
Setelah kemarin malam Ibra pusing memikirkan persiapan pernikahan, sekarang waktunya untuk Ibra bergegas mencari sendiri barang-barang kebutuhan pernikahannya.
Hal pertama yang dia tuju adalah toko perhiasan.
"Permisi Mbak, saya ingin mencari sepasang cincin pernikahan, kira-kira yang paling bagus di toko ini yang mana ya mbak?" tanya Ibra.
"Kalau yang bagus, kami ada satu pasang keluaran terbaru Pak, sebentar saya ambilkan," jawab sang penjaga toko dan langsung mengeluarkan sepasang cincin cantik berwarna putih.
"Nah, ini dia Pak cincinnya, di tengahnya terdapat diamond Cullinan dan ini hanya ada beberapa pasang saja Pak di dunia," jelas sang pelayan toko tersebut sehingga semakin membuat Ibra terpana akan keindahan cincin pernikahannya tersebut.
"Baiklah, saya ambil ini saja, kira-kira jadi berapa ya Mbak?" tanya Ibra.
"Totalnya jadi delapan ratus juta Pak, kira-kira bayarnya mau pakai debit atau cash ya?" tanya balik sang penjaga toko.
"Debit saja Mbak, ini kartu saya," ujarnya sembari menyerahkan black card miliknya.
Saat Ibra masih melakukan transaksi pembayaran, tanpa disengaja dirinya bertemu dengan sang mantan kekasih yaitu Mila.
"Mas Ibra, ngapain Mas di sini?" tanya Mila.
"Ini beli cincin," jawab Ibra singkat dan langsung membuang muka ke arah lain. Walaupun dirinya hendak menikah lagi dengan wanita lain, namun masih tetap saja Ibra sulit menghapus bayang-bayang Mila sehingga yang bisa dia lakukan adalah sebisa mungkin untuk menghindari mantan istrinya.
Melihat hal itu, Mila hanya biasa saja dan kemudian mencari perhiasan yang memang dia inginkan sebagai bentuk investasinya di masa depan.
"Lebih baik, aku menyingkir saja dari hadapan Mas Ibra dan kembali mencari perhiasan yang pas untuk ku jadikan investasi," batin Mila dalam hati dan setelahnya langsung pergi dari hadapan Ibra.
Kembali dengan Ibra, setelah selesai membayar cincin pernikahannya, selanjutnya Ibra mencari barang-barang lain yang nantinya dia gunakan sebagai seserahan dalam pernikahannya.
Jika Ibra mencari barang seserahan, maka lain halnya dengan Mita yang saat ini dirinya hanya bersantai saja di rumah sekaligus melihat-lihat sosial medianya.
__ADS_1
"Duh, libur seperti ini kok rasanya enggak enak banget ya, hanya rebahan dan makan saja sedari tadi, ini juga gara-gara Pak Ibra yang enggak mengizinkan ku untuk pergi bekerja," bosan Mita yang sedari tadi pagi hanya berdiam diri saja di rumah.
Saat Mita mulai merasakan kembali rasa bosannya, entah kenapa tiba-tiba saja dirinya kepikiran untuk keluar rumah sembari mengusir rasa jenuhnya.
"Huh, lebih baik aku pergi ke Mal saja lah," batinnya dalam hati dan setelah itu berganti pakaian karena dirinya hendak pergi ke Mal hanya sekedar untuk mencuci mata saja.
...----------------...
Sementara itu, di sisi lain ke dua orang tua Ibra yaitu Pak Arman dan juga Bu Hana saat ini tengah disibukkan dengan beberapa undangan yang akan mereka bagikan untuk sanak saudara sekaligus rekan kerjanya. Walaupun pernikahan Ibra kali ini terbilang sederhana, namun tetap saja rasanya tidak etis kalau tidak mengundang orang-orang terdekatnya.
"Ayah, kira-kira siapa lagi ya yang harus kita undang, kalau dari Mama sih sudah pas, mungkin ada tambahan kah dari Ayah?" tanya Bu Hana.
