
"Pak Arya ternyata ke sini, memangnya ada apa Pak, apa ada yang bisa Mila bantu, atau mungkin laporan yang Mila buat salah ya Pak," cecar Mila karena dirinya berpikir kalau laporan yang dia buat tadi pagi sebelum izin pulang ke Arya memiliki kesalahan.
"Tidak kok Mil, hanya saja saya ke sini untuk membantu kamu pindahan dan ternyata kata anak-anak kamu sudah selesai melakukan pindah-pindah barang sendiri, apa lagi kan tanpa bantuan orang lain, hebat memang kamu Mila," sahut Pak Arya yang begitu terpukau akan Mila yang ternyata sangat mandiri dan kuat mengangkat barang-barang bawaannya sendiri.
"Bapak bisa saja, kalau saya yang penting selagi bisa dikerjakan sendiri kenapa tidak, kan jadinya tidak harus menyusahkan orang lain," imbuh Mila yang kembali membuat Arya terpukau. Sebab selain cantik, ternyata Mila begitu mandiri dalam hal apa pun.
"Oh iya Pak, ini karena bapak sudah membawakan makanan, lebih baik kita makan bersama-sama saja Pak, apa lagi Bapak membawa makanan ini sangat banyak, sehingga tidak mungkin habis Mila makan bersama anak-anak," sambung Mila kembali mengajak Arya untuk ikut makan bersama-sama.
Arya yang sebenarnya ingin menolak ajakan Mila, menjadi tidak jadi. Sebab benar apa yang dikatakan Mila kalau dirinya terlalu banyak membawa makanan sehingga ditakutkan menjadi terbuang sia-sia makanan yang dia bawa.
Dengan mengikuti Mila dari belakang, sekarang Arya sudah ikut berada di tengah-tengah Mila beserta anak-anaknya di ruang makan.
"Asyik, Ayah tiri ikut makan bersama kita," seru Syifa dengan raut wajah yang terlihat begitu senang, sampai-sampai membuat wajah Mila dan Arya bersemu merah.
"Aduh, mulut anakku satu ini tidak bisa di rem, sampai-sampai membuat aku malu sendiri," batin Mila dalam hati sembari berpikir untuk memutuskan kecanggungan diantara mereka.
"Oh iya, aku mau mengambil piring dulu Pak Arya, untuk alas makan kita bersama-sama," imbuh Mila. Namun, bukannya menganggukkan kepala tanda mengiyakan ucapan Mila, malah Arya dan kedua anak-anak Mila tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Mila. Sebab, sebelumnya Mila sudah menyediakan piring di atas meja makan mereka saat ini.
Hampir lima menit Mila berpikir penyebab kedua anak-anaknya dan Pak Arya tertawa dan sekarang lah baru pikiran Mila jalan, sampai menepuk kepalanya menggunakan kedua tangannya, sebab Mila tahu kalau dirinya salah beralasan, karena sebelumnya Mila sudah mengambil piring untuk makan dirinya bersama kedua anaknya dan Arya.
__ADS_1
Puas Arya dan kedua anak Mila tertawa terbahak-bahak, sekarang mereka akhirnya kembali tenang dan makan dengan lahap.
Sepanjang Mila makan, ada terselip rasa di dalam dirinya untuk menginginkan momen seperti ini di dalam keluarga kecilnya, dimana memiliki suami yang begitu baik dan akrab dengan kedua anaknya, bahkan juga duduk bersama-sama untuk menikmati makanan. Namun, semua itu hanya khayalan Mila saja, sebab untuk memimpikan semua itu rasanya sangat mustahil bagi Mila.
Sementara itu, terlihat di lain tempat terjadi keributan antara Ibra dengan ayahnya sendiri, sebab Ibra tidak ikhlas jika Mila mendapatkan rumah dari hasil jerih payahnya sendiri yang selama ini bekerja di perusahaan ayahnya. Bahkan yang membuat Ibra lebih emosi lagi adalah, ayahnya yang diam-diam memberikan saham kepada kedua anaknya.
