
Sementara itu, di kantor Arya terlihat kedatangan seorang wanita yang tak lain adalah Anya, teman masa kecilnya.
Anya mengenakan blazer ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya, sehingga siapa saja laki-laki yang melihatnya pasti akan tergoda.
"Ck, memang karyawan Mas Arya rendahan sekali ya, tidak pernah melihat wanita cantik seperti ku, tapi lumayanlah sepertinya penampilanku sudah pas dan semoga Mas Arya akan tergoda denganku," ucap Anya dengan seringai tipisnya dan langsung mencoba masuk ke dalam ruangan Arya.
Tok.
Tok.
Tok, suara pintu yang diketuk oleh Anya.
"Masuk saja!" teriak Arya dengan sedikit keras, sebab untuk membuka pintu rasanya Arya sangat malas, apa lagi saat ini Arya sudah disuguhkan beberapa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.
Setelah dipersilakan masuk, tentu Anya langsung bergegas masuk ke dalam dan terlihatlah Arya yang sedang fokus dengan dokumennya.
"Ternyata kamu sangat tampan ya Mas, apa lagi saat kamu serius dalam bekerja," batin Anya dalam hati.
Sejurus kemudian, Anya dengan berjalan perlahan-lahan mendekati Arya yang masih fokus dengan dokumennya dan tanpa aba-aba, Anya langsung duduk di antara kedua paha Arya dengan tangan mengalungkan ke leher Arya sembari mengusap tengkuknya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Arya kaget dan langsung mendorong Anya dari pangkuannya.
"Anya, apa yang kamu lakukan tadi!" ucap Arya dengan sedikit marah, sebab tingkah laku Anya yang tiba-tiba seperti wanita murahan.
"Aduh, sakit tahu Mas, kan Anya cuma bercanda saja tadi, siapa suruh kamu terlalu fokus dengan dokumen itu, ya jadinya aku iseng-iseng saja sekalian," kilah Anya yang sebenarnya ingin menggoda Arya.
"Iya, tapi jangan kamu lakukan seperti tadi, oh iya kamu ada keperluan apa sehingga masuk ke ruangan ku?" tanya Arya.
"Itu Mas, aku butuh pekerjaan, apa lagi setelah selesai masa studi ku sampai saat ini aku masih menganggur, oh iya di tempat Mas masih ada lowongan kerja kan?" tanya balik Anya.
"Tidak ada Anya," jawab Arya yang sekarang masih terfokus dengan dokumennya.
"Ih, masa tidak ada sih Mas, aku capek tahu menganggur terus," rengek Anya yang membuat Arya menjadi sulit berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ayolah Mas, kasih aku pekerjaan, pasti aku akan rajin kok kerjanya, serius deh," sambung Anya kembali dengan mengacungkan dua jarinya.
"Huh, baiklah kamu bisa bekerja di sini sebagai sekretaris Mas, menggantikan Pak Tarno sementara yang masih dinas di luar negeri, tapi setelahnya kamu bisa bekerja sebagai staf biasa ya."
"Baik, terima kasih ya Mas," senang Anya dengan sadar mencoba memeluk Arya, sehingga saat ini, jarak pandang keduanya sangat dekat dan saling menatap satu sama lain.
Perlahan-lahan, Anya mencoba mengecup bibir Arya dan tanpa sadar Arya membalas kecupan Anya. Namun, saat mereka saling beradu kecupan, tiba-tiba suara dering telpon mengagetkan mereka dan langsung saja Arya mendorong Anya kembali sembari menatap tajam ke arahnya.
Setelah itu, Arya mencoba mengangkat teleponnya yang ternyata panggilan dari sang istri.
"Halo Mas, nanti sebelum pulang kerja Mila titip beberapa daging ya di supermarket, bisa kan Mas membelinya sepulang kerja?" tanya Mila diseberang telepon.
"Bisa kok sayang, nanti sepulang kerja Mas akan singgah kok."
"Oh iya udah, kalau begitu Mila tutup ya Mas teleponnya, semangat kerjanya Mas," sahut Mila dan setelah itu memutuskan sambungan telepon.
Setelah Arya selesai menelepon istrinya, kemudian Arya beralih menatap tajam ke arah Anya yang tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Anya, lain kali kamu jangan mengulangi hal tersebut, ingat aku adalah seorang pria beristri!" marah Arya kepada Anya, bahkan terlihat kalau saat ini kedua tangan Arya sudah mengepal dengan sangat erat.
