Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Mengantarkan Bekal


__ADS_3

Mita yang masih tengah bersantai ria di ruang tamu dengan sang nenek, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara dering ponselnya yang setiap kali berbunyi.


"Duh, siapa sih yang menelepon, orang lagi asyik-asyiknya menonton film juga," kesal Mita karena menggangu dirinya yang sedang asyik menonton drama korea.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Mita karena yang meneleponnya adalah nomor asing.


"Halo Mita, ini aku loh sahabatmu sendiri Lea," ucap sang penelepon yang ternyata adalah Lea sahabat Mita yang berasal dari kampung halamannya dulu, sebelum sang nenek pindah ke pinggir kota.


"Lea ... oh Lea anak Bu Mina." Ucap Mita.


"Iya, akhirnya kau tahu aku, ya walaupun yang kau tahu adalah nama mamakku sendiri, memang kawan kampret," sungut Lea dari sebrang telepon.


"Tunggu, tumben sekali kau menelepon ku, memangnya ada apa?" tanya Mita yang sedikit mulai curiga kepada Lea, karena Mita tahu pasti kalau Lea meneleponnya hanya untuk minta bantuan saja.


"Begini Mita, kan aku sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan, nah kau tahu sendiri bukan, bagaimana susahnya di kampung kita mencari kerja, jadi aku minta sama kamu untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga kamu saja ya, soalnya yang aku dengar-dengar dari warga sini, kamu sudah menikah kan dengan duda kaya," jelas Lea yang membuat Mita terkejut, sebab berita pernikahannya sudah sampai di kampung halamannya saja.


Padahal yang Mita tahu, kalau pernikahannya sangatlah tertutup dan dirinya hanya mengundang beberapa tetangga terdekatnya saja, mungkin kah tetangga yang dia undang yang sudah membeberkan pernikahannya. Entahlah, siapa pun itu yang jelas saat ini dirinya sudah diketahui oleh banyak orang kalau sudah menikah dengan bos nya sendiri yaitu Ibra.


"Huh, bagaimana ya Lea, aku tidak mungkin langsung menerimamu, sedangkan yang punya kuasa atas rumah ini adalah suamiku sendiri, mungkin aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suamiku."


"Iya sudahlah, semoga aku bisa bekerja di rumah mu ya, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya," balas Lea dan langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Mita.


Setelah panggilan telepon berakhir, Mita kemudian mematikan televisi yang ada dihadapannya karena sudah tidak mood lagi untuk menontonnya.


Apa lagi saat Lea, sahabat nya yang di desa menceritakan tentang bagaimana kabar pernikahannya sudah tersebar. Sebenarnya jika berita pernikahannya tersebar, Mita tidak apa-apa. Namun yang menjadi masalah adalah karena pernikahannya hanyalah pernikahan kontrak, bukan untuk selamanya.


Sehingga jika berita perceraiannya juga ikut tersebar, sudah pasti Mita menjadi bahan olok-olokan oleh para warga di sana, sebab desanya masih keterbelakangan sehingga seseorang yang sudah menjadi janda, maka akan di cap sebagai aib desa.


Jika dipikir-pikir lagi, maka sangat miris bukan dengan pemikiran warga desanya yang masih ketertinggalan dalam hal pemikiran.

__ADS_1


Tak mau membuang waktu berlama-lama untuk memikirkan hal tersebut, Mita langsung bergegas membuatkan bekal untuk sang suami, apa lagi suaminya ingin dibuatkan bekal setiap harinya.


"Duh, untuk ayam masih ada dan tadi juga aku sudah masak kornet, lebih baik ini saja lah yang ku berikan untuk bekalnya," ucap Mita sembari menyusun bekal Ibra ke dalam rantang dan setelahnya langsung bergegas bersiap-siap berangkat menuju ke kantor suaminya.


"Nek, Mita mau ke kantor Mas Ibra dulu ya mau mengantarkan bekal, Nenek di rumah saja ya, Mita cuma sebentar saja kok di kantor Mas Ibra," ujar Mita dan dibalas anggukan oleh Nek Ijah.


Mita berangkat ke kantor menggunakan taksi online yang telah dia pesan. Jika ada yang bertanya kenapa tidak menggunakan mobil Ibra saja, maka jawabannya adalah karena Mita sendiri belum paham dalam mengendarai mobil, jangan kan mobil, motor ataupun sepeda saja juga Mita belum mahir, sehingga alternatif yang paling aman baginya adalah duduk cantik dengan disupiri oleh orang lain.


Saat Mita telah sampai di kantor Ibra, Mita lalu bergegas masuk ke dalam kantor tersebut.


