
"Ehem, sepertinya pekerjaan kalian sangat kurang ya, sampai-sampai masih bisa membicarakan orang lain, kalau begitu kamu dan Cika, segera menghadap ke ruangan saya," tunjuk Arya ke Mila dan juga Cika, setelah itu pergi kembali menuju ruangannya.
Sementara Mila dan Cika yang ditunjuk, hanya bisa pasrah saja dan bahkan saat ini mereka saling menyalahkan satu sama lain.
"Lihat kan Cika, aku sudah mengatakan kita jangan membicarakan bos, tapi kamu malah terus membicarakan dia dari belakang, sekarang lihat lah sudah habis riwayat kita kerja di sini, tinggal nunggu surat pengunduran diri saja ini." Kata Mila dengan kesal.
"Ya aku mana tahu, kamu juga tidak pakai kode atau apa, kalau ada Bos Arya di sini," balas Cika yang menyalakan Mila.
"Ck, kamu pikir saja sendiri, orang sudah kasih kode tapi kamu nya saja yang memang tidak peka Cika," timpal Mila dan setelahnya mereka berdua bergegas pergi untuk menghadap Arya.
Setiap langkah kaki mereka menuju ke ruangan Arya, setiap itu juga jantung mereka terus berpacu dengan sangat cepat, sebab saat ini baik Mila atau pun Cika memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan membuat mereka dipecat.
Tok.
Tok.
Tok.
Bunyi suara ketukan pintu yang diketuk oleh Mila.
"Permisi Pak, saya dan Cika izin masuk," ucap Mila dari luar pintu.
"Hmm, silakan kalian masuk," balas Arya dari dalam ruangannya.
Setelah Mila dan Cika masuk, mereka langsung dipersilakan untuk duduk tepat dihadapan Arya.
__ADS_1
"Kalian dipanggil ke sini sudah tahu kan, terkait apa?" tanya Arya.
"Sudah Pak," jawab Mila dan Cika serempak. Bahkan saat ini, diantara mereka berdua tidak ada yang berani menatap langsung ke arah Arya.
"Bagus kalau tahu dan sekarang kira-kira hukuman apa yang cocok buat orang yang suka membicarakan orang lain di belakang, apa kalian tahu kira-kira hukuman apa yang cocok?" tanya Arya kembali dan sontak Mila serta Cika langsung menggelengkan kepalanya.
"Maaf Pak kami tidak tahu hukuman apa yang pantas, hanya saja jika Bapak ingin memberhentikan kami dari pekerjaan ini, saya mohon biar saya saja yang diberhentikan, jangan Cika," ucap Mila yang kemudian memberanikan diri untuk menatap ke arah Arya.
"Oh, punya wewenang apa kamu sampai berani memerintah saya!" tegas Arya saat membalas ucapan Mila.
Satu hal yang paling tidak Arya suka adalah seseorang yang dengan berani memerintah dirinya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak ada yang berani memerintah Arya, sebab mereka tahu bagaimana watak Arya sedari kecil.
"Saya memang tidak memiliki wewenang apa-apa Pak, hanya saja jika Bapak memecatnya, saya kasihan karena masih banyak kebutuhan yang harus dia tanggung Pak, apa lagi Cika saat ini menjadi tulang punggung keluarga," jelas Mila.
"Saya rasa, kalau atas dasar kemanusiaan mungkin Pak Arya bisa mempertimbangkannya lagi, kalau begitu saya permisi untuk membereskan barang-barang saya," sambung Mila dan setelahnya langsung pergi begitu saja dari ruangan Arya.
"Huh, dasar bos aneh, sedikit-sedikit main pecat saja, padahal kan enggak membicarakan keburukannya sama sekali," gerutu Mila sambil membereskan barang-barangnya yang berada di atas meja.
Sekarang, Mila sangat yakin kalau bos nya pasti benar-benar akan memecat dirinya.
