
"Baiklah kalau kalian memang tidak ingin tinggal di sini dalam waktu yang lama bersama Ayah, kakek dan nenek, tapi Ayah harap kalian sering bermain ke rumah ini," pinta Ibra kepada kedua anaknya.
"Tenang saja Yah, pasti Andrew dan juga Syifa akan sering bermain ke sini, apa lagi saat kami libur sekolah," jawab Andrew.
"Iya Yah, Syifa juga pasti akan sering bermain di sini, karena asyik bisa bermain bersama Ayah, kakek dan nenek," timpal Syifa.
Jawaban dari kedua anaknya membuat Ibra tersentuh sekaligus terharu, sebab kedua anaknya sudah bisa menerima Ibra kembali, apa lagi saat ini kedua anaknya dapat membuat Ibra menjadi merasa punya tujuan hidup kembali, sebab dunia Ibra saat ini sudah dia alihkan untuk kedua anaknya.
Selesai Ibra berbincang-bincang dengan kedua anaknya, sekarang Ibra mengajak Andrew dan Syifa untuk bermain bersama di salah satu wahana permainan yang sering orang kunjungi yaitu water boom, ya di sinilah tempat berkumpulnya para orang tua dan anak-anak.
"Andre sama Syifa mau enggak kalau ayah ajak kalian bermain di water boom, kebetulan hari ini Ayah tidak ada kegiatan, jadi kita bisa bermain sepuasnya," ucap Ibra yang membuat kedua anaknya langsung tertawa girang, sebab Andrew dan Syifa sudah lama tidak bermain di wahana air lagi, sehingga ketika Ibra mengajaknya, maka Andrew dan Syifa langsung menyetujui ajakan ayahnya.
"Mau Ayah, tapi Syifa mau membawa pelampung ya Yah, soalnya Syifa mau berenang seperti duyung yang ada di televisi," jawab Syifa dan setelahnya buru-buru kembali ke kamarnya untuk mencari pelampung yang ingin dia bawa.
Sementara untuk Andrew sendiri, hanya biasa saja tidak membawa apapun, sebab Andrew sudah jago berenang. Apa lagi sewaktu kecil, Mila membawakan pelatih untuk mengajari Andrew berenang.
"Nah, karena kalian berdua sudah siap, maka ayo kita pergi ke water boom," seru Ibra senang yang diikuti oleh kedua anaknya.
Setelah percakapan itu, Ibra langsung berangkat bersama kedua anaknya menuju ke water boom. Walaupun Ibra kelihatan Lelah, namun tetap saja Ibra ingin menghabiskan waktunya kembali dengan kedua anaknya, sehingga rasa lelah yang dia miliki tergantikan dengan rasa senang karena bisa mengajak kedua buah hatinya bermain bersama.
Sekarang, hari sudah larut sore sehingga Ibra dan kedua anaknya sudah kembali ke rumah. Namun, saat Ibra hendak masuk ke dalam, dirinya dikejutkan dengan kedatangan Mila dan Arya, terutama Mila yang tiba-tiba berlari ke arahnya dan langsung menampar Ibra dengan keras.
"Plak," suara tamparan dari Mila ke arah pipi Ibra dengan keras yang membuat Ibra bergeming berdiri di tempat.
"Mas, memang tega kamu ya, membawa kedua anakku diam-diam, kamu pikir aku tidak khawatir hah! saat kamu tidak mengabari kalau mau membawa mereka!" ucap Mila dengan penuh emosi dan dengan nada yang tinggi sehingga membuat penghuni di rumah itu langsung datang ke arah Mila.
__ADS_1
"Aduh, ini ada apa kok pada ribut-ribut, memangnya kalian ada masalah apa lagi?" tanya Bu Hana yang tadinya langsung berlari dari dalam kamar saat mendengar suara Mila.
"Ini Ma, anak Mama diam-diam membawa kedua anakku tanpa mengabari aku dulu, apakah dia pikir aku tidak khawatir dengan Andrew dan Syifa," jelas Mila singkat.
"Ma, Ayah Ibra hanya mengajak kami bermain saja kok dan Andrew sama Syifa juga tidak kenapa-kenapa," ucap Andrew membela Ibra.
"Mil, maaf aku lupa unyuk mengabari kamu, kalau aku mau mengajak Andrew dan juga Syifa bermain, sama satu lagi Mil, Andrew dan Syifa juga anakku bukan hanya anakmu saja, ya walaupun dulu aku sangat brengsek sebagai Ayah, tapi aku ingin menghabiskan waktuku untuk bermain bersama dengan mereka, kau tahu duniaku sekarang hanyalah mereka, tidak ada yang lain jadi aku harap kamu bisa menanyakan hal ini baik-baik tanpa ada emosi, ingat Mil saat kamu marah atau apapun itu, usahakan jangan di depan anak-anak, aku tidak masalah mau kamu tampar atau pukul sepuas mu aku tidak apa-apa, tapi aku harap kamu jangan menunjukkan nya di depan Andrew dan juga Syifa karena akan membawa pengaruh buruk untuk kedua anak kita," jelas Ibra panjang lebar dan dengan suara yang lembut.
