
"Lea, ngapain kamu sembarang masuk ke dalam kamar ini, dasar lancang, apa kamu tidak lihat kami sedang polos hah!" bentak Ibra dengan suara kerasnya, hingga membuat Lea langsung menutup kembali pintu kamar Ibra dan Mita.
"Lihat Mita, lihat teman kamu itu, gara-gara dialah kita seperti ini, bahkan kamu lihat sendiri bukan, bagaimana lancangnya dia masuk ke dalam kamar kita," sambung Ibra kembali dan setelah itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Melihat api kemarahan dari suaminya, membuat Mita merasa bersalah, sebab karena dirinya sang suami yaitu Ibra terpaksa menerima temannya untuk bekerja di rumah mereka.
"Duh, bagaimana ini, mana Mas Ibra kelihatannya sangat marah lagi, apa aku suruh Lea minta maaf saja ya atau lebih baik aku langsung usir saja, sebab karena perbuatannya yang membuat keperawanan ku hilang," pikir Mita.
Setelah melihat suaminya telah selesai membersihkan diri, kemudian Mita datang menghampirinya dan kembali bertanya kepada suaminya tentang kemarin malam yang membuat keduanya sampai melakukan hubungan suami istri.
"Mas, Mita boleh bertanya tidak mengenai kejadian tadi malam, kenapa kita sampai melakukan hubungan suami istri, memangnya apa ada yang salah tadi malam Mas?" tanya Mita pelan yang ditujukan untuk Ibra.
"Hmm, kalau kamu mau tahu, tanyakan saja kepada pembantu murahan itu, sebab gara-gara dia yang ingin menaiki ranjang ku, dia sudah menuangkan obat ke dalam minuman yang tadi malam kita minum," jelas Ibra dengan sedikit ketus yang membuat Mita terkejut, sampai-sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ja-jadi, kegiatan yang sudah kita lakukan tadi malam, gara-gara disebabkan oleh Lea yang menuangkan obat ke dalam wedang ronde kita Mas?" tanya Mita memastikan lagi jawaban dari suaminya.
"Benar, jadi aku ingin hari ini juga dia dipecat dan harus angkat kaki dari rumah ku," jawab Ibra yang membuat Mita menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Ibra.
"Benar Mas, pokoknya kita usir saja dia hari ini," imbuh Mita dengan tegas mengusir Lea, sebab Lea yang tega kepadanya karena sudah berani mencampurkan obat ke dalam minumannya.
Setelah Mita juga selesai membersihkan diri, maka sekarang dirinya dengan Ibra langsung bergegas turun menuju kamar Lea.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Pintu yang diketuk oleh Mita. Namun, tetap tidak dibuka oleh Lea, hingga Ibra yang sudah kehabisan kesabarannya, langsung mendobrak pintu tersebut dan dapat dilihat kalau Lea saat ini sedang berpura-pura tidur di atas kasurnya.
Dengan segera, Ibra langsung membangunkan Lea dengan kasar, bahkan tak tanggung-tanggung, Ibra menarik lengan Lea dengan kasar sampai terjatuh dari ranjangnya sendiri.
"Bangun kamu pembantu rendahan, tidak perlu lagi kau bersandiwara untuk berpura-pura tidur!" bentak Ibra yang membuat Lea dengan cepat-cepat bersimpuh dihadapan kaki Ibra dan langsung meminta maaf.
"Maafkan saya Pak, saya janji enggak akan mengulanginya lagi," ucap Lea sembari bersimpuh di kaki Ibra.
"Tidak usah kau bersimpuh di kaki ku ini, berdirilah dan segera angkat kaki dari rumah ini, karena detik ini juga kau aku pecat!" ucap Ibra dengan tegas yang membuat jantung Lea berdebar hebat, tapi bukan berdebar karena perasaan jatuh cinta melainkan berdebar jantungnya karena dirinya langsung dipecat begitu saja oleh Ibra.
"Pak tolong jangan pecat saya, jika Bapak pecat, saya harus kerja kemana lagi Pak," imbuh Lea yang sekarang sudah berderai dengan air mata.
