Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Tidak Menyangka


__ADS_3

Mila tidak menyangka, jika ternyata dia hanya bersandiwara saja. Bahkan, lebih sakitnya lagi hanya karena ingin menikah, baru lah Ibra mau mengasuh kedua anaknya, bukan karena rindu atau memang tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.


"Anak-anak ayo kita pulang, sekarang juga!" ucap Mila dengan tegas. Setelah Andrew dan Syifa berada di dekatnya, buru-buru Mila menggandeng tangan mereka dan segera keluar dari rumah Ibra.


Namun, baru beberapa langkah kaki Mila berjalan, dirinya langsung dicekal begitu saja oleh Ibra dan sementara kedua anaknya dicekal oleh Bibi Wati.


"Mas, apa yang kamu lakukan, lepaskan tanganku!" bentak Mila dengan keras.


"CK, melepaskan kamu tentu saja boleh, namun anak-anak harus ikut bersama denganku," balas Ibra yang masih memegang tangan Mila, bahkan terlihat kalau Ibra begitu erat memegang tangan Mira sampai menimbulkan warna merah di kulit Mila.


Saat Mila menoleh ke arah Bibi Wati, terlihat kalau kedua anaknya juga dipegang erat olehnya, bahkan Syifa, anak bungsunya terlihat meraung kesakitan.


"Bibi Wati, lepaskan anak-anak saya, apa kamu tidak lihat kah, kalau Syifa sampai kesakitan seperti itu!" marah Mila kembali saat anaknya terlihat dipegang kuat tangannya oleh Bibi Wati.


Entah dorongan apa yang membuat Mila kuat, sampai tiba-tiba dirinya berhasil melepaskan tangannya yang dipegang oleh Ibra dan setelah itu bergegas menuju Bibi Wati yang memegang tangan anaknya.


"Plak," tanpa sadar Mila menampar Bibi Wati dengan sangat kuat, bahkan Bibi Wati sampai mengadu kesakitan. Setelah itu, baru lah Mila membawa anak-anaknya keluar dari rumah Ibra dengan tergesa-gesa.


Ibra yang melihat Mila dan anak-anaknya terburu-buru keluar, langsung mengejar begitu cepat. Namun, apa lah daya, karena luka di kaki Ibra belum mengering, membuatnya sedikit kesakitan, sehingga Mila dan anak-anaknya sudah berada di dalam mobil dan melaju pergi, keluar dari rumahnya.


"Ah sial, padahal sedikit lagi aku bisa membawa anak-anak itu," ucap Ibra dengan kesal, sebab rencananya sudah dipastikan gagal total.

__ADS_1


Sementara Mila dan anak-anaknya yang sudah berada di dalam mobil, akhirnya dapat bernapas lega juga, karena bisa meloloskan diri dari pengejaran Ibra dan juga Bibi Wati yang ternyata sudah bersekongkol satu sama lain.


Mila tidak menyangka, Bibi Wati yang dia kenal baik selama ini, ternyata begitu tega mengkhianati dirinya, bahkan membuat Mila saat ini ingin menghabisi seluruh wajah Bibi Wati dengan menggunakan kuku panjangnya.


"Anak-anak, maafkan Mama ya ternyata kalian harus ikut merasakan kesakitan seperti ini, Mama juga tidak menyangka kalau semua itu adalah jebakan ayah kalian," ucap Mila dengan sendu, sebab Mila melihat sendiri bekas berwarna merah dipergelangan tangan kedua anaknya yang sama seperti dirinya.


"Tidak apa-apa Ma, Andrew tidak sakit kok, begitu juga dengan Syifa, iya kan adikku?" tanya Andrew dengan sedikit memberikan kode agar Syifa tidak mengadu kesakitan ke Mama nya.


"Iya, Syifa tidak sakit sama sekali kok," kilahnya yang paham akan kode kakak nya.


Setelah semua anaknya tidak mengadu kesakitan, Mila bisa bernapas lega karena tidak ada sesuatu hal yang membuat anaknya mengalami sakit akibat genggaman Bibi Wati.


