Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Diare


__ADS_3

Mita yang melihat bagaimana sang suami kepedesan karena memakan soto yang dia pesan dengan level pedas, langsung mencoba menyingkirkannya.


"Sayang, kenapa kamu singkirkan sih makanan aku," ucap Ibra dengan wajah memerah dan beberapa bulir keringat yang mengalir dari wajahnya.


"Mas, gimana aku tidak menyingkirkan makanan ini, tuh lihat sendiri bagaimana wajahmu yang sudah memerah, Mita tahu loh kalau Mas sedang menahan kepedasan," balas Mita yang merasa kasihan kepada Ibra.


"Ti-tidak, ini bukan karena kepedasan sayang, hanya saja hawa di sini terlalu panas saja kok," bohong Ibra yang mencoba bersandiwara seolah-olah dirinya kepanasan bukan karena kepedasan.


"Benarkah Mas?" tanya Mita dengan menatap Ibra serius.


"Benar sayang, mana mungkin Mas berbohong!" tegas Ibra. Namun, selang beberapa menit tiba-tiba perutnya merasakan mules yang sudah tak tertahankan, hingga terdengarlah suara lengking dari bibir bawahnya.


Prot, bunyi suara kentut Ibra yang terdengar jelas di telinga Mita, bahkan di telinga orang-orang sekitar yang sedang makan di mejanya.


"Nah kan, baru Mita bilang Mas, ya sudah yuk, kita pulang saja," ucap Mita yang langsung mengakhiri makannya, sebab Mita tahu kalau Ibra akan mengalami sakit perut, sehingga membuatnya berpikir harus segera pulang dari tempat itu. Apa lagi, orang-orang berada di sekitar meja mereka yang menatap Ibra dan Mita dengan berbagai macam tatapan, mulai dari jijik, marah ataupun tawa mengejek.


"Pak, ini uangnya ya, kembaliannya Bapak ambil saja," ujar Mita dan segera pergi dari warung soto babat itu bersama dengan Ibra.


"Mas, kamu masih kuat kan menyetir mobilnya, kalau enggak kuat kita naik angkutan umum saja ya."


"Tidak perlu, Mas masih kuat kok, ayo kita langsung pulang saja," imbuh Ibra dan bergegas masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Mita.


Sepanjang perjalanan arah pulang, terlihat Ibra sesekali menahan rasa mules di perutnya. Bahkan karena ditahan rasa mulesnya, membuat sesuatu dari bawah tubuhnya kembali mengeluarkan suara nyaring, apa lagi kalau bukan suara kentut.


Mendengar besarnya suara kentut Ibra yang bahkan lebih besar dari cintanya kepada Mita, membuat Mita langsung menatap ke arah Ibra, sembari menutup hidungnya.

__ADS_1


Jangan ditanya kenapa Mita menutup hidungnya, jawabnya sudah pasti karena kentut Ibra mengeluarkan aroma khas, seperti bau busuk akibat fermentasi di dalam perutnya yang terbilang gagal.


Bayangkan saja, kotoran yang seharusnya terbentuk dalam beberapa jam, kini malah ingin meluncur keluar begitu saja dari dalam perut Ibra, hingga karena ingin keluarnya lah, sampai mendobrak benteng pertahanan dari bagian bawah Ibra.


"Mas, masih kuat kan," ucap Mita kembali karena khawatir melihat kondisi suaminya.


"Masih kok sayang, kamu tenang saja," balas Ibra dengan menyematkan seutas senyuman diwajahnya. Walau diare sedang menyerangnya. Namun, Ibra harus tetap terlihat stay cool dihadapan Mita.


"Semoga saja, kamu kuat Ibra, jangan sampai ada ampas dari bawah bokong mu," batin Ibra dengan menyemangati diri sendiri.


Hingga tak terasa, berakhir sudah perjalanan pulang dari tempat warung penjual soto babat itu. Dimana saat ini mobil Ibra sudah bertengger di depan rumahnya.


Dengan kekuatan turbo berkapasitas 500cc, akhirnya Ibra sampai juga ke dalam toilet rumahnya sendiri dengan meninggalkan Mita yang masih berada di dalam mobilnya.


