
Ibra yang masih memikirkan ucapan Mila, seketika dirinya mulai menyesal, sebab sebelumnya Ibra telah menghujam Mila dengan kata-kata buruk yang memang sengaja dia lontarkan.
Ternyata benar apa kata Mila, kalau bukan perangai Mila yang buruk, melainkan dirinya yang memang seenak hati tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Kalau diingat-ingat lebih jauh, sesungguhnya tidak ada satu pun kekurangan dari diri Mila yang Ibra lihat, bahkan selama berumah tangga dengannya, kekurangannya itu pasti hanya ada di dirinya. Apa lagi di saat-saat dulu Mila selalu melayaninya dengan ikhlas tanpa ada paksaan sedikit pun yang membuat Ibra bisa nyaman kepadanya, ya walaupun dulu Ibra masih belum mencintainya.
Dan kini, entah kenapa ada sedikit rasa terbesit penyesalan di dalam dirinya. Apa lagi saat ini, Ibra masih memikirkan perkataan Mila yang tadi barusan dia lontarkan.
"Sial, ternyata bukan Mila yang memiliki kekurangan, namun kekurangannya itu berada di diriku, huh ternyata jika aku mengingat kenangan ku bersamanya dahulu, ingin rasanya aku menutup wajah ini karena malu mengingat sikap buruk ku kepadanya," batin Ibra dalam hati seraya mengingat-ingat memori dahulu dirinya bersama dengan Mila.
Sepertinya untuk saat ini, sudah dipastikan Ibra mulai mengalami rasa penyesalan terdalam yang tiba-tiba hadir di dalam dirinya. Bahkan terlihat sekali, bagaimana Ibra memakan makanan buatan Mila dengan raut wajah yang tampak begitu menyedihkan.
Sementara itu, Mila dan kedua anaknya turun bersama-sama dengan membawa koper dikedua tangannya yang melewati ruangan, tempat Ibra makan.
"Mila, kamu jadi pergi sekarang?" tanya Ibra seperti orang linglung, sebab tanpa Mila berkata pun, seharusnya dirinya juga tahu kalau Mila akan pergi untuk pindah ke rumah lamanya.
"Iya Mas, aku dan anak-anak akan pergi sekarang, karena mobil pengangkutan barang-barang kami juga sudah sampai, bahkan sekarang sudah ada di depan. Maaf ya Mas, Mila sama anak-anak mau pergi sekarang," ucap Mila sembari berjalan kembali menuju ke arah luar pintunya.
Ibra yang mendengar ucapan Mila, langsung segera bergegas menyusulnya.
"Mila, tunggu sebentar!" seru Ibra dengan suara kerasnya yang membuat Mila dan kedua anaknya seketika berhenti berjalan.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Mila.
"Anu, Mas tidak jadi mau menempati rumah ini, lebih baik kalian tinggal saja di sini dan Mas akan tinggal di rumah orang tua Mas," jawab Ibra yang membuat Mila melengkungkan senyumannya.
__ADS_1
Dengan perlahan, Mila mendekat ke arah Ibra.
"Mas, Mila tidak bisa untuk tinggal di rumah ini, benar apa kata Mas rumah ini bukan milik Mila dan sebenarnya Mila lebih nyaman untuk tinggal bersama kedua orang tua Mila, apa lagi anak-anak jadi punya teman bermain," jelas Mila yang membuat jantung Ibra seketika berdetak kencang.
Jantung Ibra berdetak kencang bukan karena dirinya sedang jatuh cinta, melainkan karena sakit mendengar perkataan Mila.
"Mila, sebelumnya Mas minta maaf karena Mas sudah berkata-kata yang tidak enak untuk kamu dengar dan Mas sadar, kalau rumah ini memang milik kamu karena Mas selama ini belum pernah memberikan apa-apa untuk kamu," ucap Ibra dengan sendu.
"Maaf Mas, tapi Mila tetap akan meninggalkan rumah ini karena kedepannya Mila takut Mas akan mengungkitnya kembali, jadi menurut Mila, pilihan yang paling benar yang Mila lakukan adalah tinggal di rumah kedua orang tua Mila," balas Mila bersikukuh untuk tetap kembali tinggal di rumah kedua orang tuanya.
"Huh, iya sudah tapi kamu tetap pegang sertifikat rumah ini ya, karena ini memang sudah menjadi hak milik kamu," ucap Ibra kembali seraya memberikan sertifikat rumahnya.
