
Setelah Mila mengatakan kalau dirinya dan anak-anak pindah, kemudian Mila kembali mempersiapkan kembali beberapa barang bawaannya yang telah dipindahkan ke masing-masing ruangan untuk kembali dia bawa menuju ke rumah lamanya.
Lelah, tentu saja Mila sangat lelah, sebab baru kemarin rasanya Mila berbenah. Namun, apa lah daya karena jika Mila terus mempertahankan hak nya, maka Ibra akan selalu mengganggunya, sehingga membuat Mila berakhir mengalah karena dirinya sudah lelah jika harus selalu ribut dengan Ibra.
Mila yang saat ini mulai mengemasi barang-barang bawaannya seperti pakaian, dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya tampak begitu cekatan untuk kembali dia kumpulkan menjadi satu. Tak sedikit pun Mila mengeluh, apa lagi saat ini dirinya tidak sendirian, melainkan dipantau oleh Ibra yang sedari tadi duduk di sofa sembari menatap ke arahnya.
"Ck, wanita bodoh begitu saja repot mau pindah, padahal kan aku menawarkan untuk tinggal bersama, tapi ya sudahlah kalau memang kamu tidak mau," ucap Ibra sembari menatap sinis ke arah Mila.
Sementara Mila yang mendengarkan ucapan Ibra hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, sembari menatap ke arah Ibra.
"Maaf Mas, jika aku satu rumah dengan mu, itu sama saja aku seperti wanita murahan, sebab tinggal bersama dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki ikatan denganku," balas Mila yang kemudian kembali mengemasi seluruh barang-barang bawaannya.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Mila sudah berhasil mengemas seluruh barang bawaannya yang nantinya akan diangkut oleh mobil sewaan yang sudah dia pesan melalui aplikasi online.
Setelah selesai mengemas seluruh barang-barangnya, Mila kemudian menuju ke arah dapur untuk memasak menu makan siang untuk dirinya dan kedua anaknya yang saat ini berada di ruang tamu. Ya, kedua anak Mila sebenarnya berada satu ruang dengan dirinya dan Ibra. Namun, tak satu pun mereka mengajak Ibra untuk sekedar bermain bersama. Jangankan bermain, hanya untuk sekedar menyapa Ibra saja tidak dilakukan oleh Andrew dan juga Syifa.
Kembali dengan Mila yang saat ini, telah selesai dengan masakannya yaitu telur mata sapi dan sayur sup. Mila memang hanya membuat makanan yang mudah dan simpel, karena dirinya tidak mau terlalu repot-repot, apa lagi dia dan kedua anaknya harus segera pindah dari rumah yang saat ini dia tempati hanya dalam satu hari saja.
__ADS_1
"Anak-anak, ayo kita makan dulu dan setelahnya baru bermain lagi," seru Mila memanggil kedua anaknya.
"Iya Ma," ucap Andrew dan Syifa dengan serempak seraya berjalan menuju ke arah ruang makan.
"Sayang, untuk makan siang ini Mama hanya masak ini saja ya, Andrew dan Syifa tidak keberatan kan?" tanya Mila.
"Tidak Ma, malah ini sudah lebih dari cukup, iya kan Dek?"
"Iya Kak, malah masakan Mama kali ini sangat menggugah selera Syifa, sehingga Syifa ingin segera memakannya," jawab Syifa yang saat ini sudah memegang piring dan sendok nya.
Ibra yang melihat interaksi antara Mila dan kedua anaknya, terutama saat Mila memanggil Andrew dan juga Syifa untuk makan, seketika di situ lah Ibra berharap kalau dirinya juga ikut disuruh Mila untuk makan bersamanya.
Ibra yang mulai tampak emosi karena Mila tidak menganggapnya ada di rumah itu, seketika mendekat ke arah Mila dengan sorot matanya yang begitu sangat tajam.
"Heh, sejak kapan kau tidak menghargai aku lagi Mila, kenapa kau tidak anggap aku ada di rumah ini, CK ternyata perangai kamu yang asli begitu buruk ya, untung saja aku telah menceraikan kamu," ucap Ibra dengan perkataannya yang begitu pedas dan menyakitkan. Ibra tidak segan-segan melontarkan kata-kata kasarnya, walaupun dia tahu, saat ini ada Andrew dan juga Syifa ditengah-tengah mereka.
"Mas, sebelum kamu mengatai aku, lebih baik kamu bercermin terlebih dahulu, apakah perangai kamu bagus atau tidak, buktinya saja dapat terlihat jika perangai kamu sangat buruk, sebab kamu berani mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak-anak kamu sendiri, Mila sebenarnya tidak masalah jika Mas mengata-ngatai Mila, hanya saja Mila mohon jangan di depan anak-anak, sebab mereka pasti akan meniru ucapan yang mereka dengar karena sistem motorik mereka sedang bekerja," jelas Mila panjang lebar yang membuat Ibra terdiam seketika.
__ADS_1
Ya, benar apa kata Mila, kalau dirinya telah kelepasan untuk berkata-kata kasar kepada Mila, sehingga sekarang yang dilakukan Ibra hanya diam saja tidak melanjutkan perkataannya dan segera kembali duduk di sofa kebesarannya sembari melihat ke arah Mila, Andrew dan juga Syifa yang saat ini sedang makan dengan penuh khidmat.
Dapat Ibra lihat sendiri kalau saat ini dirinya seperti tidak dianggap oleh anak-anaknya dan juga Mila, bahkan seakan mereka tidak melihatnya karena mereka tengah asik bercengkerama di dunianya sendiri.
"Andrew dan Syifa, kalian tidak apa-apa kan kalau kita kembali pindah ke rumah lama kita?" tanya Mila.
"Tidak apa-apa Mama, malah Andrew dan Syifa senang kalau kita kembali ke rumah lama kita, soalnya di sana ada kakek sama nenek yang bisa Andrew dan Syifa ajak main," imbuh Andrew di sela-sela makannya.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah sana kalian bersih-bersih badan dulu sebelum kita pindah, biar semua piring-piring bekas kalian makan Mama cuci," jelas Mila yang mendapatkan anggukan dari Andrew dan juga Syifa.
Selepas Mila membersihkan makanannya, kemudian Mila beralih ke arah Ibra.
"Mas, kalau Mas mau makan di dapur sudah Mila siapkan makanan Mas, maaf ya Mila tidak mengajak Mas karena Mila tahu kalau Mas tidak suka sayur sup, apa lagi Mas alergi telur bukan," ucap Mila yang membuat Ibra tertegun.
Ibra pikir Mila sengaja tidak mengajak dirinya makan karena memang Mila sengaja tidak menganggapnya ada. Namun, Mila memikirkan terkait makanan yang membuat dia alergi dan jika dirinya melihat makanan yang Mila sajikan adalah makanan yang tidak dia sukai otomatis pasti dirinya akan mencaci Mila kembali dihadapan kedua anaknya, sehingga dapat menimbulkan rasa kebencian Andrew dan juga Syifa ke dirinya.
"Ya sudah ya Mas, Mila mau melihat Andrew dan juga Syifa, mereka sudah siap atau belum, soalnya sebentar lagi akan datang mobil pengangkutan barang-barang milik Mila," sambung Mila kembali meninggalkan Ibra yang tampak bergeming di ruang tamu.
__ADS_1
"Jadi Mila masih memikirkan aku, astaga kenapa rasanya aku sangat senang sekali jika Mila masih memikirkan aku," batin Ibra dalam hati.