"Duh, semoga saja Mas Ibra enggak marah karena aku telat mengantarkan bekalnya," batin Mita dalam hati dan berlalu begitu saja ke ruangan Ibra tanpa melihat beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


"Ck, lihatlah gayanya itu, sudah seperti macam istri bos saja ya, tak mau bertegur sapa dengan kita," ucap salah satu karyawan yang tadi berpapasan dengan Mita.


"Kamu benar, bahkan lihatlah dia sungguh telat masuk ke kantornya, pasti setelah ini bos kita akan marah besar dengan anak baru itu dan langsung memecatnya dengan tidak hormat," balas karyawan lainnya yang melihat Mita dengan kesal, sebab Mita seperti tidak menghormati mereka berdua yang tergolong senior menjadi karyawan di kantor Ibra.


Tok.


Tok.


Tok.


Sehingga mau tidak mau, Mita mencoba memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan suaminya dan terlihat kalau saat ini Ibra sedang berbicara dengan sekretaris Han mengenai pekerjaan.


"Maaf, silakan Mas Ibra dan Pak Han lanjutkan lagi obrolannya, biar Mita tunggu di luar," kata Mita. Namun, Ibra langsung mencegahnya dan mengatakan kepadanya kalau dirinya harus tetap berada di dalam ruangannya.


"Jangan pergi, kamu di sini saja dan untuk Pak Han, lebih baik nanti kita lanjut saja diskusinya, setelah aku makan siang.


"Baiklah Pak Ibra, kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


"Hmm," gumam Ibra dan setelahnya menatap ke arah sang istri.


"Ke sinilah Mita, kamu tahu tidak, aku hampir saja mati kelaparan karena kamu telat mengantarkan bekal ku, jadi bawakan ke sini bekal milikku," pinta Ibra dan segera Mita membawakan bekalnya untuk Ibra.


Segera setelah Mita membawakan bekalnya, Ibra langsung melahap bekal yang dibuat oleh Mita, persis seperti orang yang sangat kelaparan.


Entah lah, setiap masakan yang dibuat oleh istri barunya ini, pasti selalu menggugah selera makan Ibra.


Mita yang melihat Ibra makan dengan lahap, tentu saja sangat senang. Apa lagi, dirinya baru pertama kali melihat orang yang memang benar-benar suka dengan masakannya.


"Syukurlah kalau Mas Ibra lahap makannya, oh iya, apa setelah ini aku beritahukan saja ya prihal sahabatku yang ingin bekerja di rumah Mas Ibra," batin Mita saat kembali mengingat telepon dari Lea.


Setelah Ibra selesai makan, Mita langsung membicarakan temannya yang saat ini ingin bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Ibra.


"Mas Ibra, sebelumnya Mita minta maaf ya Mas, hanya saja Mita boleh tidak meminta bantuan Mas," ucap Mita yang membuat Ibra kembali fokus ke arahnya.


"Meminta bantuan, memangnya bantuan seperti apa yang kamu butuhkan," balas Ibra.


"Anu Mas, tadi kan temanku menelepon, katanya dia lagi butuh banget pekerjaan, sehingga dia menawarkan diri untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah Mas, kira-kira menurut Mas bagaimana, apa Mas bisa memperkerjakan nya atau tidak?" tanya Mita yang membuat Ibra mengerutkan keningnya.


"Hmm, kalau itu bisa-bisa saja aku membuat dia bekerja di rumah kita, tapi bagaimana dia bisa langsung menembak untuk bekerja di rumah kita, apa sebelumnya kamu mengatakan kepadanya, kalau kamu menikahi suami kaya seperti aku," tatap Ibra kepada Mita dengan curiga.


"Ti-tidak Mas, Mita tidak ada mengatakan apa-apa kok dengannya, hanya saja berita Mita menikah dengan Mas telah sampai di kampung halaman Mita yang dulu, sehingga tiba-tiba saja dia minta pekerjaan ke Mita, eh maksudnya ke Mas karena dia tahu kalau Mas adalah orang kaya," jelas Mita yang membuat Ibra tersenyum kecil.


"Sepertinya teman kamu itu bekerja sambil ada niat udang di balik batu," tebak Ibra yang membuat Mita langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin lah Mas, orang Mita tahu sendiri bagaimana wataknya kok, dia itu teman Mita yang paling baik," bela Mita.


"Hmm, ya sudahlah suruh teman mu itu ke rumah kita besok, jadi mulai besok dia sudah bisa bekerja di rumah kita," balas Ibra yang membuat Mita langsung tersenyum senang dan tanpa sadar memeluk Ibra.

__ADS_1


"Eh maaf Mas, Mita enggak sengaja." Ucap Mita tersipu malu.


"Iya, tidak apa-apa juga kok, kan kita sudah menikah," kata Ibra yang membuat Mita kembali tersipu malu.


__ADS_2