
"Pak, mari silakan masuk biar saya buatkan minum," ucap Mita kembali dan setelah itu Ibra langsung menganggukkan kepalanya, karena dia masih merasa penasaran dengan kehidupan Mita.
Setelah Ibra masuk ke dalam rumah Mita. Dapat Ibra lihat kalau isi rumahnya hanyalah barang-barang rongsokan saja, apa lagi Ibra melihat isi rumah itu tidak ada satu pun yang dapat memanjakan matanya.
"Silakan duduk di sini dulu ya Pak, Mita mau ke dapur dulu mau membuatkan teh untuk Bapak," ujar Mita dan kemudian berjalan ke arah dapur. Namun, belum sampai menuju dapur, tiba-tiba saja Ibra bersuara.
"Kenapa kau tidak tanyakan dulu apa minuman yang aku inginkan, jangan seperti ini, masak aku belum tahu minum apa malah kamu memutuskan untuk membuatkan aku teh," ucap Ibra yang membuat Mita langsung menghentikan langkah kakinya.
"Oh iya, maaf Pak saya lupa, Bapak ingin minum apa yah?" tanya Mita dengan sedikit menggerutu di dalam hati.
"Nah, begitu kan enak, oh iya aku minta segelas air putih saja," pinta Ibra yang membuat Mita mengernyitkan keningnya, sebab Mita pikir bos nya akan meminta sesuatu minuman yang aneh, eh ternyata hanya segelas air putih saja.
"Baiklah Pak, sebentar saya ambilkan airnya," balas Mita dan bergegas mengambil segelas air putih untuk Ibra.
Saat Ibra ditinggalkan sendiri di ruang tamu itu, tiba-tiba saja Ibra dikejutkan dengan kemunculan seorang nenek-nenek menggunakan kursi roda yang datang menghampirinya.
Saat nenek-nenek itu tepat dihadapan Ibra, nenek tersebut langsung berbicara dengan bahasa yang kurang jelas dimengerti oleh Ibra, hingga yang bisa dilakukan oleh Ibra hanyalah menggaruk kepala saja.
"Aduh, maaf ya Nek, aku tidak paham dengan bahasa alien, maaf maksudnya tidak paham dengan bahasa Nenek," ucap Ibra yang langsung mendapatkan pukulan dari nenek tersebut.
"Duh, sakit Nek jangan pukul Ibra lagi, nanti Ibra balas malah nenek mengadu lagi pikirnya Ibra duluan yang menyakiti Nenek," sambung Ibra kembali yang membuat Nenek tersebut menghentikan pukulannya.
Setelah dirasa Ibra, nenek itu tidak memukulnya lagi, kemudian Ibra menatap nenek tersebut dengan dalam sambil meneliti setiap penampilannya.
Saat Ibra menatap Nenek tersebut, dapat Ibra ketahui kalau Nenek itu menderita penyakit kelainan mulut, karena Ibra lihat mulut nenek tersebut seperti bergeser dari tempatnya.
"Nek, apa Nenek menderita penyakit kelainan mulut, pantas saja pas Nenek bicara tadi Ibra tidak mendengarnya dengan jelas," ceplos Ibra yang membuatnya kembali dipukul dengan keras.
__ADS_1
"Duh, kenapa pukul Ibra lagi sih Nek, kan apa yang Ibra katakan memang kenyataan," sambungnya kembali sambil mengadu kesakitan.
Hinga, sampai Mita kembali ke ruang tamu tersebut dan melihat Neneknya sedang memukul bos nya.
Secepat kilat, Mita langsung menghentikan pergerakan tangan Neneknya yang masih terus memukul bos nya.
"Nek, kenapa Nenek memukul Pak Ibra, lihat tuh Pak Ibra jadinya kesakitan akibat ulah Nenek," ucap Mita sembari mendorong kursi roda Neneknya menjauh dari hadapan bos nya.
Setelah itu, baru Mita menghidangkan segelas air putih yang tadi diminta oleh Ibra.
"Pak maafkan Nenek saya ya, pasti badan Bapak sakit semua karena dipukuli oleh Nenek," imbuh Mita dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ibra.
"Tidak apa-apa kok, sakitnya hanya seperti digigit semut saja," balas Ibra.
"Walau semut Afrika sih," sambungnya dalam hati.
