
Setelah selesai makan siang, selanjutnya mereka membahas masalah pernikahan antara Ibra dengan Mita yang tanpa diketahui oleh Mita. Sebab bosnya sendiri hanya menyuruh dirinya bersandiwara untuk menjadi calon istrinya, bukan untuk menjadi istri sungguhan.
"Nah, karena Ayah melihat kalian sepertinya memang sudah serius satu sama lain, maka langsung saja, kita membahas pernikahan kalian ya, untuk Nak Mita kira-kira, kapan kamu mau mempertemukan kami dengan keluarga Nak Mita, agar secepatnya kita bisa membahas bersama-sama pernikahan kalian," ucap Pak Arman yang membuat Mita tersentak kaget. Sebab, rencananya dengan Ibra bukanlah seperti ini yang dia inginkan.
"Hah, pernikahan Pak!" jawab Mita dengan terkejut.
"Iya, kan Ibra memperkenalkan kamu ke sini karena mau membahas pernikahan kalian kan, jadi ya lebih baik kita langsung membahasnya sekarang saja Nak, kan lebih cepat lebih baik, iya kan Ma?" tanya Pak Arman kepada Bu Hana.
"Iya, benar tuh Yah," timpal Bu Hana yang membuat Mita menelan ludahnya dengan kasar sembari melirik ke arah Ibra.
Dengan gerakan matanya, Mita dapat menangkap kalau saat ini Ibra tampak tak acuh, sehingga membuat Mita harus pintar memutar otaknya agar jawaban yang dia lontarkan tidak menyakiti hati orang tua Ibra.
"Anu, kalau masalah itu Mita serahkan saja ke Mas Ibra, karena Mita ikut saja apa kata Mas Ibra," balas Mita yang menumpahkan masalah ini ke Ibra.
Mendengar perkataan Mita, membuat Ibra memelototkan kedua matanya, karena mendengar perkataan Mita yang tak terduga, ya tak terduga sebab pertanyaan orang tuanya, Mita lemparkan ke dirinya.
"Ayah sama Mama jangan khawatir, lusa Ibra akan bertemu dengan orang tua Mita kok, jadi tenang saja secepatnya kita akan membahas tentang pernikahan ini," kilah Ibra dan setelahnya langsung melanjutkan obrolan ringannya.
Puas mengobrol ringan sampai-sampai tak terasa waktu menjelang sore, akhirnya Mita mencoba untuk berpamitan pulang ke orang tua Ibra.
Tante sama Om, Mita balik pulang dulu ya, soalnya hari sudah mulai gelap," ucap Mita.
"Oh iya, aduh gara-gara kita mengobrol panjang jadi lupa waktu, ya sudah biar pulangnya diantar sama Ibra saja ya Nak," balas Bu Hana.
__ADS_1
"Tidak usah Tante, Mita bisa kok pulangnya naik ojek online," jawab Mita. Namun Bu Yana melarang Mita untuk naik ojek online, hingga jadilah saat ini Mita diantar pulang oleh Ibra.
Selama perjalanan pulang menuju rumah Mita, tampaknya Ibra masih diam saja dan tidak berniat membahas masalah pernikahan yang disinggung oleh kedua orang tuanya.
"Pak Ibra, jadi bagaimana ini, apa sandiwara nya kita hentikan saja di sini, agar aku minta maaf kepada orang tua Bapak atau bagaimana, kan kita tidak mungkin menikah Pak," ujar Mita memulai pembicaraannya.
"Huh, aku pun tak tahu, kalau kita bilang hubungan kita hanya bohongan saja, bisa-bisa aku digorok tuh sama ayahku sendiri, atau gini saja, bagaimana kalau kita buat kontrak pernikahan," ide Ibra yang tiba-tiba saja terlintas di dalam pikirannya.
"Hah, maksudnya kita sandiwaranya sampai menikah gitu Pak, tapi nikahnya hanya nikah kontrak?" tanya Mita.
"Iya semacam seperti itu, bagaimana kamu mau tidak, nanti aku akan menambahkan lagi bonus untukmu, dua kali lipat," iming-iming Ibra yang membuat Mita menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan isi otak bosnya.
Bosnya pikir pernikahan adalah ajang untuk bermain-main, padahal yang Mita tahu kalau pernikahan adalah salah satu acara sakral yang harus siap untuk menanggung resiko ke depannya.
