
"Iya Yah, aku tahu jadi Ayah tidak perlu khawatir tentang itu, Ibra memang hanya kangen saja dengan anak-anak, kalau begitu Ibra pergi dulu." Ucap Ibra yang langsung melangkahkan kakinya ke luar dan langsung masuk ke dalam mobilnya untuk menuju ke rumah Mila dan anak-anaknya.
Sepanjang perjalanan, setiap ucapan ayahnya terus menggerayangi pikiran Ibra, sehingga membuat Ibra hampir tidak fokus mengendarai mobil miliknya.
"Ah sial, gara-gara ucapan Ayah, sekarang aku jadi kepikiran, pokoknya sampai kapan pun Mila tetaplah milikku dan tidak akan aku serahkan kepada orang lain," batin Ibra dalam hati.
Sebelum sampai di tujuannya, Ibra menghentikan mobilnya dibeberapa tempat untuk membelikan mainan dan makanan kesukaan Andrew dan juga Syifa, terutama makanan kesukaan Mila.
Setelah satu jam lebih, akhirnya Ibra sampai di rumah Mila.
Saat Ibra hendak melangkah masuk ke dalam rumah Mila, tiba-tiba Ibra dikejutkan dengan keberadaan sebuah mobil mewah yang terparkir di depan halaman rumah Mila.
Ibra bukanlah orang yang bodoh dan tidak tahu kalau mobil itu adalah milik rekan kerjanya yaitu Arya.
"Hah, untuk apa Arya datang ke rumah Mila, jangan-jangan," terpotong ucapannya karena bergegas masuk ke dalam rumah Mila.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ibra langsung masuk ke dalam ruang tamu Mila dan akhirnya dirinya melihat pemandangan yang begitu menyakitkan hati. Dimana saat ini, Ibra melihat kalau Mila dan Arya begitu mesra menautkan tangannya satu sama lain.
Mainan dan makanan yang dibawa oleh Ibra tadi, seketika langsung jatuh ke lantai semua, bahkan saat ini posisi Ibra berdiri membeku di tempat, tepat dihadapan Mila dan juga Arya.
Melihat hal itu, Mila dan Arya langsung melepaskan tautan tangannya dan buru-buru menoleh ke arah Ibra dengan mengerutkan keningnya masing-masing.
"Mas Ibra, Mas mau apa ke sini?" tanya Mila.
"Eh anu, Mas hanya mau ketemu dengan anak-anak saja, dimana anak-anak Mil."
"Oh, anak-anak ada di taman belakang Mas, mari biar Mila antar Mas ke anak-anak," ucap Mila dan setelahnya berjalan ke arah belakang rumah yang diikuti oleh Ibra dan juga Arya.
Dapat di lihat, sorot mata Ibra menatap Arya dengan begitu tajamnya, sampai-sampai sang empunya yang dilihat juga berbalik menatap Ibra dengan tajam.
__ADS_1
"Ck, sepertinya ada yang cemburu nih, melihat mantan istrinya bersama denganku," ucap Arya dengan pelan agar tidak terdengar oleh Mila.
"Siapa juga yang cemburu, mau kalian berpacaran pun aku tidak peduli," balas Ibra.
"Yakin, baguslah kalau begitu berarti kamu merestui hubungan ku dengan Mila bukan, apa lagi saat ini status Mila sudah menjadi tunangan ku," seru Arya dengan senyuman menyeringai.
"Apa, Mila sudah bertunangan dengan mu, itu tidak mungkin, Mila hanya menjadi milikku seorang," ucap Ibra yang tidak sengaja kelepasan berteriak. Sehingga membuat Mila terhenti sejenak jalannya.
"Mas, kenapa berteriak apa ada masalah atau ada yang lain yang membuat Mas berteriak?" tanya Mila sembari menatap aneh ke arah Ibra.
"Oh anu, tidak ada masalah apa-apa kok, cuma tadi mas terkejut saja ada ulat, iya ada ulat kok," kilah Ibra yang membuat Arya tertawa mengejek seketika.
"Ck, tadi tidak cemburu katanya, giliran aku bilang Mila menjadi tunangan ku, malah dia syok, dasar kamu Ibra, pasti saat ini kamu sangat marah bukan," batin Arya dalam hati.
"Sayang, kita ke dalam lagi yuk, katanya mau membahas masalah pernikahan," ucap Arya sembari memeluk Mila dari belakang.