"Hmm," gumam Ibra dan setelahnya langsung minum segelas air putih tersebut.
"Oh iya, ngomong-ngomong itu Nenek kamu terkena penyakit kelainan mulut ya, kok mulutnya dimiringkan begitu?" tanya Ibra yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Neneknya Mita.
"Hah, bukan kelainan penyakit mulut Pak, hanya saja Nenek sedang terkena stroke, jadi kondisi mulut Nenek seperti itu," jelas Mita dan sekarang membuat Ibra paham akan kondisi Nenek itu dan kenapa langsung marah terhadapnya. Rupanya karena Ibra salah mengira, kalau Neneknya Mita bukan terkena penyakit kelainan mulut, melainkan karena stroke yang menyerangnya.
"Oh seperti itu, maafkan saya ya Nek, tadi saya asal ceplos saja kalau Nenek terkena penyakit kelainan mulut," kata Ibra dan setelahnya langsung menyalami Nenek Mita.
Melihat tingkah bos nya, Mita hanya tertawa kecil saja sembari menggelengkan kepalanya karena baru melihat seorang bos yang sungkem dengan neneknya sendiri.
"Sudah Pak, Nenek enggak marah kok, oh iya Nek perkenalkan ini Bos Mita namanya Pak Ibra dan ini Nenekku Pak, Namanya Nek Ijah," ucap Mita memperkenalkan kedua orang yang berbeda usia tersebut.
__ADS_1
"Iya Nek, saya atasan Mita sekaligus calon suaminya, jadi nanti akan ada orang tua saya yang berkunjung ke rumah Nenek, mungkin paling cepat besok Nek," celetuk Ibra yang membuat Mita membuka mulutnya lebar-lebar, sebagai reaksi kaget karena bos nya langsung asal ceplos saja mengatakan kalau dirinya adalah calon suaminya.
Mendengar hal itu, membuat Nek Ijah kembali memukul Ibra dan setelah itu berbicara dengan bahasa yang tidak jelas.
"Duh sakit Nek, oh iya itu Nenekmu bilang apa?" tanya Ibra kepada Mita.
"Nenek bilang, kenapa bocah kurang ajar ini yang menjadi calon suami cucuku," jawab Mita jujur.
"Hah, kurang ajar, Nek aku tidak kurang ajar kok, cuma memang bawaan saja seperti ini, tapi aku janji akan membahagiakan cucu Nenek," ucap Ibra yang membuat Nenek Ijah kembali menghentikan pukulannya.
"Huh, aman enggak dipukul lagi," batin Ibra dalam hati.
"Oh iya Nek, Ibra meminta restu kepada Nenek untuk nanti pernikahan kami ya," sambungnya kembali dan membuat Nenek Ijah menganggukkan kepalanya.
Sementara Mita yang melihat interaksi Neneknya dengan sang bos, hanya seperti orang bodoh dan tidak dianggap saja, sebab dirinya ada namun tak terlihat di mata mereka.
"Nek, sepertinya hari sudah mau menjelang malam, Ibra balik pulang dulu ya, besok Ibra akan datang bersama kedua orang tua Ibra ke sini," kata Ibra dan setelah itu lanjut berpamitan pulang ke Mita.
"Mita, aku pulang dulu ya, besok orang tuaku akan datang dan ingat perjanjian kontrak nikah kita akan aku berikan besoknya saat kamu sudah masuk kerja," jelas Ibra pelan.
"Iya Pak, aku ikut mau Bapak saja dan hati-hati di jalan Pak, jangan ngebut bawa mobilnya," balas Mita dengan memberikan nasihat kepada Ibra.
"Iya itu pasti kok, kalau begitu aku pamit pulang dulu," imbuh Ibra dan setelahnya bergegas pergi dari rumah Mita.
Selama perjalanan pulang, Ibra kembali mengingat semua tentang Mita yang ternyata hidupnya serba kekurangan dan hal itu membuatnya sadar, kalau sepertinya Ibra akan mencoba untuk lebih serius berumah tangga dengan Mita.
Namun, masih tetap untuk memberikan kontrak nikah kepada Mita agar secara tidak langsung dirinya tetap memberikan nafkah kepadanya dan tidak membuat Mita menjadi besar kepala karena Ibra telah menganggap pernikahannya adalah sungguhan.
__ADS_1