"Ck, bukan urusanku, mau kau kerja atau menganggur ya tidak ada urusannya dengan ku, memangnya kau siapa ku hah!" balas Ibra dengan sinis.
Sekarang, harapan Lea satu-satunya ada apa Mita, sehingga Lea bergegas menuju ke arah Mita untuk membujuk Ibra agar dirinya masih bisa bekerja di rumah ini.
"Mita, tolong aku, tolonglah bujuk suamimu agar aku masih bisa bekerja di rumah ini, kau tahu sendiri bukan bagaimana kehidupan ku yang sulit," bujuk Lea. Namun, Mita hanya diam saja, tanpa membalas ucapannya.
Hingga diamnya Mita membuat Lea sadar, kalau Mita juga setuju dengan ucapan Ibra, yaitu setuju untuk memecat dirinya.
"Lea, walau kau sahabatku sendiri, namun kemarin malam perbuatan mu itu benar-benar tidak pantas untuk dilakukan, sehingga yang paling tepat adalah memecat kamu, tapi jangan khawatir, walau kamu baru dua hari bekerja di sini, nanti aku akan memberikan mu uang sebagai bentuk kompensasi atas pemecatan kamu, semoga ke depannya kamu tidak mengulangi lagi perbuatan tercela ini," jelas Mita yang membuat Lea kembali menangis.
Sebab, sudah tidak ada lagi kesempatannya untuk bekerja di rumah ini lagi.
__ADS_1
Ibra yang melihat sendiri bagaimana Lea menangis sesenggukan, hanya tak acuh sembari mencoba membereskan semua barang-barang milik Lea, sebab dirinya tidak sabar untuk menyingkirkan pembantu itu dari rumahnya sendiri.
"Tuh, semua barang-barang mu telah aku susun, sekarang pergi dari sini dan oh iya ini uang untukmu karena sudah bekerja di rumah ini," ucap Ibra sembari melemparkan uang pecahan seratus ribu sebanyak tiga lembar.
Setelah menunggu hampir satu jam, barulah Lea bangkit dari lantai dan setelahnya langsung pergi begitu saja dari rumah Ibra dan Mita.
"Lihat saja, aku pasti akan membalas perbuatan kalian yang telah merendahkan harga diriku," dendam Lea yang ditujukan kepada Mita dan juga Ibra.
"Huh, akhirnya dia telah pergi juga ya Mas," imbuh Mita dengan tersenyum lega.
"Hmm, dia telah pergi juga karena Mas usir, tapi benar kan kata Mas, kalau temanmu itu pasti ada udang dibalik batu, untung Mas langsung peka dengan niatnya," balas Ibra pelan namun kena di hati Mita.
Mungkin, ini akan menjadi pembelajaran untuk Mita, bahwa harus selalu berhati-hati dengan orang-orang disekitarnya.
"Iya Mas, ta-tapi sebenarnya ada yang ingin Mita katakan ke Mas," imbuh Mita kembali namun dengan berkata pelan.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan, asal jangan menerima orang asing lagi ke rumah ini."
"Bu-bukan itu Mas, hanya saja Mita ingin mengatakan tentang kejadian semalam, kira-kira Mas mengeluarkan benih Mas di dalam atau di luar?" tanya Mita dengan malu.
"Oh hanya masalah itu, Mas cuma mengeluarkan diluar kok," jawab Ibra dengan bohong.
"Syukurlah kalau begitu, jadi Mita enggak perlu khawatir kalau Mita nanti akan hamil," ucap Mita dengan lega.
Untung saja Ibra mengatakan semuanya dengan penuh kebohongan, sebab andaikan Mita tahu kalau Ibra mengeluarkan benihnya di dalam, pasti Mita akan marah-marah kepadanya, pikir Ibra.
__ADS_1
"Huh aman, untung saja aku berbohong, andaikan kalau dia tahu aku mengeluarkan benihku di dalam rahimnya pasti dia akan marah-marah, padahal kalau jadi juga pasti aku akan bertanggung jawab," batin Ibra dalam hati.