Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Meeting


__ADS_3

Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Ibra lalu kembali melihat Syifa anaknya yang saat ini terlihat sudah sedikit membaik.


"Sayang, maafkan Ayah ya, karena Ayah, kamu jadi trauma seperti ini, maaf karena Ayah egois jadi hampir mencelakai kamu dan juga Kak Andrew," ucap Ibra yang menyesali perbuatannya, bahkan saat ini Ibra terlihat menitihkan air matanya.


Ibra yang menangis akibat perbuatannya, seketika membuat Syifa anaknya juga ikut menitihkan air matanya, sembari mencoba mengusap wajah ayahnya.


"Ayah, jangan menangis, Syifa jadi sedih" imbuh Syifa sembari mengelap wajah ayahnya yang terus dibanjiri air mata dengan tangan mungilnya.


"Sayang, kamu sudah mau bicara."


"Iya Yah," angguk Syifa dan setelahnya memeluk Ibra dengan erat.


Setelah semua sudah kembali normal, Ibra kemudian kembali mengantarkan kedua anaknya untuk pulang. Sebab, kalau untuk kembali ke sekolah sudah dipastikan akan telat dan berakhir akan mendapatkan hukuman bagi kedua anaknya.


"Sayang, kalian tidak apa-apa kan, Ayah tinggal di rumah sendiri?"


"Tidak apa-apa Yah," ucap Andrew yang diikuti anggukan kecil dari Syifa.


"Iya sudah kalau begitu Ayah berangkat kerja dulu ya, nanti setelah pulang kerja Ayah kembali lagi ke sini dan akan membawakan mainan untuk kalian."


"Waah, oke Yah, hati-hati di jalan ya Yah, jangan seperti tadi lagi," ucap Andrew dengan menasihati Ayahnya.

__ADS_1


Setelah dipastikan kalau kedua anaknya baik-baik saja dia tinggalkan di rumah, barulah Ibra kembali melajukan mobilnya menuju ke perusahaan, karena sebentar lagi akan ada pertemuan antara dirinya dengan perusahaan Arya yang kembali membahas kerja sama yang sempat tertunda.


Setelah kejadian tadi, Ibra jadi lebih fokus dalam mengemudi, bahkan saat dirinya kembali mulai melamun, maka Ibra berhenti sejenak dan kemudian membasahi wajahnya dengan air agar kesadarannya kembali seperti semula.


Sesampai di perusahaan miliknya, eh ralat maksudnya di perusahaan miliknya, Andrew dan juga Syifa, kemudian Ibra beralih langsung menuju ke ruang meeting karena saat ini baik Arya dan Mila telah menunggunya di ruang tersebut.


"Sekretaris Han, apa semua dokumen yang aku minta sudah kamu siapkan?" tanya Ibra ke Sekretaris Han.


"Sudah Pak, bahkan untuk perkembangan beberapa Minggu yang lalu juga sudah saya lampirkan," jawab sekretaris Han.


"Bagus, kalau begitu sudah bagus dan kita hanya perlu menjelaskannya saja ke mereka," balas Ibra dan kemudian masuk ke dalam ruang meeting.


"Maaf ya Pak Arya dan Bu Mila, jika saya datangnya terlambat," ucap Ibra dengan profesional.


"Nah, karena kita semua sudah berhadir di sini, maka kita lanjutkan saja meeting nya agar dapat mengefisienkan waktu, sebelumnya izinkan sekretaris saya yaitu sekretaris Han akan menyampaikan presentasi terkait perkembangan proyek kerja sama kita sampai hari ini, silakan sekretaris Han," ucap Ibra mempersilakan sekretaris nya.


"Baik semuanya, untuk laporan Minggu lalu terkait pembangunan hotel di pinggir pantai wilayah B tidak mengalami masalah, bahkan sampai saat ini kesiapan dari hotel tersebut sudah mencapai setengahnya yaitu 50 persen, kemudian untuk alokasi promosi wilayah B juga sudah baik, karena Bu Mila sangat pandai dalam memasarkan beberapa produk yang nantinya akan kita luncurkan bersama dengan selesai nya pembangunan hotel tersebut," jelas Sekretaris Han panjang lebar dan setelahnya baru mereka memulai berdiskusi yang lebih intens.


