
Saat Anya masih mengecup lembut bibir Arya, tiba-tiba saja Arya tersentak kaget karena tersadar dari pengaruh obat perangsang yang telah diberikan oleh Anya dan secara tidak sadar, Arya menghempaskan Anya dari atas tubuhnya dengan kuat.
Gubrak, suara Arya mendorong Anya yang membuat kepala Anya terhentak kuat menabrak sisi ujung meja yang terlihat runcing, hingga mengalir deras lah cairan merah dari kepalanya yang membuat Arya kelimpungan kaget.
"Anya, maaf A-aku tidak sengaja," ucap Arya dengan sedikit terbata-bata sekaligus syok karena dirinya membuat Anya kembali terluka, selain itu Arya juga kaget karena hampir seluruh tubuhnya polos tak terbalut satu pun kain yang melekat di tubuhnya.
Melihat hal tersebut, Arya buru-buru memakai kembali pakaiannya dan mencoba melihat kondisi Anya. Namun, saat Arya mendekat ke arah Anya, dirinya dikejutkan dengan kondisi Anya yang terlihat tidak sadar, apa lagi melihat banyaknya darah segar yang bercucuran dari kepala Anya, bahkan sangking banyaknya membuat lantai yang ada di sekitar ruang tamu tersebut sudah dipenuhi darah Anya.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan," batin Arya sembari meremas kepalanya dengan kuat.
Saat Arya kembali mendekati Anya dan mencoba memegang lengannya, Arya masih bisa merasakan adanya denyut nadi Anya, namun denyut nadi tersebut semakin lama semakin melambat seiring bertambahnya darah yang bercucuran dari kepala Anya.
Mengetahui kalau kondisi Anya semakin buruk, secepatnya Arya membawa ke rumah sakit tanpa memberitahukan Tante Rina.
Saat Arya telah keluar dari rumah itu dengan membawa Anya, maka di sisi lain Tante Rina yang sudah mengetahui rencana anaknya turut senang, apa lagi dirinya melihat sendiri bagaimana keganasan sepasang insan yang berbeda jenis tersebut.
"Akhirnya, sebentar lagi anakku akan menjadi istri Arya, duh betapa bahagianya aku bisa besanan dengan Salma yang memang orang kaya tajir melintir," ucapnya sembari membayangkan betapa enaknya hidupnya kelak.
Saat dirasa telah lama Tante Rina menunggu kegiatan haram ke dua insan tersebut, maka Tante Rina mulai kembali menuju ke ruang tamu untuk bersandiwara kalau Arya telah menodai anaknya.
Tante Rina berjalan dengan terburu-buru menuju ke ruang tamu, seolah-olah sudah siap untuk menggerebek Arya dan juga Anya. Namun, sesampai di ruang tamu, Tante Rina tidak melihat siapapun yang berada di ruang tamu, malah dirinya dibuat terkejut dengan banyaknya darah segar yang menodai lantainya, hingga saat ini pikirannya melalang buana memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menimpa antara Arya atau anaknya.
__ADS_1
Dengan berjalan perlahan-lahan, Tante Rina mendekati darah segar yang berkerumun menjadi satu di lantai tersebut.
"Ini darah siapa ya, kenapa banyak sekali berceceran di lantai, jangan-jangan," berhenti berkata dan mencoba keluar dari rumahnya dan secara tidak sengaja bertemu dengan penjaga rumah komplek yang ada di sekitar rumahnya.
"Permisi Pak Jono, Bapak ada lihat enggak ada orang yang keluar dari rumah saya?" tanya Tante Rina.
"Rumah Ibu, sepertinya tadi ada sih satu orang laki-laki membawa seorang wanita yang terlihat sedang pingsan Bu, bahkan kalau tidak salah wanita itu sepertinya sedang tidak sadarkan diri karena saya melihat darah yang keluar dari kepalanya." Jelas Pak Jono, penjaga komplek di perumahan tersebut.
"Apa! Bapak tidak becanda kan?" tanya Tante Rina kembali seraya memastikan ucapan Pak Jono.
"Serius Bu, saya tidak becanda dah," jawab Pak Jono kembali seraya mengacungkan dua jari tangannya.