Setelah itu, Mila mengambilnya dan kembali melangkah pergi dari hadapan Ibra.
"Mila, entah kenapa ada rasa sakit di dalam hati ini saat Mas kembali mengingat semua perbuatan yang sudah Mas lakukan, Mas akan mencoba untuk mengenali rasa sakit ini, apa karena sakit akibat kasihan atau sakit karena Mas mulai ada rasa sama kamu, jika benar Mas ada rasa denganmu, maka Mas akan mengejar kamu Mila, sampai kita kembali bersama," batin Ibra sembari menatap kepergian Mila dan kedua anaknya.
Malam harinya, tampak Ibra tengah tertidur pulas di rumah miliknya yang sudah dia berikan kepada Mila mantan suaminya.
Ya, setelah melihat kepergian Mila dan kedua anaknya, Ibra kembali masuk ke dalam rumah itu.
Ibra melihat, beberapa kali bayang-bayang dirinya bersama Mila dan kedua anaknya tengah hidup di dalam rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan pernikahan dirinya dengan Mila yang kandas selama delapan tahun lamanya.
Ibra yang mulai mendekat ke arah bayang-bayang Mila, seketika bayangan itu langsung menghilang. Namun, saat hendak dirinya tidur di ranjang miliknya yang dulu bersama Mila, kembali Ibra melihat kalau di sisi kiri ranjang itu dirinya melihat Mila yang tengah tertidur, sehingga membuat Ibra ikut tidur juga dengan posisi memeluk bayang-bayang Mila yang ternyata hanyalah sebuah bantal guling kesukaan Mila.
Keesokan paginya, tampak Ibra terbangun dari tidurnya. Dimana dirinya yang masih mengingat kalau posisinya di ranjang itu sedang memeluk Mila yang ternyata hanyalah sebuah bantal guling. Sehingga membuat Ibra hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
__ADS_1
"Aduh, kenapa aku menjadi gila seperti ini ya sedari kemarin, masak aku kepikiran terus sih dengan Mila, kan aku tidak mungkin," terdiam sesaat.
"Apa mungkin aku jatuh cinta dengannya, ah ini tidak mungkin aku bisa jatuh cinta dengan mantan istriku, tidak ini tidak mungkin!" seru Ibra sembari memukul dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Sementara itu, di sisi lain tampak Mila mulai kembali bekerja dengan fokus untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang memang kemarin belum dia kerjakan.
"Ehem, serius amat sih mengerjakan dokumennya, baru juga satu hari cuti," ucap Arya yang mendatangi ruangan Mila.
Mendengar suara bos nya, seketika Mila menoleh ke arahnya.
"Eh ada Pak Arya rupanya, ya tentu saja Pak, saya serius mengerjakan dokumen ini nanti takutnya bos galak marah lagi dengan Mila," jawab Mila dengan nada becanda seraya tertawa kecil.
"Ck, sejak kapan aku galak, tidak pernah tuh galak kepada karyawan," seru Arya.
"Yakin Pak, padahal baru-baru ini Bapak memarahi pekerja baru loh, karena ada sedikit kesalahan di laporannya," jawab Mila kembali yang membuat Arya menjadi kikuk.
"Ya itu beda lah, soalnya kan dia sudah diajarkan berulang kali," kilah Arya yang membuat Mila kembali tertawa dengan keras, bahkan sangking kerasnya membuat karyawan lain pada menoleh ke arah Mila dan Arya.
"Hus, pelan kan suara kamu Mil, lihat itu karyawan lain pada terganggu."
"Iya Pak, maaf namanya juga kelepasan, oh iya Pak Arya ke sini ada apa ya?" tanya Mila.
"Oh itu, anu saya ingin mengajak kamu untuk makan siang bersama, ya kalau kamu tidak sibuk sih, sekali-kali aku mentraktir janda, pasti kan aku mendapat pahala."
"Hmm, baiklah Mila terima tawaran dari Bapak, kalau begitu Bapak pergi sana dari ruangan Mila, agar Mila selesai mengerjakan laporan ini tanpa adanya gangguan."
__ADS_1
"Hmm," ucap Arya yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Mila.
Jika dilihat, tidak adanya kecanggungan interaksi antara Mila dan bosnya, jawabannya adalah karena sekarang Mila dan Arya sudah semakin dekat layaknya hubungan seorang teman, sehingga membuat Mila tidak ada takutnya sedikit pun terhadap Arya.