
Setelah serangkaian pengadilan berjalan dengan lancar, kini tibalah hakim untuk memutuskan siapa yang berhak terkait hak asuh Andrew dan juga Syifa.
"Baiklah karena dari kedua belah pihak sudah memaparkan duduk permasalahannya, maka dengan gugatan pemohon atas nama Ibra Sanjaya terkait hak asuh kedua anaknya yang bernama Andrew Sanjaya dan Syifa Sanjaya, resmi saya tolak!" ucap sang hakim dengan lantang dan setelahnya mengetuk palu sebanyak tiga kali sebagai tanda bahwa gugatan yang diajukan oleh Ibra, telah resmi ditolak.
Mendengar keputusan sang hakim, membuat Mila dan keluarga sontak kegirangan, bahkan sangat terlihat jelas bahwa raut wajah Mila menampilkan senyuman yang sangat lebar dan setelahnya langsung memeluk kedua buah hatinya.
"Anak-anak Mama, akhirnya kalian masih tetap bersama Mama karena gugatan hak asuh itu ditolak," ucap Mila sembari memeluk kedua buah hatinya dengan begitu senang.
Sementara Ibra yang melihat raut wajah Mila begitu senangnya sampai memeluk Andrew dan juga Syifa, hanya bisa mengepalkan tangannya erat sembari menatap ke arah mereka dengan begitu tajam.
Ya, hari ini Ibra tidak mendapatkan hak asuh Andrew dan juga Syifa, melainkan mendapatkan malu akibat semua bukti yang dimiliki oleh Mila, sehingga membuatnya menjadi sangat membenci sosok Mila, mantan istrinya itu.
Setelah selesai dari pengadilan, rombongan Mila dan keluarga sekarang berada di restauran yang terbilang cukup mahal, karena untuk rasa syukur Mila, dirinya mengajak seluruh keluarga untuk makan di restauran itu.
"Terima kasih atas segala dukungan dan bantuan kalian untuk Mila, sehingga pada akhirnya Mila dapat memenangkan gugatan hak asuh Andrew dan juga Syifa," ucap Mila dengan tulus yang membuat seluruh keluarganya menjadi terharu, karena mereka semua tahu bagaimana menjadi seorang Mila yang hanya seorang janda beranak dua. Apa lagi mereka tahu kalau mantan suami Mila lah yang bersalah karena telah berselingkuh di belakang Mila.
__ADS_1
Setelah Mila mengatakan sepatah dua kata, kemudian mereka makan bersama dengan suasana tenang dan riang, bahkan tampak sekali beberapa dari mereka meminta tambah makan. Walaupun di tempat mereka saat ini untuk makanan dan minuman terbilang cukup mahal, tapi Mila selalu berkata iya, karena hanya sesekali saja Mila mentraktir keluarganya. Menurut Mila uang bisa dicari lagi, tapi untuk kebahagiaan keluarga itu sulit untuk di dapatkan, apa lagi nilainya yang tak terhingga.
Kalau Mila dan keluarga saat ini tampak begitu senang karena memenangkan hak asuh Andrew dan juga Syifa, maka lain halnya dengan Ibra yang sekarang berada di rumah orang tuanya, dimana saat ini nasib Ibra sudah di ujung tanduk, sebab Ayahnya memberikan ultimatum kepadanya berupa penyitaan aset berharga milik Ibra, termasuk pengambilan kembali perusahaan Ibra Jaya yang memang semula milik ayahnya.
"Ibra, Ayah kecewa dengan kamu, bisa-bisanya mempermalukan Ayah di depan pengadilan terkait kesalahan kamu itu, awalnya Ayah pikir memang benar kalau masalah kalian yang salah adalah Mila, namun ternyata semua ini dalangnya adalah kamu, pokoknya mulai hari ini seluruh aset perusahaan, rumah dan lainnya akan Ayah sita!" seru Pak Arman sembari menunjuk ke arah Ibra.
Mendengar Ayahnya akan menyita seluruh aset miliknya, membuat Ibra meradang seketika, bahkan dirinya tidak terima kalau sang ayah mengambil dengan seenaknya saja.