Melihat kedua pasangan itu, membuat Ibra semakin terbakar cemburu, terbukti saat ini dirinya mengepalkan tangannya dengan begitu eratnya.
"Oh iya Mas, itu anak-anak, kalau Mas mau main sama mereka silakan, Mila tinggal dulu ya," seru Mila meninggalkan Ibra di taman belakang bersama anak-anaknya yang kemudian di susul oleh Arya dari belakang Mila.
"Ayah datang ke sini rupanya, mau ngapain ayah datang?" tanya Syifa.
"Ayah datang karena kangen sama kamu dan Kakak Andrew sayang," ucap Ibra sembari mencubit pelan pipi mungil Syifa.
Kemudian Ibra beralih mendekat ke arah Andrew, namun Andrew malah menjauhinya, sehingga membuat hati Ibra terasa sangat sakit.
"Sayang, maafkan Ayah ya, jika selama ini Ayah banyak salah sama Andrew, Ayah janji akan selalu menjadi Ayah yang baik buat kamu dan juga Syifa," imbuh Ibra yang tampak menyesali perbuatannya selama ini, sebab selama bersama dengan anak-anaknya, tidak sedikit pun Ibra dekat dengan kedua anaknya.
"Dari pada hanya sekedar ucapan, lebih baik buktikan dari tindakan kalau Ayah benar-benar menyesal," seru Andrew dan setelahnya langsung memeluk Ibra dengan erat seraya menumpahkan tangisannya, karena selama ini si sulung ternyata sangat merindukan Ibra, namun tidak dia tunjukkan karena takutnya membuat sang mama yaitu Mila merasa sedih.
__ADS_1
Ibra yang melihat Andrew menangis begitu derasnya, langsung menenangkan sang anak, walaupun dirinya juga ikut terharu atas ucapan Andrew.
"Sayang, pokoknya mau bagaimana pun, Ayah akan selalu di sisi kalian," ucap Ibra yang kemudian memeluk kedua anaknya.
Puas dalam suasana haru biru, sekarang Ibra mengajak ke dua anaknya untuk bermain bersama-sama, sampai hari menjelang sore.
"Andrew sama Syifa kita masuk dulu ya, lihat hari sudah sore, lebih baik kalian mandi dulu ya."
"Oke Yah," ucap serempak Andrew dan juga Syifa.
Sementara Andrew dan Syifa mandi, maka Ibra langsung duduk di ruang tamu sembari menunggu kedua anaknya.
"Loh Mas, kamu enggak pulang, kan hari sudah sore, Mila pikir Mas pulangnya bersamaan tadi sama Mas Arya," ujar Mila karena kaget melihat Ibra yang tak kunjung pulang.
"Oh, aku nanti pulangnya Mil, sembari mau mengajak anak-anak untuk makan di luar, ya sesekali aku harus menghabiskan waktuku untuk anak-anak" ucap Ibra menatap Mila dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Anu Mil, ada yang mau aku tanyakan ke kamu, apa benar kalau kamu dan Arya," terpotong ucapannya.
"Aku dan Arya memang statusnya bertunangan Mas, Alhamdulillah Mila tidak menyangka kalau Mas Arya tiba-tiba melamar aku sewaktu makan siang di kantor," ucap Mila menyela perkataan Ibra.
"Oh syukurlah, semoga kalian bisa langgeng sampai hari pernikahan, kalau bisa selamanya," ucap Ibra dengan senyum keihklasan yang dia tampilkan. Namun, lain halnya di dalam hati yang saat ini terasa sangat panas, apa lagi dirinya mendengar langsung dari Mila kalau sekarang mantan istrinya ini telah bertunangan dengan pria lain yaitu Arya.
Tidak beberapa lama menunggu, akhirnya Andrew dan juga Syifa selesai mandi dan sekarang tampak begitu rapi.
"Ayo anak-anak, kita harus pergi untuk makan malam bersama," seru Ibra yang disambut antusias oleh Andrew dan Syifa.
"Oh iya, Mama juga ikut kan ayah?" tanya Syifa yang membuat Mila dan Ibra saling melirik satu sama lain.
"Iya tentu saja boleh," jawab Ibra dan segera Syifa menggandeng tangan Mila untuk ikut bersama dengan mereka.
__ADS_1