Saat semua barang-barangnya terkumpul, Mila langsung membawanya pergi begitu saja, hingga tiba-tiba dirinya berpapasan dengan Cika dan juga bos nya.
"Mila, kamu kenapa membawa semua barang-barang milik mu," ucap Cika pelan, seperti setengah nada berbisik.
"Iya kan saya dipecat, jadi ya harus membereskan barang-barang milikku sendiri," sahut Mila, namun kali ini dengan suara yang terbilang cukup keras.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu memang tidak mau bekerja di sini lagi dan sudah memiliki uang ya untuk membayar denda penalti, ya aku tahu kan denda penalti kamu tidak banyak, hanya lima ratus juta saja," ucap Arya dengan santai, namun sedikit menggunakan nada mengejek yang dia tujukan kepada Mila.
Mendengar perkataan Arya, bos nya sendiri seketika membuat Mila langsung membulatkan matanya, sebab Mila baru sadar jika siapa saja yang langsung keluar dari perusahaan ini, maka harus membayar denda penalti yang jumlahnya sangat besar. Apa lagi Mila mendengar langsung, total penalti yang dia bayar yaitu sebesar lima ratus juta, angka yang terbilang cukup besar, bahkan sangking besarnya Mila paling tidak harus mengumpulkan uang itu dari seluruh gajinya selama dua tahun.
"Kenapa angkanya besar sekali Pak, tapi jika Bapak yang memecat saya, berarti kan saya tidak membayar denda penaltinya," imbuh Mila yang malah mendapatkan senyum sinis dari Arya.
"Memang siapa yang memecat kamu, apa tadi saya ada bilang kalau kamu saya pecat, tidak bukan, malah kamu dengan begitu mudahnya mau mengundurkan diri, ya kalau saya malah senang kan lumayan menambah kas perusahaan," balas Arya yang tidak begitu paham dengan jalan pikiran Mila.
Setelah mengetahui kalau dirinya tidak dipecat oleh Arya, buru-buru Mila kembali mengembalikan barang-barangnya di atas meja.
"Cika, kenapa tadi kita tidak dipecat oleh Pak Arya, ceritakan dong intinya," ucap Mila yang merasa heran, sebab siapa saja yang sudah membicarakan bos nya di belakang, pasti langsung dipecat begitu saja.
"Oh tentang itu, jadi tadi setelah kamu keluar, aku memohon ke Pak Arya untuk tidak memecat kita dan juga aku mengatakan ke Pak Arya kalau kamu itu baru saja menjadi janda anak dua, sehingga ya begitu Pak Arya yang murah hati tidak jadi memecat kita," jawab Cika sambil menertawakan kembali apa yang menjadi alasan dirinya dan Mila tidak jadi dipecat.
Sementara Mila yang mendengar langsung alasannya, hanya mendengus kesal saja. Sebab, Cika membawa-bawa masalah status jandanya ke bos nya sendiri.
Setelah jam menunjukkan pukul empat sore, waktunya Mila membereskan kembali beberapa dokumen, karena saat ini merupakan jam pulang kerja Mila.
"Akhirnya pulang juga, tapi sebelum pulang lebih baik aku mampir saja membeli roti bakar untuk Andrew dan juga Syifa." Batin Mila dalam hati.
Saat sudah berada di luar parkiran, ternyata ban mobil miliknya terlihat bocor, sehingga mau tidak mau Mila harus menunggu angkutan umum, sebab ban serep yang dia miliki sudah tidak ada.
Beberapa menit Mila menunggu, nyatanya tidak ada satu pun angkutan umum yang lewat di depan jalannya.
"Aduh bagaimana ini, mana hari sudah semakin malam lagi," risau Mila saat melihat pergantian hari yang sudah menjelang malam.
__ADS_1
Namun, saat Mila sudah putus asa, tiba-tiba saja ada sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya, dan sang pemilik mobil langsung menawarkan Mila untuk diantarkan pulang.