"Ayah, Ibra tidak mau kalau seluruh aset Ibra Ayah sita, itu kan semuanya hasil kerja keras Ibra selama ini, pokoknya Ibra enggak mau!" tolak Ibra dengan keras.
"Hmm, terserah kamu pokoknya lihat saja besok kamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi dan lihat apa wanita yang bernama Siska itu peduli sama kamu atau tidak," balas Pak Arman dengan sinis dan setelahnya pergi bersama sang istri meninggalkan Ibra seorang diri di ruang tamu.
Setelah puas Ibra menumpahkan kekesalannya, sekarang Ibra beranjak keluar untuk kembali menuju rumahnya seraya menenangkan diri.
Kembali dengan Mila, setelah puas dengan makan siangnya bersama keluarga. Sekarang Mila melanjutkan perjalanan kembali menuju arah pulang, untuk mengistirahatkan kembali energi ditubuhnya yang hampir habis selama menjalani persidangan.
__ADS_1
"Anak-anak, Mama mau tidur dulu ya, kalian kalau mau main-main silakan, tapi jangan jauh-jauh dari pengawasan nenek dan kakek," ucap Mila memberikan pengertian kepada Andrew dan juga Syifa dan tentunya dibalas anggukan oleh keduanya.
"Iya Mama, pokoknya Andrew dan Syifa main-main disekitar rumah saja kok, enggak mau jauh-jauh sama teman yang lain, karena mereka juga pasti enggak dikasih juga sama orang tuanya kalau bermain jauh," jelas Andrew yang membuat Mila tersenyum puas, sebab si sulung selalu saja menjawab ucapannya dengan cerdas.
Tahu kalau anaknya bermain hanya disekitar rumah, membuat Mila menjadi lega dan setelahnya baru masuk ke dalam kamarnya untuk sekedar beristirahat sejenak.
Di sisi lain, Ibra yang sudah kembali menuju ke rumahnya tampak begitu terkejut, sebab rumahnya saat ini tampak begitu sepi dengan beberapa gembok yang mengelilinginya. Jangankan untuk masuk ke rumah, hanya untuk sekedar membuka gerbangnya saja Ibra tidak bisa, sebab beberapa pasang gembok yang mengelilinginya, sehingga mau tidak mau Ibra mencoba untuk memanjatnya dari atas.
"Huh sial, siapa sih yang menggembok rumah ku, pasti Pak Kasman si penjaga rumah yang tidak becus itu, lihat saja setelah aku melihatnya, maka aku pecat saja langsung," gerutu Ibra karena dirinya harus bersusah payah untuk memanjat gerbang rumahnya agar bisa masuk ke dalam rumah.
Baru saja Ibra berhasil memanjat gerbang rumahnya, kembali Ibra harus dibuat kesal, sebab pintu rumahnya pun ikut digembok, sehingga membuat Ibra tidak bisa untuk masuk ke dalamnya.
"Dasar Kasman sial, penjaga rumah itu sangat tidak becus sekali, pokoknya mulai hari ini aku akan memecatnya tanpa pesangon," marah Ibra karena lagi dan lagi pintu rumahnya digembok.
Tanpa Ibra sadari, kalau sebenarnya semua itu sudah diatur oleh ayahnya sendiri. Dimana, setelah kembali dari ruang sidang, Pak Arman langsung memerintahkan beberapa bodyguard nya untuk mengunci rumah Ibra, termasuk mengunci gerbang rumahnya.
__ADS_1
Sebab, menurut Pak Arman, Ibra sudah tidak pantas lagi untuk tinggal di rumah itu, karena sebenarnya pemilik rumah itu adalah Mila. Ya, tanpa Ibra ketahui kalau sertifikat rumahnya sudah menjadi atas nama Mila, sehingga sudah selayaknya yang memasuki rumah itu adalah Mila beserta kedua anaknya.
"Ah sial, tapi tunggu dulu, jangan-jangan Ayah lagi yang sudah menggembok rumah ku, ya pasti ini ulah ayah," monolog Ibra yang kemudian bergegas kembali menuju rumah orang tuanya.