
Setelah selesai bekerja, kini Ibra dan Mita di satu mobil yang sama karena ingin bersama-sama menuju ke rumah Mita bersama dengan kedua orang tua Ibra.
"Pak, menurut Anda apa tidak sebaiknya kita bertemu di satu tempat yang bagus, kenapa harus di rumah saya, nanti takutnya membuat ke dua orang tua Bapak menjadi tidak nyaman lagi," ucap Mita.
"Sudahlah, orang tuaku bukan yang seperti itu, mereka bisa nyaman dimana saja, bahkan dulu pernah tuh pacaran di kandang babi secara sembunyi-sembunyi, tapi ya nyaman-nyaman saja buktinya," balas Ibra sembari fokus mengendarai mobilnya.
"Oh, kalau begitu syukurlah Pak, jadi saya tidak perlu khawatir lagi," imbuh Mita pelan.
Hampir beberapa jam mereka mengendarai mobilnya, akhirnya Ibra telah sampai di kediaman rumah orang tuanya dan nanti berangkat bersama-sama menuju ke rumah Mita.
"Nak, ayo kita sekarang saja ke rumah calon istrimu," ucap Pak Arman yang memang sudah menunggu kedatangan Ibra dan Mita. Setelahnya mereka lanjut menuju ke kediaman Mita.
Sama seperti kemarin, perjalanan mereka kali ini juga memakan waktu hampir dua jam dan akhirnya mereka telah sampai di halaman rumah Mita.
Dapat dilihat sendiri, ternyata keadaan rumah Mita sangatlah sederhana, bahkan masih dikatakan jauh lebih layak dari pada hunian pada umumnya, menurut pemikiran kedua orang tua Ibra.
"Nak Mita, apa ini rumah mu?" tanya Bu Hana.
"Iya Tan, kenapa ya Tan, apa Tante kurang nyaman, kalau kurang nyaman di sini ada rumah makan kok Tan, kita bisa mengobrol di rumah makan itu saja," balas Mita yang mendapatkan gelengan kepala dari Bu Hana.
"Tidak kok sayang, ini nyaman-nyaman saja kok rumahnya."
"Syukurlah kalau Tante merasa nyaman di rumah Mita, oh iya ayo masuk Tante, Om sama Mas Ibra," ucap Mita mempersilakan Ibra dan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Setelah mereka masuk dan duduk di ruang tamu, Mita lalu memanggil Nek Ijah untuk ikut bergabung.
"Perkenalkan Tante dan Om, ini adalah Nenek saya, namanya Nek Ijah, dialah keluargaku satu-satunya dan Nek, perkenalkan ini orang tua Mas Ibra namanya Tante Hana dan juga Om Arman," jelas Mita yang mencoba saling mengenalkan Neneknya dengan orang tua Ibra.
Setelah itu, barulah Pak Arman memulai pembicaraan mengenai persiapan pernikahan Ibra dan juga Mita.
"Nek, jadi niat kami datang ke sini, ingin meminang cucu Nenek untuk anakku ini dan juga sekaligus membahas acara pernikahan mereka, menurut Nenek bagaimana, apa Nenek setuju jika cucu Nenek menikah dengan anak kami?" tanya Pak Arman dan Nek Ijah hanya menganggukkan kepala saja sebagai tanda setuju dan setelah itu berbicara dengan nada yang kurang jelas.
Sehingga membuat Ibra, Pak Arman dan juga Bu Hana mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan ucapan Nek Ijah.
Melihat hal itu, Mita kembali mengucapkan perkataan yang sama persis dengan perkataan neneknya, agar mudah dipahami oleh Ibra dan kedua orang tuanya.
"Jadi begini Om, kata Nenek saya, dia sudah menyerahkan semuanya kepada saya, jadi apapun itu keputusan nya, Nenek akan terima," jelas Mita yang membuat ke tiga orang itu menganggukkan kepalanya.
"Kalau Mita ikut saja sesuai dengan Om, Tante dan juga dengan Mas Ibra, hanya saja Mita ingin pernikahan kami dilaksanakan di KUA saja dan mungkin bisa syukuran dengan anak-anak panti asuhan sekitar," pinta Mita yang membuat Pak Arman dan Bu Hana menatap kagum ke arahnya.