"Ck, bilang saja kalau kamu ingin aku nikahi sungguhan kan karena aku kaya dan juga tampan, tapi maaf hatiku ini bukan untukmu," imbuh Ibra dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, karena dia pikir Mita tidak mau diajak bersandiwara sebab dirinya ingin dia nikahi sungguhan.
"Bukan masalah itu Pak, saya memang tidak mau saja dan saya juga tidak suka kok dengan Bapak, karena Bapak bukanlah kriteria pria idaman saya," ucap Mita dengan perkataan telak yang membuat Ibra menjadi malu.
"Apa, dia menolak ku, CK aku pikir wanita ini memang suka denganku, tapi sepertinya aku harus menaklukkan wanita ini agar dia tidak lagi menghina harga diriku, enak saja aku ditolak mentah-mentah, padahal kan aku sangat tampan," batin Ibra dalam hati.
"Tapi jika kamu tidak mau menikah dengan ku, maka kamu juga tidak boleh bekerja di perusahaan milikku dan juga aku akan blacklist kamu dari perusahaan mana pun, sehingga kamu akan sia-sia jika melamar kerja di perusahaan lain," ancam Ibra.
"Apa, kenapa Bapak enak sekali mengancam saya, sebenarnya kan perjanjian kita bukan ini dan kenapa Bapak mengusik hidupku ini sih!" jerit Mita karena kaget bosnya tiba-tiba mengancamnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak ada pilihan lain, jadi bagaimana apa kamu mau menikah denganku dan mendapatkan bonus dua kali lipat atau sudah siap untuk menganggur seumur hidup," tawar Ibra kembali namun dengan nada sedikit mengancam.
"Huh, baiklah aku ikuti apa mau Bapak, sekarang sudah puas kan!" balas Mita dengan suara keras yang membuat Ibra langsung tersenyum licik.
"Nah, kalau begitu kan dari tadi aku tidak perlu mengancam mu, oh iya sekarang tugasmu pikirkan bagaimana caranya orang tuaku bertemu dengan orang tua mu."
"Hmm, tapi Pak aku lupa mengatakan sesuatu, kalau selama ini aku hanya hidup dengan nenekku sedari bayi jadi ya orang tuaku tidak tahu, karena aku tidak mengenal mereka, jadi aku akan mengenalkan orang tua Bapak ke nenek saja," jelas Mita.
"Baiklah tidak masalah, kalau begitu sudah kita pastikan kalau lusa aku akan mempertemukan kedua orang tuaku dengan nenek mu," balas Ibra santai yang membuat Mita hanya menggelengkan kepalanya saja. Sebab bos nya ini selain suka mengancam, juga perkataannya mau seenak jidatnya saja tanpa meminta pendapat Mita terlebih dahulu.
Setelah hampir dua jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Mita, dimana rumah Mita hanyalah sebuah gubuk tua sederhana.
"Terima kasih Pak karena sudah mengantarkan saya pulang, oh iya mau masuk dulu Pak, saya buatkan minum untuk Bapak," ucap Mita. Namun, Ibra tidak fokus dengan ucapannya karena masih sibuk meneliti tempat tinggal Mita.
"Heh, kamu serius memang ini tempat tinggal mu?" tanya Ibra yang membuat Mita mengerutkan keningnya, sebab ucapannya tidak dijawab malah bosnya yang mengajukan pertanyaan untuknya.
"Benar Pak, memangnya kenapa ya?" tanya Mita balik.
"Tidak apa-apa, hanya saja rumah mu ini sangat jelek sekali, kalau aku jadi kamu pasti aku tidak betah untuk tinggal di dalam rumah ini," jawab Ibra secara gamblang tanpa memikirkan perasaan Mita.
"Ya tidak apa-apa Pak, yang penting masih memiliki tempat tinggal, jadi kita harus syukuri saja apa yang kita miliki," balas Mita yang membuat Ibra terdiam seketika, karena terpukau akan jawaban Mita.
Ternyata penilaian dirinya terhadap Mita tidaklah seratus persen benar, apa lagi dirinya sempat berburuk sangka kalau Mita mau bersandiwara dengannya karena uang untuk dirinya berfoya-foya. Namun, setelah Ibra sedikit tahu keadaannya, membuatnya menjadi paham karena mungkin saja uang yang dia berikan untuk menghidupinya dan juga mungkin untuk memperbaiki rumah yang tampak seperti gubuk jelek di mata Ibra.
__ADS_1