"Iya itu di luar, tapi ini di Indonesia, ingat aturannya saja berbeda, jaga sopan santun kamu, lain kali kalau kamu seperti itu aku tidak akan mengizinkan kamu bekerja di sini." Ancam Arya.
"Iya Mas, lain kali Anya tidak akan melakukan hal itu, kalau begitu Anya permisi keluar dulu ya Mas, besok Anya akan kembali ke sini untuk bekerja."
"Hmm," gumam Arya dan setelahnya Anya keluar dari ruangan Arya.
"Huh, hampir saja aku tergoda dengan Anya," batin Arya dalam hati seraya meruntukki kebodohannya karena sudah membalas ciuman Anya.
Sementara itu, Anya yang sekarang sudah berada di luar ruangan Arya tampak tersenyum senang, sebab rencananya nanti pasti akan berhasil. Apa lagi Arya mudah sekali untuk dia goda.
"Lihat saja, sebentar lagi kamu akan berada digenggaman tanganku Mas, pokoknya posisi wanita itu akan tergeser untukku," ucap Anya dalam hati, sembari tersenyum senang, sebab dirinya berhasil membuat Arya membalas ciumannya.
......................
__ADS_1
Kembali lagi dengan Mila, yang saat ini harus menghadapi drama dari Tante Rina, dimana Tante Rina menuduh Mila meracuni dirinya dengan membuatkan minuman yang terasa sangat pahit, seperti telah dituangkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Uweek, minuman apa yang menantu kamu buat ini Salwa, kenapa rasanya pahit sekali sih," marah Tante Rina.
"Hah pahit, aku tidak merasakan pahit kok, malah ini enak, manisnya pas," jelas Bu Salma.
"Kalau kamu tidak percaya coba ini, aku yakin pasti menantu kamu mau meracuni ku," ucap Tante Rina dan setelahnya menyodorkan minumannya ke Bu Salma.
"Tidak mungkin menantuku seperti itu, biar aku coba minuman kamu," balas Bu Salma dan setelahnya meminum minuman Tante Rina dan seketika itu pula, Bu Salma memuntahkan minuman tersebut dan percaya kalau rasa minuman itu sangat pahit.
"Uweek, kenapa minuman mu pahit sekali?" tanya Bu Salma.
"Ya entah, itu kan buatan menantu kesayangan kamu," sindir Tante Rina dan setelahnya Bu Salma memanggil Mila yang saat ini sedang berada di dapur.
"Mila, ke sini sebentar sayang!" panggil Bu Salma.
Mendengar ada yang memanggilnya, Mila lalu bergegas menuju ke arah sumber suara.
"Iya Ma, ada apa ya?" tanya Mila.
"Ck, tidak usah pura-pura, kamu pasti mencampurkan racun kan di dalam minuman Tante!" seru Tante Rina dengan marah.
"Hah racun, Mila tidak ada menambahkan apa-apa kok ke dalam minuman Tante," jawab Mila dengan mengernyitkan keningnya, sebab Mila masih tidak paham akan tuduhan Tante Rina.
"Sini, biar Mila coba minuman Tante," sambung Mila kembali dan langsung meminum minuman Tante Rina dan ternyata memang benar rasanya sangat pahit. Namun, pahit ini sangat tidak asing bagi Mila karena rasanya seperti cuka, ya cuka yang biasa untuk digunakan ke dalam bahan makanan.
"Bagaimana, iya kan kamu meracuni saya!" tuduh Tante Rina.
"Huh, ini bukan racun Tante tapi cuka, tapi tunggu kenapa di minuman Tante ada cuka, kan Mila tidak ada menambahkan cuka sama sekali," jelas Mila dan setelahnya mencoba minuman Mama mertuanya yang ternyata rasanya sangat berbeda dengan milik Tante Rina.
"Apa, cuka?" tanya Bu Salma.
"Iya Ma, ini rasa cuka, tapi Mila tidak menambahkan cuka kok ke dalam minuman Tante Rina, kan kalau memang minuman Tante Rina pahit, tapi kenapa di minuman punya Mama, Mila tidak merasakan pahit, padahal Mila menuangkan minuman itu dari teko yang sama," tunjuk Mila ke arah teko kecil yang dia letakkan di ujung meja ruang tamu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mila, membuat Tante Rina langsung berkeringat dingin, sebab dirinya takut ketahuan kalau dia lah yang telah menuangkan cuka secara diam-diam ke dalam minumannya, agar memudahkannya untuk memfitnah Mila.