"Ayah, kenapa Ayah melakukan semua ini tanpa persetujuan Ibra sih, kan Ayah tahu sendiri kalau rumah itu Ibra beli pakai uang Ibra sendiri, bahkan tak tanggung-tanggung Ayah memberikan saham kepada dua anak kecil itu, memangnya mereka bisa apa Ayah, kenapa Ayah tidak berikan saham itu ke Ibra saja, masak anak sendiri hanya dapat dua puluh persen saja sih," sungut Ibra dengan suara keras, sebab ayahnya tanpa merasa bersalah langsung memberikan rumah miliknya dan juga saham kepada Mila dan kedua anaknya.
"Itu sudah menjadi keputusan Ayah, memangnya selama ini kamu sudah memberikan apa ke Mila, bahkan Ayah tahu antara Mila dengan perempuan selingkuhan kamu, yang lebih banyak menikmati uang mu adalah perempuan selingkuhan kamu itu!" bentak Pak Arman.
"Sudah Ayah tidak perlu marah-marah dengan anak ini, lebih baik Ayah ke atas dulu bersih-bersih, nanti Mama buatkan kopi untuk meredakan emosi Ayah," ucap Bu Hana memotong percakapan antara suami dan anaknya.
"Ah sial, kenapa sih harta ayah tidak jatuh semuanya ke tangan Ibra, kalau begini masak Ibra harus bersaing sendiri sih dengan anak-anak Ibra sendiri," frustasi Ibra sembari menjambak rambutnya sendiri.
Keesokan paginya, tampak Ibra buru-buru bergegas pergi menuju ke suatu tempat. Ya, tujuan Ibra kali ini adalah ke rumah lamanya yang sekarang telah dihuni oleh Mila dan kedua anaknya.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Bunyi suara pintu yang diketuk keras oleh Ibra, sehingga membangunkan Mila beserta kedua anaknya.
"Aduh, siapa sih yang bertamu pagi-pagi buta ke rumah ini, seperti tidak ada waktu lain saja," gerutu Mila yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
Dengan rasa malas, Mila mencoba membuka pintu rumahnya dan seketika Mila langsung terkejut. Sebab orang yang bertamu pagi-pagi buta ini adalah Ibra, mantan suaminya sendiri.
"Mas Ibra," ucap Mila dengan wajah terkejutnya.
"Mas, kenapa Mas Ibra pagi-pagi buta ke sini?" sambung Mila dengan menanyakan perihal kedatangan Ibra.
"Ck, tentu saja aku ke sini, sebab mau tinggal kembali di rumah ini, kan kamu tahu sendiri siapa pemilik asli yang sesungguhnya," ucap Ibra dengan angkuh seraya masuk ke dalam rumah tanpa izin dari Mila. Bahkan saat ini, Ibra langsung duduk di sofa sembari bertumpu kakinya satu sama lain, layaknya sang majikan di dalam rumahnya sendiri.
"Mas Ibra, kamu tidak boleh tinggal di sini lagi, sebab kita bukan pasangan suami istri lagi dan untuk rumah ini, bukan kah sudah jelas kalau sertifikat rumahnya sudah menjadi atas nama Mila, bahkan Mila sudah mengecek sendiri keaslian sertifikat rumah ini," jelas Mila pelan.
"Heh, enak saja rumah ini jadi atas nama kamu, orang aku yang membelinya sendiri pakai uang pribadi, pokoknya kalau aku memang tidak diperbolehkan tinggal di sini, lebih baik kalian saja yang keluar, masak tidak malu sih mengaku rumah sendiri padahal uang yang dipakai untuk membeli rumah ini adalah uangku!" bentak Ibra yang dia tujukan kepada Mila.
"Baik Mas, kalau memang itu mau kamu, maka Mila dan anak-anak siang ini juga akan pindah dari rumah ini dan untuk sertifikat rumah ini, lebih baik Mila berikan ke Mas saja, karena menurut Mila harta bukanlah segala-galanya.
__ADS_1