"Hmm, oh iya lupa Ma, kenapa kita tidak undang Mila, kan sebelumnya juga Mila mengundang kita," jawab Pak Arman.
"Iya Yah, hampir saja Mama lupa," balas Bu Hana dan setelahnya langsung menuliskan nama Mila dan Arya di undangan pernikahan Ibra dan Mita.
"Benar juga ya Ma, Ayah kok baru terpikir ya."
"Itulah Yah, sepertinya sifat menantu kita kali ini juga sama persis seperti menantu kita sebelumnya," imbuh Bu Hana dan setelahnya meletakkan undangan tersebut ke sisi mejanya.
Selepas selesai mengisi beberapa kertas undangan, baik Bu Hana dan Pak Arman langsung membagikan kertas undangannya, sebab acara pernikahan anaknya akan dilaksanakan besok lusa.
......................
Kembali lagi dengan Mita, yang saat ini telah sampai di Mal dan hal pertama yang dia lakukan adalah membeli tiket untuk menonton film dan membeli beberapa camilan popcorn untuk menemani dirinya di dalam bioskop.
"Terima kasih ya Mbak, ini popcorn nya."
"Iya sama-sama," balas Mita sembari mengambil popcorn nya.
__ADS_1
"Huh, damainya hidup ku satu hari ini, bisa jalan-jalan santai sembari makan dan," terpotong ucapannya karena secara tidak sengaja berpapasan dengan Ibra.
"Pak Ibra, Bapak ke sini juga," ucap Mita yang menatap heran ke arah Ibra, sebab secara tidak sengaja dirinya bertemu Ibra di Mal tersebut.
"Lah, kamu juga ke sini, memangnya kau mau ngapain?" tanya Ibra.
"Ya mau nonton lah Pak," jawab Mita jujur yang membuat Ibra menatapnya dengan tajam.
"Oh enak ya, berleha-leha mau menonton ke bioskop, padahal kan aku menyuruhmu di rumah saja karena nanti aku akan mengajakmu untuk membeli gaun pernikahan kita, bukan untuk menikmati liburan seperti ini!" marah Ibra kepada Mita, sehingga membuat Mita hanya bisa terdiam saja sembari mendengarkan omelan Ibra.
"Iya maaf Pak, namanya juga bosan, jadi ya aku menyempatkan diri untuk cuci mata ke sini," gumam Mita pelan namun masih bisa terdengar oleh Ibra.
"Oh jadi kamu bosan, baiklah kalau kamu bosan jadi aku tidak sungkan-sungkan untuk mengajakmu membeli beberapa barang-barang pernikahan kita," ucap Ibra sembari menarik tangan Mita.
"Eh tapi Pak, bagaimana dengan tiket bioskop ku, kalau tidak aku gunakan kan sayang Pak, jadinya hangus."
"Ck, itu bukan urusanku yang paling penting sekarang kamu bantu aku melihat list barang-barang yang akan aku beli." Balas Ibra yang masih tetap menarik tangan Mita.
"Huh, baiklah Pak," jawab Mita dengan menarik napas panjangnya.
Sehingga jadilah saat ini Mita mengikuti kemanapun Ibra pergi, mulai dari satu toko ke toko lainnya, sampai-sampai sudah beberapa kali harus bolak-balik ke toko yang sama akibat rempong nya Ibra yang ingin mendapatkan barang yang sama persis sesuai dengan keinginannya.
"Selesai, akhirnya kita bisa pergi ke butik, ayo cepat masuk, biar kita ke butik bareng," ucap Ibra tanpa memikirkan kondisi Mita yang sekarang kakinya sudah mati rasa.
"Sebentar kenapa Pak, ini kakiku sudah mati rasa nih," keluh Mita.
"Sudahlah, siap dari butik kita kan tidak kemana-mana lagi, jadi ayo cepat masuk, semakin cepat menyelesaikan semuanya semakin banyak waktu untuk bersantai," ujar Ibra yang membuat Mita hanya mengikuti perkataannya saja sembari mendengus kesal dalam hati.
"Huh, tau begini aku lebih baik berdiam diri saja di rumah," batin Mita dalam hati.
__ADS_1