Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Selalu Membahagiakan


__ADS_3

Selepas kembali pulang ke rumah, Mila lalu diperhatikan terus oleh Arya, baik dari segi makanan atau pun yang lain. Bahkan tak jarang, Arya membatasi kegiatan Mila yang terlihat terlalu berlebihan untuk ibu hamil.


"Sayang, jangan siram tanaman lagi, biar nanti Mbok Darmi saja yang menyiram tanaman favorit mu itu, pokoknya kamu jangan sampai kelelahan, apa lagi sekarang kamu lagi hamil loh," ucap Arya sembari memperingati Mila agar tidak boleh beraktivitas yang terlalu berlebihan.


"Ih, kelelahan dari mananya coba, orang ini cuma menyiram tanaman yang ada di depan rumah kok, lagi pula enggak bakal capek Mas, kan cuma siram pakai selang, bukan sampai mengangkat air, huh berlebihan sekali," gerutu Mila dengan memanyunkan bibirnya.


"Yak, mau membantah yah, awas saja nanti bibir kamu akan aku cium lagi," balas Arya.


"Ih, enggak mau ya, masak dari kemarin Mas gitu terus sih, nanti bibirku monyong kalau Mas cium terus," seru Mila sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya sudah, kalau enggak mau dicium ya jangan monyong lagi tuh bibir sama ikuti apa kata Mas, kan ini demi kebaikan kamu juga sayang."


"Hmm," gerutu Mila kembali seraya menyetujui perkataan Arya. Sehingga jadilah saat ini, Mila kembali ke tempat tidurnya tanpa melihat ke arah Arya karena kesal selalu dilarang olehnya.


"Huh, kesal lagi tuh, pasti malam ini aku tidak dapat jatah lagi, ya sudahlah enggak apa-apa demi keselamatannya dan juga keselamatan anakku," batin Arya dalam hati.


Saat Arya hendak menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba si bungsu Syifa dan juga Andrew langsung datang menghampiri Arya.


"Ayah, kita main-main yuk, Ayah jadi kuda seperti biasanya sedangkan Syifa sama Kak Andrew yang jadi penunggangnya" celoteh Syifa yang membuat Arya harus mengurungkan kembali niatnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Hmm, baiklah tapi habis itu bantuin Ayah ya."


"Hah, bantuin apa Yah?" tanya Andrew.


"Bantuin Ayah untuk meluluhkan hati Mama kalian, soalnya tadi Mama kalian Marah tuh Ayah larang menyiram tanamannya," ucap Arya.


"Ayah sih, biarkan aja kalau Mama mau nyiram tanaman, malah Ayah larang segala, tapi iya sudah nanti Andrew sama Syifa coba bujuk Mama." Jelas Andrew dan setelah itu Arya menepati janjinya untuk menjadi kuda bagi Andrew dan Syifa.

__ADS_1


Hingga akhirnya beberapa bulan berlalu, hubungan Arya dan Mila masih terjalin dengan harmonis, apa lagi segala bentuk perhatian, Arya curahkan untuk keluarga kecilnya, karena dia telah belajar dari kesalahannya dahulu.


Sampai sembilan bulan telah berlalu dan sekarang perkiraan kelahiran Mila hanya tinggal menghitung hari saja.


"Mas, kenapa ya rasanya perutku mulas sekali, padahal kan tanggal kelahirannya masih beberapa hari lagi, bukan sekarang," ucap Mila sembari mengelus perut buncitnya.


"Sayang, apa jangan-jangan kamu mau melahirkan, kan belum tentu prediksi dokter benar Sayang," balas Arya sembari mendekat ke arah Mila.


"Ha, tapi kan, eh adu sakit Mas perutku, sepertinya memang mau melahirkan aku Mas," ujar Mila kembali.


Dengan sigap, Arya langsung memapah Mila dan setelah itu memanggil Andrew dan juga Syifa untuk ikut menuju ke rumah sakit.


"Andrew sama Syifa ikut Ayah ya ke rumah sakit, soalnya adik bayinya udah mau keluar dari perut Mama," imbuh Arya dan setelahnya Andrew dan Syifa bergegas masuk ke dalam mobil Arya.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Mila terus mengadu kesakitan. Bahkan, sampai-sampai Mila tidak sadar telah mencengkeram kuat lengan Arya hingga membekas.