Sepanjang perjalanan pulang, Mila mencoba berpikir agar suasana di rumah Ibra tadi tidak menjadi momok ketakutan bagi kedua anaknya, hingga akhirnya Mila memiliki ide untuk membawa kedua anaknya bermain di mal.


"Terima kasih Mama, pokoknya Syifa mau main capit boneka," imbuh Syifa sembari membayangkan bagaimana dirinya mendapatkan boneka dari mesin capit.


Sesampai di mal, Mila langsung menggandeng tangan kedua buah hatinya, agar tidak tertinggal dan masih dalam pantauan dirinya.


Saat Mila sampai di ruang bermain dengan berbagai tempat mainan yang banyak, Mila tidak sengaja melihat Pak Arya yang juga bersama seorang anak kecil, seumuran dengan Andrew sedang bermain juga.


"Eh, ada Pak Arya juga di sini, sedang mengajak keponakannya ya Pak untuk main," ucap Mila hanya sekedar basa basi saja.

__ADS_1


"Iya Mila, ini kamu mengajak anak-anak kamu juga ya, kalau begitu biar keponakan ku dan anak-anak kamu bermain saja bertiga," kata Arya karena merasa keponakannya belum memiliki teman di sini.


"Iya Pak tidak apa-apa, Andrew dan Syifa main sama keponakan Pak Arya ya, Mama lihat kalian dari sini saja," imbuh Mila yang mendapatkan tanda jempol dari kedua anaknya sebagai tanda setuju.


Setelah kedua anaknya dan keponakan Arya bermain bersama, Mila langsung duduk di sekitar mereka dan diikuti oleh Arya yang duduk tepat disampingnya.


"Mila, ternyata kamu hebat ya bisa mengurus kedua anakmu sembari bekerja," cetus Arya yang mencari bahan pembicaraan.


"Ah, biasa saja Pak, soalnya kalau bukan saya yang bekerja, siapa lagi kan semua kebutuhan anak-anak, saya tanggung sendiri, jadi ya mau tidak mau saya harus bekerja Pak," jelas Mila dengan sorot mata mengarah kedua anaknya.


Sementara Arya yang mendengar perkataan Mila, menjadi dibuat kagum, sebab baru kali ini Arya melihat seorang wanita pejuang untuk kedua anak-anaknya tanpa mengeluh sedikit pun. Berbeda hal dengan wanita-wanita yang dia temui di luar sana.


Tanpa sadar, saat ini Arya menatap Mila dengan begitu dalam, bahkan terlihat dari wajah Arya kalau dirinya memandang Mila dengan tatapan begitu kagum nya.


"Hanya laki-laki bodoh saja yang telah menyia-nyiakan kamu Mila, CK kalau aku yang bertemu dengan Mila lebih dulu, mungkin aku sudah menjadikan dia ratu selamanya," batin Arya yang masih tetap memandang Mila. Hingga tanpa sadar, kalau keponakan laki-lakinya mendatangi Arya.


"Paman, kalau melihat wanita cantik jangan terus ditatap begitu dong, kan nanti wanita itu jadi risih," ucap Arnold si keponakan Arya.


Mendengar perkataan Arnold, membuat Arya dan Mila sama-sama saling menatap satu sama lain, bahkan sampai lima detik mereka bertatapan. Hingga Mila langsung memutuskan tatapannya ke arah yang lain.


"Arnold, siapa sih yang sedang melihat wanita cantik, kan paman sedari tadi hanya melihat kamu saja," kilah Arya yang saat ini wajahnya sudah bersemu merah karena menahan malu akibat perkataan keponakannya.

__ADS_1


"Ih, mana ada Paman melihatku, orang dari tadi tatapan Paman selalu mengarah ke wanita itu," tunjuk Arnold ke arah Mila. Sehingga Mila hanya membulatkan matanya saja, sebab tidak mungkin sedari tadi bos nya menatap ke arahnya. Namun, tidak mungkin juga perkataan anak kecil itu berbohong.


Sehingga yang dilakukan Mila hanya biasa saja, tidak mau terlalu kepikiran mengenai perkataan keponakan bos nya.


__ADS_2