"Mulia sekali hati mu Nak, sama seperti Mila dahulu," batin Pak Arman dalam hati.
"Kalau begitu, Tante ingin kalian menikah dalam waktu tiga hari ke depan ya, karena Nak Mita minta menikahnya di KUA saja, maka tidak ada kerepotan sama sekali kalau persiapan pernikahan kalian diadakan dalam waktu tiga hari ke depan," imbuh Bu Hana dan semua setuju dengan ucapannya.
Setelah pembicara itu selesai, barulah Mita membuatkan minuman untuk Ibra dan kedua orang tuanya, serta beberapa camilan yang memang Mita buat untuk keluarga Ibra.
"Nak, kue ini enak sekali, kamu memang pintar ya kalau soal buat makanan, bisa-bisa nanti kita buka usaha nih bersama-sama," puji Bu Hana yang ditunjukkan untuk Mita.
__ADS_1
"Tante bisa saja, Mita hanya bisa membuat ini saja kok Tan, Mita enggak terlalu pandai juga dalam hal masak memasak," balas Mita dengan tersenyum malu yang membuat Bu Hana gemas karena Mita terlalu merendahkan kemampuannya sendiri.
Puas mendapatkan jamuan dari Mita, maka saat ini Ibra, Pak Arman dan juga Bu Hana kembali pulang ke rumahnya.
"Tante dan Om, juga Mas Ibra hati-hati di jalan ya," ucap Mita saat mengantarkan Ibra dan kedua orang tua Ibra sampai di teras rumahnya.
"Iya Nak, kamu juga ya jaga kesehatan dan jaga terus Nenekmu," balas Bu Hana.
"Pastinya Tan, karena Mita hanya memiliki Nenek sebagai satu-satunya keluarga Mita."
"Iya Nak, nanti kan kalau kalian menikah jadi nambah keluarga kamu," celetuk Pak Arman sebelum masuk ke dalam mobilnya yang membuat Mita hanya tersenyum kecil saja. Sebab, andaikan kalau Pak Arman tahu pernikahannya dengan Ibra adalah pernikahan kontrak satu tahun, mungkin Pak Ibra tidak akan mengatakan kalau dirinya bakal menambah keluarga baru.
Ya mungkin menambah, walau hanya satu tahun saja. Namun, setelahnya pasti Ibra akan mengatakan kalau dirinya harus putus hubungan dengan orang tuanya, pikir Mita.
Selama diperjalanan pulang, Bu Hana selalu menceritakan tentang calon istri Ibra yaitu Mita yang ternyata memiliki kehidupan yang jauh dikatakan baik-baik saja, apa lagi melihat secara langsung bagaimana kondisi rumahnya yang masih jauh dari kategori layak huni.
"Yah, setelah mereka menikah, sepertinya Mama ingin rumah yang ditempati oleh Mita dan neneknya harus kita bantu renovasi, ya hitung-hitung sebagai hadiah pernikahannya, karena Mama sangat prihatin dengan kondisi rumah nya saat ini." Jelas Bu Hana yang melihat secara langsung kondisi rumah calon menantunya.
"Kamu benar Ma, nanti akan Ayah kerahkan teman-teman Ayah yang memang di bidang arsitektur untuk merenovasi kembali rumah calon menantu kita, Ayah juga ikut prihatin kok melihat kondisi rumahnya," balas Pak Arman yang mendapatkan pelukan dari Bu Hana, sebab suaminya ternyata juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
Sementara itu, Ibra yang sekarang mengendarai mobilnya sendirian juga ikut memikirkan terkait hal lain yaitu tentang mas kawin apa yang pantas untuk dia berikan kepada Mita, apa lagi dirinya melihat Mita yang memang penuh kesederhanaan dan meminta pernikahan nya pun hanya di KUA saja.
"Hmm, mas kawin apa ya yang cocok untuknya, kalau aku kasih uang dan perhiasan seharga ratusan juta, pasti dia akan menolaknya, jangankan mas kawin, cincin pun belum juga aku beli," batin Ibra dalam hati seraya mengacak rambutnya dengan kasar karena dirinya belum memiliki persiapan apapun untuk pernikahannya dengan Mita.
__ADS_1