"Jadi, darah segar itu milik anakku," syok Tante Rina dan seketika langsung terjatuh ke tanah karena kakinya yang tiba-tiba terasa lemas akibat mendapatkan berita buruk tentang anaknya.
"Tidak, pokoknya aku harus menelepon Arya, jika terjadi sesuatu kepada anakku, maka dia harus bertanggung jawab," ujar Tante Rina dan langsung mencari kontak Arya.
Tiga kali panggilan telepon Tante Rina tidak diangkat oleh Arya, sehingga membuatnya semakin frustasi dan mencoba mendatangi ke rumah Arya dan ke rumah orang tua Arya.
......................
Jika Tante Rina syok mendapatkan berita buruk mengenai Anya, maka begitu pula dengan Arya yang saat ini sama yaitu masih begitu syok karena khawatir akan kondisi Anya, sahabat masa kecilnya.
__ADS_1
"Anya, aku mohon bertahanlah," batin Arya dalam hati sembari ikut mendorong ranjang Anya menuju ke ruang perawatan.
Hingga sampai di ruang perawatan, Arya dicegah masuk oleh dokter dan sekarang jadilah Arya menunggu Anya di luar ruang perawatan tersebut.
Saat di luar menunggu sang dokter memberikan penanganan kepada Anya, membuat Arya tak henti-hentinya terus menyalahkan dirinya, sebab karena dia lah Anya bisa sampai terkulai sakit akibat dorongan dirinya yang mengenai sudut meja ruang tamu.
"Sial, gara-gara aku mendorongnya membuat Anya menjadi seperti itu, pokoknya bagaimana pun caranya Anya harus sembuh, agar aku tidak terjerat dengan hukum," ucap Arya sembari melihat dokter yang merawat Anya dari pintu kaca luar.
Hampir satu jam lamanya Arya menunggu, akhirnya dokter yang merawat Anya keluar. Namun, dapat dilihat oleh Arya bahwa raut wajah sang dokter sangatlah tidak mengenakkan hati, apa lagi tercetak jelas di wajah sedih sang dokter yang membuat Arya dapat menyimpulkan bahwa sang dokter akan menginformasikan berita buruk untuknya.
"Permisi Dok, bagaimana ya kondisi pasien atas nama Anya Marina?" tanya Arya dengan raut wajah khawatir. Tapi, belum terdengar satu pun jawaban sang dokter untuknya, malah dokter tersebut sedikit ragu untuk memberikan informasi terkait kondisi Anya kepada Arya.
"Dok, saya bertanya bagaimana kondisi Anya dokter!" tanya Arya lagi dengan suara kerasnya.
"Maaf beribu maaf Pak, saya tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien, sebab pasien sudah banyak kekurangan darah sehingga sulit bagi kami untuk mengobati pasien, apa lagi saat Anda membawa ke sini, kondisi pasien memang sudah kritis," jelas dokter tersebut pelan.
Mendengar jawaban sang dokter, seketika kedua lutut Arya menjadi lemas, bahkan sampai lemas nya membuat Arya masih bergeming di tempatnya.
"Dok, Anda tidak bercanda kan mengenai Anya, tidak mungkin Anya tidak bisa Anda selamatkan, Anya masih hidup kan Dok, jawab Dok!" ucap Arya sembari menggerakkan bahu sang dokter dengan keras.
"Maaf Pak, sekali lagi saya katakan kalau pasien tidak bisa diselamatkan Pak, maaf saya harus undur diri, jika Anda ingin melihat jenazah pasien, silakan lihat di ruangannya," imbuh sang dokter dan setelahnya melepaskan tangan Arya dari bahunya.
__ADS_1
Arya yang masih belum menerima kenyataan itu, mencoba menguatkan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan Anya.
Setiap langkahnya, Arya selalu berharap agar berita yang dia dapatkan dari sang dokter menjadi tidak kenyataan. Namun, harapan hanyalah tinggal harapan, karena Arya melihat sendiri bagaimana kondisi Anya yang terbujur kaku dengan kondisi bibir yang sudah membiru, sehingga pecahlah tangisan Arya dihadapan tubuh Anya yang sudah tidak bernyawa.