"Mas, rasanya Mila mau pipis di sini, Mila udah enggak kuat Mas!" jerit Mila yang membuat Arya menjadi panik.


Setelah sampai di rumah sakit, Mila langsung dilarikan ke dalam ruang persalinan dengan ditemani oleh Arya, sang suami.


"Andrew sama Syifa tunggu di luar ya sayang, Ayah masuk dulu, nanti Oma ke sini kok," ucap Arya.


"Iya, Ayah masuk saja ke dalam, kasihan adik bayinya mau keluar itu," jawab Syifa pelan dan sebelum masuk ke dalam ruang persalinan, tak lupa Arya mencium kedua anaknya.


"Sayang, cepat ke sini bantuin dokternya sayang," ujar Mila yang membuat Arya bingung seketika, sebab Arya tidak tahu harus membantu dengan cara apa.


"Pak Arya, tolong bantu saya ya, soalnya suster saya telat untuk datang ke rumah sakitnya, jadi tolong siapkan air hangatnya ya," perintah sang dokter dan dengan segera Arya mengambil air hangat sesuai dengan anjuran dokter.

__ADS_1


Setelah semua peralatan tersedia, kemudian dokter menunggu pembukaan Mila dengan sempurna dan setelah itu, barulah mulai proses melahirkan secara normal.


Melihat Mila yang penuh perjuangan melahirkan buah hatinya, membuat Arya menangis seketika, bahkan tangisan Arya terlihat sangat kencang hingga sampai keluar ruang persalinan.


"Sayang, kenapa kamu yang menangis, kan aku yang melahirkan bukan kamu," kata Mila disela-sela dirinya mengejan.


"Entahlah, rasanya pasti sakit sekali saat kamu mengeluarkan Arya junior kan," jawab Arya sembari menghapus air matanya.


"Kalau kamu mau tahu rasanya, sini mendekat lah Mas," seru Mila dan setelah itu Arya mendekat ke arah Mila. Saat Arya sudah di dekat Mila, secara mengejutkan tiba-tiba saja Mila langsung mencubit lengan Arya, hingga Arya mengadu kesakitan.


"Aduh, sakit Sayang!" teriak Arya.


"Itulah yang aku rasakan, sekarang kita sama-sama merasakan kesakitan mengeluarkan Arya junior Mas," jawab Mila kembali dan setelah itu Mila kembali mengejan dengan keras, hingga akhirnya keluarlah sang Arya junior.


"Syukurlah, anak Bapak dan Ibu akhirnya keluar juga dengan jenis kelamin laki-laki dan bobot badan tiga kilogram, semuanya normal," ucap sang dokter yang kemudian membersihkan bayi Mila dan Arya.


Selesai membersihkan Arya junior, sang dokter kemudian menyerahkan bayi tersebut ke tangan Arya.


"Ini Pak bayi Anda, silakan kalau Bapak mau menggendongnya."


"Hah, saya yang menggendong Dok?" tanya Arya dengan nada bergetar dan kemudian dokter tersebut menganggukkan kepalanya.


Setelah dokter tersebut menyerahkan bayinya ke tangan Arya, dengan sigap Arya menggendong sang bayi dengan perlahan-lahan dan tak berapa lama kemudian menyerahkan ke tangan Mila untuk diberikan ASI awal.


"Sayang, sepertinya bayi kita mau menyusu, tuh lihat saja mulutnya sudah komat kamit macam mbah dukun," kata Arya dan langsung mendapatkan gelak tawa dari Mila.


Setelah Arya melihat sendiri bagaimana sang istri melahirkan, membuatnya kembali bertekad akan terus membahagiakan sang istri dan akan selalu membahagiakannya, sebab perjuangan menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu ternyata sangatlah berat, terutama bagaimana beratnya sang istri melahirkan dengan penuh kesakitan yang membuat Arya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Aku akan selalu menghargai dan membahagiakan kamu sayang, pokoknya aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengkhianati cintamu," ucap Arya lembut yang membuat Mila tersenyum.


"Iya Mas, aku tahu itu, ingatlah laki-laki yang dipegang adalah janji dan pembuktiannya," balas Mila.


__ADS_2