Bukan Ibra tak khawatir meninggalkan sang istri di dalam mobil dengan kondisi lagi hamil, namun karena panggilan alam yang menyapanya membuat dirinya mau tidak mau harus menyelesaikannya secara jantan di dalam toilet dan harus rela meninggalkan Mita di dalam mobilnya.


Maklum, ya Mita maklum karena bagaimanapun, dirinya juga memaklumi perbuatan Ibra yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya di dalam mobil, bahkan saat ini Mita masih sempat mengkhawatirkan kondisi sang suami, sehingga membuatnya menyusul sang suami yang saat ini sedang berada di dalam toilet.


"Mas, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mita dengan nada khawatir.


"Tidak apa-apa sayang, cuma Mas minta tolong ambilkan obat diare yang ada di laci Mas ya," balas Ibra dari dalam toilet yang masih mengerang penuh kesakitan, karena sesuatu dari dalam perutnya masih tidak mau keluar juga.


"Please, keluarlah kalian, aku tahu kalian ingin keluar kan, terutama kamu biji cabe, gara-gara kamu aku jadi kesakitan seperti ini," imbuh Ibra yang berbicara sendiri di dalam toilet.


Hampir beberapa jam Ibra berada di dalam toilet, akhirnya Ibra bisa bernapas lega karena sesuatu yang cair bercampur pernak pernik biji cabai, keluar juga dari bawah bokongnya.

__ADS_1


Setelah semua itu keluar, Ibra langsung mengambil kesempatan untuk membersihkan diri dan selanjutnya langsung meminum obat diare yang sudah diletakkan Mita di dekat meja yang berhadapan langsung dengan toiletnya.


Glek, suara Ibra meminum obat diare nya dan segera menjatuhkan bokongnya di tempat duduk yang ada disekitarnya.


"Lemas, aku lemas sekali," imbuh Ibra pelan, sebab saat ini dirinya sudah sangat lemas, apa lagi seluruh makanan yang dia makan sudah terbawa oleh derasnya arus air toilet.


Saat dirinya masih terduduk di tempat itu, tiba-tiba saja dari arah berlawanan Mita menghampirinya.


"Mas, bagaimana kondisi kamu apa sudah lebih baik?" tanya Mita yang masih khawatir dengan kondisi suaminya.


"Sudah sayang, sekarang rasanya sudah lega," balas Ibra pelan.


"Syukurlah kalau kamu sudah enakkan Mas, berarti kamu bisa dong mengantarkan aku ke tempat jualan martabak, soalnya anak kita ngidam martabak manis dengan toping keju Mas," pinta Mita yang menampilkan senyuman cerah diwajahnya.


Mendengar perkataan Mita, seketika membuat senyum di wajah Ibra runtuh seketika, apa lagi mendengar permintaan sang istri yang ingin ditemani ke tempat penjual martabak.


"Nak, sebenarnya kamu sedang berpihak kepada siapa sih, kenapa kamu sepertinya mulai menyusahkan Ayah." Batin Ibra dalam hati.


Sehingga mau tidak mau Ibra hanya bisa menyetujui permintaan sang istri dan mencoba berjalan secara perlahan-lahan menuju ke tempat penyimpanan kunci mobil.


"Ayo sayang, kita ke tempat penjual martabaknya," ujar Ibra yang sudah membukakan pintu mobilnya untuk Mita.


"Iya Mas, ayo aku sudah tidak sabar untuk memakan martabaknya," balas Mita dengan antusias dan setelahnya Ibra kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat kang penjual martabak.


Sesampai di tempat penjual martabak, Mita langsung bergegas memesan martabak asin dengan full toping cabai rawit yang banyak.

__ADS_1


Sekali lagi, mendengar pesanan Mita membuat Ibra lemas seketika. Bahkan saat ini rasanya Ibra sudah tak sanggup untuk berdiri dengan tegak.


"Mas, maaf ya pesanan Mita berubah, soalnya Mita tiba-tiba saja ingin makan martabak asin, tapi topping nya harus pedas Mas, sehingga Mita memutuskan untuk membeli martabak asin ini," ucap Mita dengan polos tanpa ada merasa bersalah kepada Ibra.


__ADS_2