"Dok, cepat kau periksakan istriku itu, soalnya sudah sedari tadi dia belum sadarkan diri!" bentak Ibra secara tidak sengaja yang ditujukan untuk dokter yang akan merawat istrinya.
"Baiklah, Bapak tolong tunggu di luar dulu, biar saya coba periksa keadaan pasien," balas sang dokter dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan Mita.
Ibra yang lagi menunggu di luar, hatinya menjadi tidak tenang karena takut terjadi sesuatu yang menimpa Mita, bisa-bisa kalau terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dengan Mita, sudah dipastikan Ibra akan mendapatkan amukan dari Nek Ijah dan juga kedua orang tuanya, bahkan mungkin saja Ibra akan dicoret dari kartu keluarga.
"Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya," batin Ibra dalam hati sembari berdoa untuk keselamatan Mita.
Hanya beberapa menit Ibra menunggu, akhirnya sang dokter memanggil Ibra untuk masuk ke dalam ruang perawatan Mita.
"Pak Ibra, Anda boleh masuk!" perintah sang dokter dan segera Ibra masuk ke dalam ruang perawatan Mita.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Dok, apa istriku baik-baik saja?" tanya Ibra.
"Syukurlah Pak, istri Anda baik-baik saja, bahkan saya menyuruh bapak untuk datang ke sini karena ada kabar bahagia yang akan saya sampaikan, ini terkait dengan kondisi kehamilan istri Anda," jelas sang dokter yang membuat Ibra terkejut.
"Ko-kondisi kehamilannya, jangan-jangan istri ku hamil ya Dok," ucap Ibra yang membuat sang dokter langsung menganggukkan kepalanya.
"Benar Dok, Anda tidak berbohong kan Dok?" tanya Ibra kembali dengan penekanan di setiap katanya.
"Benar, untuk apa saya bohong Pak, duh Bapak satu ini membuat saya kesal saja," balas sang dokter dengan senyum jengah nya.
"Yee, akhirnya aku akan menjadi Bapak lagi!" ucap Ibra dengan senang dan tanpa sadar menjerit di dalam ruangan Mita, hingga membuat Mita langsung tersadar dari pingsannya.
"Duh berisik banget sih, orang lagi enak-enak tidur juga," kesal Mita membuat Ibra menghentikan jeritannya.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga."
"Hmm, gimana aku enggak bangun Mas, orang kamu menjerit seperti kerasukan setan," balas Mita ketus dan kemudian mengernyitkan keningnya karena Mita baru tersadar kalau kamarnya saat ini berbeda jauh dengan kamarnya yang biasa.
"Iya sayang, kan tadi kamu pingsan, jadinya Mas bawa kamu ke rumah sakit dan kamu tahu tidak, akhirnya kamu hamil juga," balas Ibra dengan keceplosan mengatakan kalau Mita sedang hamil.
"Oh aku di rumah sakit karena hamil, tapi tunggu dulu, kenapa aku bisa hamil Mas!" teriak Mita yang sadar atau tidak sadar sudah mencengkeram kerah baju Ibra hingga membuat keduanya saling berdekatan.
"Ya karena Mas keluar di dalam sayang, maafkan Mas ya," jawab Ibra dengan tertawa sumbang.
"Ja-jadi, waktu itu kamu mengeluarkan nya di dalam Mas, aduh tamatlah sudah riwayatku, jalan satu-satunya berarti kamu harus tanggung jawab Mas, pokoknya nikahi aku!" marah Mita.
"Anu sayang, kan kita sudah menikah."
"Hah, benar juga ya, ta-tapi pokoknya kamu jangan lari dari tanggung jawab ya Mas," ucap Mita kembali yang masih mencengkeram kerah baju Ibra.
"Iya sayang, Mas enggak lari dari tanggung jawab kok dan untuk kontrak nikah kita, nanti Mas akan bakar dan selamanya kamu jadi istri Mas," jelas Ibra yang membuat Mita langsung melepaskan cengkeramannya dan sekarang memeluk Ibra dengan sangat erat.
__ADS_1
"Syukurlah Mas, kalau begitu aku enggak akan menjadi janda anak satu," ujar Mita dengan raut wajah bahagianya.
"Iya syukurlah, sayang sekarang boleh lepaskan pelukan kamu tidak, soalnya sakit nih, rasanya sesak leher Mas," pinta Ibra dan segera Mita melepaskan pelukannya.
"Maaf ya Mas, soalnya Mita terlalu bahagia," kekeh Mita dengan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, sekarang dan selamanya kamu akan menjadi istri Mas," imbuh Ibra pelan. Namun dapat membuat Mita menjadi bahagia.
Setelah Mita dan Ibra keluar dari rumah sakit, sekarang keduanya tengah mencari soto babat karena Mita saat ini ingin sekali makan soto babat akibat ngidamnya yang sekarang baru ia rasakan.
"Kita makan di sana saja ya sayang," tunjuk Ibra ke salah satu warung dan Mita hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah Ibra memarkirkan mobilnya, kemudian keduanya langsung bergegas masuk ke dalam warung.
"Bu, saya pesan soto babatnya dua ya, satu pedas dan satunya enggak pedas," ucap Mita dan segera sang punya warung langsung membuatkan pesanan Mita.
"Iya, ditunggu sebentar ya Neng," jawab sang punya warung dan segera meracik soto babat pesanan Mita.
Sedangkan Ibra yang mendengar pesanan sang istri, langsung mengernyitkan keningnya. Sebab Ibra heran kenapa Mita memesan satu soto dengan rasa pedas.
"Sayang, kamu kenapa pesan sotonya yang satu pedas, kan kamu tahu kalau aku tidak suka pedas," imbuh Ibra yang membuat Mita menggelengkan kepalanya.
"Mas, soto yang pedas itu buat aku, bukan untuk kamu, jadi ya aku pesannya satu pedas dan satunya yang tidak pedas," jelas Mita.
"Tapi sayang, kamu kan lagi hamil jadi jangan makan yang pedas-pedas ya, pokoknya yang pedas untuk Mas dan yang tidak pedas untuk kamu.
"Tapi Mas."
"Tidak ada tapi tapian, pokoknya yang pedas untuk Mas dan yang tidak pedas untuk kamu!" seru Ibra.
"Baiklah Mas, aku ikut saja," jawab Mita dengan pasrah.
__ADS_1
Alhasil, sekarang Ibra memakan soto tersebut dengan sedikit terpaksa, apa lagi sekarang lidahnya sudah terasa pedas. Namun, masih tetap ditahan oleh Ibra, sebab dirinya harus menjaga Mita agar tidak memakan makanan yang pedas, karena takut akan membuat kandungannya bermasalah.