"Permisi Pak Arya dan juga Pak Ibra, di sini saya bukan mau menggurui, tapi dari penjelasan sekretaris Han, memang sudah benar hanya saja, baru-baru ini saya melihat beberapa warga di wilayah tersebut ada yang protes terkait pembangunan hotel ini, karena katanya akan merusak mata pencaharian mereka, padahal yang kita tahu setelah ditinjau, tidak ada berdampak satu pun mata pencaharian mereka terhadap pembangunan hotel ini, jadi dapat saya simpulkan bahwa ada kompetitor yang sengaja mengelabui mereka agar pembangunan hotel kita tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, sebab dari jarak 10 KM, saya melihat ada bangunan hotel juga sama seperti kita, bahkan bisa dipastikan selesai siapnya juga sama seperti selesai siap nya hotel milik kita," ucap Mila.


Mendengar perkataan Mila, membuat suasana di ruang meeting itu kian memanas, apa lagi Arya dan Ibra saat ini sudah terbakar emosi. Jika benar asumsi Mila, maka mereka tidak segan-segan akan menjatuhkan orang-orang yang telah mengelabui warga setempat di wilayah B.

__ADS_1


"Menurut saya, ini adalah masalah besar kalau begitu dalam beberapa hari ke depan lebih baik kita semua berangkat ke wilayah B dan memastikan lagi akar permasalahannya sehingga beberapa warga yang protes dapat kita tuntut atau berikan sangsi jika terbukti mereka sengaja mau menjatuhkan bisnis kita," seru Ibra dan kemudian mendapatkan persetujuan dari Arya.


"Saya setuju, kalau bisa, besok kita sudah harus berangkat, agar semakin cepat semakin baik dalam penyelesaian masalah ini," dukung Arya dan semuanya sepakat akan ikut berangkat besok paginya ke wilayah B.


Selesai meeting, kemudian Ibra mencoba mengajak Mila untuk makan siang bersama, namun Mila menolak nya dengan lembut, sebab Mila beranggapan kalau dirinya makan bersama dengan Ibra, maka harus dengan persetujuan dari Arya. Sehingga membuat Ibra tidak jadi mengajak Mila makan bersama, karena jika mereka makan siang bersama pun, Ibra juga harus tahan-tahan saat melihat kemesraan Arya dan Mila yang nantinya akan mereka tampakkan tepat dihadapan Ibra.


"Ya sudah kalau tidak bisa Mil, aku kembali ke ruangan ku dulu ya, maaf tidak bisa mengantar kamu dan Pak Arya ke bawah" ucap Ibra.


"Tidak apa-apa Mas," balas Mila dan setelahnya baik Ibra ataupun Mila, mereka pisah jalan ke arah masing-masing tujuannya.


Sore harinya, setelah Ibra selesai dengan rutinitas dari segudang pekerjanya, Ibra lalu mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumah Mila, dimana dirinya sudah berjanji akan bermain-main dengan kedua anaknya kembali. Namun, sebelum itu Ibra sudah membelikan beberapa mainan yang memang sudah dia janjikan untuk Andrew dan juga Syifa.


"Ayah," ucap serempak kedua anaknya dan langsung memeluk Ibra dengan raut wajah gembira.


"Huh, tenyata anak-anak Ayah berat juga ya, Ayah pikir masih sanggup menggendong kalian berdua sekaligus," keluh Ibra dan setelahnya Ibra langsung memberikan bingkisan berupa mainan yang dia janjikan untuk Andrew dan juga Syifa.


"Ini mainannya yang Ayah janjikan untuk kalian berdua."


"Wah, terima kasih Ayah, Andrew suka mobil mainan yang Ayah belikan," ucap Andrew dan diikuti oleh Syifa.


"Iya, Syifa juga suka boneka Barbie dari Ayah ini, apa lagi Barbie nya cantik," timpal Syifa.

__ADS_1


"Iya sayang, Barbie nya cantik persis seperti kamu." Puji Ibra yang dia tujukan untuk Syifa.


Interaksi antara Ibra dan kedua anaknya tidak luput dari pantauan Mila, bahkan saat ini Mila merasa terharu dengan kedekatan Ibra, sang mantan suami dan kedua anaknya yang semula Mila pikir itu rasanya sangat mustahil.


__ADS_2