Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Nasib Ibra


__ADS_3

Berita tentang kelahiran anak dari Mila dan Arya telah sampai ditelinga Ibra, bahkan beberapa kali Ibra sering mendengarkan orang tuanya yang selalu menceritakan bagaimana lucunya anak Mila dan Arya, selain itu, kedua orang tuanya juga kerap kali menyindir Ibra karena dengan mudahnya melepaskan wanita sebaik Mila.


"Lihatlah Nak, sekarang hidup Mila lebih baik saat kamu telah melepaskan dirinya, sementara kamu yang melepaskannya semakin terperosok, apa lagi sampai saat ini kamu belum juga memiliki pasangan," sindir Pak Arman yang ditujukan untuk Ibra.


Mendengar hal itu, Ibra hanya menggerutu kesal saja dan keluar dari rumah orang tuanya dengan alasan kerja, ya itu hanya kilah Ibra saja yang tidak mau mendengarkan ocehan dan sindiran orang tuanya lagi.


Begitu juga pada saat dirinya sedang berada di perusahaan, semua karyawannya selalu menceritakan bagaimana kehidupan mantan istrinya yang begitu bahagia, apa lagi saat ini mereka telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi penerus perusahaan milik Arya.


"Ah sial, kenapa sih orang-orang pada membicarakan mantan istriku, ck kalau bukan karena mulutku ini, pasti saat ini aku masih bersama dengan Mila," gerutu Ibra yang tanpa sadar menabrak salah satu pekerjanya.


"Hei, kalau jalan pakai mata, jangan asal menabrak orang!" bentak Ibra marah.


"Hah, jelas-jelas yang salah itu Anda, kenapa malah menyalahkan orang lain, situ waras kah?" tanya seorang wanita yang ternyata ditabrak oleh Ibra.


"Oh, sudah berani kamu ya, kamu tidak tahu kah saya siapa."


"Tidak, untuk apa saya harus tahu Anda, bukan pemimpin perusahaan ini juga kok, sama-sama pekerja saja belagu," ketus wanita tersebut yang membuat beberapa karyawan lain menatap wanita tersebut dengan tatapan iba.


"Heh, kamu yang di sana, cepat ke sini!" perintah Ibra dengan menunjuk salah satu karyawannya.


"Iya Pak Ibra, ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan tersebut.


"Saya tanya sama kamu, pasti kamu kenal kan siapa saya?"


"Kenal Pak, tentu saja Bapak adalah pemimpin di perusahaan ini," jawab sang karyawan dengan pelan dan dengan kepala yang menunduk ke bawah.


Mendengar perkataan karyawan tersebut, seketika perempuan yang ditabrak oleh Ibra langsung terdiam di tempat, apa lagi saat mendengarkan karyawan tersebut yang mengatakan kalau laki-laki yang menabraknya adalah pemimpin perusahaan ini.


"Aduh, tamatlah riwayat mu Mita, kenapa sih kamu bisa berurusan dengan Bos di perusahaan ini, apa lagi kamu baru mulai bekerja hari ini," batin wanita tersebut yang ternyata adalah karyawan baru yang bernama Mita.

__ADS_1


Tak ingin kehilangan pekerjaan yang baru dia dapatkan, buru-buru Mita langsung minta maaf kepada Ibra, ya walaupun itu bukanlah salahnya.


"Maaf Pak Ibra, saya mengaku salah karena saat saya berjalan tadi tidak menengok ke Anda," ucap Mita dengan tatapan mengiba.


"Tolong ya Pak, jangan pecat saya, apa lagi saya baru pertama kali bekerja di sini, jadi saya tidak tahu wajah pemimpin saya, sekali lagi saya minta maaf Pak," sambung Mita kembali.


"Ck, kemana sikap sombong mu tadi saat sebelum mengetahui siapa aku, sekarang saat tahu kalau aku adalah pemimpin di perusahaan ini, baru kamu meminta maaf, memang dasar tikus pengerat," seru Ibra dengan perkataan pedasnya. Setelah itu menyuruh Mita untuk menghadapnya di ruang kerja Ibra.


"Setelah ini, kau datang ke ruangan ku, segera sebelum makan siang!" sambung Ibra kembali dan setelahnya pergi begitu saja.