Bahkan tak terasa di kedua sudut mata Ibra mengalir dengan deras air matanya serta orang-orang yang mendengarkan ucapan Ibra pun, ikut menitihkan air mata.
Sekarang, rasa menyesal dan bersalah tengah menyelimuti hati Mila, apa lagi penjelasan Ibra mampu memporak-porandakan hatinya. Ya, Ibra benar seharusnya Mila bisa sedikit meredamkan emosinya di depan anak-anak, apa lagi tanpa sadar dirinya sudah egois dengan menyebutkan kalau Andrew dan Syifa hanyalah anaknya.
Setelah drama tamparan tersebut, Ibra bergegas pergi masuk ke dalam kamarnya dan dengan diikuti oleh kedua anaknya.
Mendengar perkataan Syifa anaknya, membuat kedua kaki Mila lemas seketika, sehingga tak sadar kalau saat ini Mila sudah terduduk di lantai dengan air mata yang membanjiri di kedua pelupuk matanya.
Dengan sigap, Arya langsung memeluk Mila seraya mencoba meredamkan tangisan Mila.
"Mas, Syifa benar aku sudah jahat kepada Mas Ibra, gara-gara keegoisan ku, malah membuat Andrew dan juga Syifa membenciku Mas," ucap Mila di pelukan Arya. Sementara Arya, hanya mengusap punggung Mila saja.
"Iya sudah kalau kamu tahu kamu salah, nanti setelah kondisinya sedikit membaik kamu minta maaf ke Ibra, Andrew dan juga Syifa." Ucap Arya dengan pelan dan langsung Mila menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dengan ucapan Arya.
Setelah beberapa jam kemudian, terlihat Ibra, Andrew dan juga Syifa keluar dari kamar milik Ibra dan langsung bergegas menuju ke ruang makan.
"Ma, hari ini Mama masak apa?" tanya Ibra.
__ADS_1
"Mama masak semur ayam Sayang, soalnya biar bisa di makan sama Andrew dan Syifa, karena kan mereka belum kuat untuk makan pedas."
"Oke Ma, ayo Andrew sama Syifa, duduk dulu, biar Ayah yang mengambilkan makan untuk kalian," ucap Ibra, namun saat Ibra ingin mengambilkan makan untuk Andrew dan juga Syifa, tiba-tiba Mila sudah lebih dulu mengambilkan makan untuk keduanya, bahkan yang lebih kaget lagi, Mila juga mengambilkan makan untuk Ibra.
"Kalau segini, cukup tidak Mas nasinya?" tanya Mila.
"Sudah Mil, biar Mas saja yang mengambil makan untuk Mas, lebih baik itu untuk Arya saja," jawab Ibra dan setelahnya mengambil makannya sendiri.
Mila yang mendapatkan penolakan itu, langsung menatap Ibra dengan perasaan sakit, sebab Mila pikir pasti Ibra masih marah dengannya.
Setelah semua orang mendapatkan makanannya, barulah makan malam itu di mulai, dimana tidak ada keributan sama sekali, hanya suara dentingan dari sendok yang mereka pakai.
Setelah selesai makan malam, semua orang kembali beraktivitas masing-masing, seperti Ibra saat ini yang masih bermain dengan kedua anaknya.
Saat Ibra bermain dengan Andrew dan juga Syifa, tiba-tiba Mila datang menghampiri mereka.
"Mas, aku minta maaf atas kejadian tadi, maaf aku sudah egois," ucap Mila dengan menundukkan kepalanya.
Ibra yang mendengar permintaan maaf dari Mila, langsung tersenyum.
"Iya, Mas sudah memaafkan kamu Mil, oh iya sepertinya hari sudah larut malam, lebih baik kamu sama Arya menginap di sini saja, lumayan masih ada beberapa kamar yang kosong, karena Mas takut terjadi apa-apa dengan kalian di jalan," balas Arya dan Mila langsung mengiyakan perkataan Ibra.
"Oh iya anak-anak, Ayah sudah lelah, besok lagi ya kita mainnya, ini juga sudah larut malam dan kalian harus tidur cepat karena besok sudah harus berangkat ke sekolah."
"Iya Yah, ayo Syifa kita tidur," ucap Andrew menarik tangan Syifa adiknya menuju ke dalam kamar.
__ADS_1