"Aduh, tamat sudah riwayat kamu anak baru, kenapa sih kamu bisa menabrak bos kita sendiri, asal kamu tahu ya, semua karyawan di sini pasti selalu menghindari Pak Ibra, karena yang kami tahu semenjak dirinya bercerai dengan Bu Mila, emosi Pak Ibra semakin labil saja, kadang hanya marah biasa dan kadang marahnya menjadi besar, apa lagi saat ini, sudah dipastikan kalau kamu akan dipecat olehnya," jelas salah satu karyawan tersebut yang tadi dipanggil oleh Ibra.


Sekali lagi Mita mendengar perkataan karyawan tersebut, dapat dipastikan kalau dirinya memang benar-benar akan dipecat oleh bos nya sendiri.


"Duh, dasar gara-gara mulut ini, aku harus kehilangan pekerjaan lagi," sesal Mita dan kemudian mencoba kembali bekerja seperti biasa.


Tok.


Tok.


Tok.


"Permisi Pak Ibra," ucap Mita.


"Silakan masuk saja, saya sudah menunggu mu di dalam ruangan ini!" seru Ibra dan setelahnya Mita terburu-buru masuk ke dalam ruangan Ibra.


"Pak Ibra, tolong Anda maafkan saya ya, jangan pecat saya Pak," ucap Mita yang lagi-lagi mengiba ke Ibra, bahkan tak tanggung-tanggung, sekarang Mita sudah bersimpuh di bawah kaki Ibra.


"Ck, ngapain kamu bersimpuh di bawah kakiku, berdirilah kau sekarang!" perintah Ibra. Namun, tetap diurungkan perintahnya sehingga membuat Mita masih betah di bawah kakinya.

__ADS_1


"Sekali lagi aku katakan berdiri, jika kamu tidak mau berdiri maka aku akan pecat kamu sekarang juga."


Mendengar ucapan Ibra, membuat Mita secepatnya langsung berdiri begitu saja.


"Nah, begini kan enak dilihat, oh iya tadi kamu mengiba kepada ku kan karena pekerjaan mu saat ini?" tanya Ibra dan langsung dibalas anggukan oleh Mita.


"Benar Pak, saya sangat butuh pekerjaan ini," ucap Mita pelan.


"Baiklah, tapi ada syaratnya jika kamu tidak mau dipecat dari perusahaan ku."


"Syarat, memang syaratnya apa Pak, tapi apapun itu akan saya laksanakan syarat dari Bapak, asalkan saya tidak dipecat," jawab Mita.


"Gampang saja, saya mau kamu jadi calon istri saya, tapi itu hanya bersandiwara saja untuk mengelabui orang tuaku, jadi bagaimana, apa kamu setuju, jika kamu setuju maka saya akan menambahkan bonus untukmu," tawar Ibra.


Mita yang mendapatkan penawaran dari Ibra, langsung berpikir keras seraya menentukan jawaban yang tepat dari penawaran yang diajukan oleh Ibra.


Dengan menarik napas panjangnya, Mita lalu mengatakan jawabannya.


"Huh, baiklah Pak, saya setuju jika harus bersandiwara menjadi istri Bapak, tapi Pak saya mau bonus saja dibayar dimuka, anggap saja nantinya saya akan berakting dengan baik dihadapan orang tua Bapak," jawab Mita yang membuat Ibra tersenyum puas.


"Baiklah tidak masalah, nanti sekretaris ku yang akan mentransfer uangnya, oh iya jangan lupa, mulai besok kamu sudah bisa bersandiwara menjadi calon istri saya, karena besok saya akan mengajakmu untuk bertemu dengan orang tua ku, ingat jika kamu gagal maka kamu akan saya pecat," ancam Ibra yang membuat Mita meneguk air liurnya dengan kasar.


"Baik Pak, tenang saja, pokoknya saya akan bersandiwara dengan semaksimal mungkin, apa lagi ini mengenai bonus, pasti saya akan bekerja dengan sangat baik."


"Hmm, kalau begitu kamu bisa keluar dari ruangan saya," usir Ibra dan setelah itu Mita keluar dari ruangannya.


Setelah keluar dari ruangan Ibra, hati dan jantung Mila langsung normal kembali seperti biasa dan ketegangan dirinya juga semakin berkurang, apa lagi saat ini dirinya tidak dipecat dan malah akan mendapatkan bonus dari bos nya jika dia pandai bersandiwara menjadi calon istri bos nya sendiri.


"Lumayan, akhirnya aku mendapatkan biaya pengobatan untuk nenek, tanpa harus mencari pinjaman lagi," batin Mita dalam hati. Ya, uang yang diminta Mita untuk uang muka adalah uang yang nantinya akan Mita gunakan untuk pengobatan neneknya yang terkena stroke.

__ADS_1


__ADS_2