
Saat perjalanan pulang, Ibra tidak sengaja melihat Siska di jalan. Dimana, Siska tampak sedang meminta-minta uang di perempatan lampu merah.
"Ck, belum aku melakukan pembalasan kepadanya, malah karma sudah menghampirinya lebih dulu, baguslah jadi aku tidak susah-susah mengotori kedua tanganku untuk membalasnya," ucap Ibra sambil tersenyum sinis menatap ke arah Siska.
Tanpa diduga-duga, saat Ibra masih menunggu lampu berwarna hijau, Siska mengetuk pintu mobilnya sembari menengadahkan kedua tangannya.
"Pak, beri saya uang Pak, saya belum makan hari ini," ucapnya pelan dengan raut wajah yang tampak mengenaskan, apa lagi penampilannya yang saat ini terlihat berantakan.
Melihat Siska mengetuk pintu mobilnya, dengan segera Ibra membuka penutup mobilnya dan terpampang jelaslah wajah Siska, sehingga saat ini keduanya tampak saling diam, dimana Siska tampak bergeming di luar mobil Ibra, sedangkan Ibra hanya menampilkan senyum sinis nya.
"Wah, ternyata kamu sudah menjadi gembel saja ya, apakah pacarmu sudah mencampakkan kamu sehingga menjadi tukang minta-minta sekarang di jalan?" tanya Ibra.
"Mas Ibra, syukurlah aku bertemu kamu Mas, memang benar kalau laki-laki itu sudah tega mencampakkan aku," adu Siska dengan senang karena dia pikir pasti Ibra akan iba melihatnya.
"Wah, baguslah kalau begitu jadi tanganku tidak perlu kotor, untuk membalas kamu dan oh iya ini aku ada sedikit rezeki untukmu, gunakanlah untuk makan," sahut Ibra dan setelahnya mengeluarkan selembar uang pecahan sepuluh ribu dan langsung mencampakkannya tepat mengenai wajah Siska dan setelah itu, langsung bergegas pergi. Sebab sekarang lampu lalu lintas sudah berganti menjadi warna hijau.
"Ternyata karma itu benar-benar nyata ya," batin Ibra dalam hati seraya mengucapkan rasa syukur, sebab karmanya tidak terlalu parah seperti Siska.
Kembali lagi dengan Mila, saat ini dirinya tengah makan bersama dengan Arya dan kedua anaknya.
"Sayang, besok Mama ku akan datang ke rumah ini bersama dengan Tante Rina, kira-kira kamu keberatan tidak, kalau Mama ku datang ke sini?" tanya Arya.
"Tentu saja aku tidak keberatan Mas, hanya saja kalau untuk Tante Rina, aku masih ragu." Ungkap Mila dengan jujur.
"Tenang saja sayang, nanti kalau Tante Rina berani mengusik kamu, maka Mas yang akan menjadi garda terdepan, pokoknya kamu akan aman sayang," serius Ibra saat mengatakan kalau dirinya yang akan menjadi tameng saat Tante Rina mengusik Mila.
"Huh, baiklah Mas, tapi besok pagi aku harus belanja terlebih dahulu untuk menjamu Mama kamu dan Tante Rina." Ucap Mila dengan menarik napas panjangnya, karena Mila sudah yakin kalau besok dirinya pasti akan menghadapi hari yang berat.
"Besok Mas temani kamu pergi belanja sayang, tenang saja," seru Arya dengan santai dan setelahnya melanjutkan makannya.
......................
__ADS_1
Keesokan harinya, tampak Mila tengah bersiap-siap untuk pergi belanja sendiri ke pasar. Sebab suaminya yaitu Arya, masih sangat susah sekali untuk dibangunkan.
"Huh, katanya kemarin mau menemaniku, tapi kenyataannya malah susah sekali untuk dibangunkan," gerutu Mila sepanjang jalan, sebab perkataan Arya tidak selaras dengan apa yang saat ini sedang dia lakukan, malah Arya sangat nyenyak sekali tidurnya persis seperti beruang yang sedang hibernasi.
Selesai dengan acara belanjanya, sekarang Mila bersiap-siap untuk masak makanan kesukaan mama mertuanya yaitu capcay dan juga sayur lodeh.
Saat Mila sedang masak, Mila dikejutkan dengan suara Arya yang terlampau keras memanggilnya.
"Sayang, kamu nampak tidak dasi Mas yang warna biru?" tanya Ibra dengan sedikit berteriak agar terdengar oleh Mila.
"Coba lihat di dalam lemari Mas, kemarin Mila letakkan di sana," jawab Mila yang juga ikut berteriak.
"Tetap tidak ada sayang, sudah aku cari di dalam lemari itu."
"Iya sudah, sebentar aku matikan kompor dulu," ucap Mila kembali dan setelahnya mematikan kompor sebelum menghampiri Arya.
"Lah, dimana ya Mas, aku kemarin meletakkan dasi kamu di sini kok," ujar Mila sembari membuka seluruh bagian laci lemari tersebut.
Saat Mila dan Arya tengah mencari dasi, tiba-tiba saja Andrew datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah dasi kusut berwarna biru. Ya, dasi itu adalah milik Arya yang sempat Andrew gunakan untuk bermain-main dengan Syifa.
"Andrew, dimana kamu menemukan dasi Ayah?" tanya Arya.
"Anu, itu Ayah kemarin Andrew sama Syifa memainkan dasi Ayah, namun Andrew lupa untuk mengembalikannya," jawab Andrew pelan dengan sedikit menundukkan kepala.
"Huh, Andrew lain kali jangan bermain-main ya dengan barang Ayah, apa lagi ini dasi untuk Ayah kerja, sekarang lihatlah dasi Ayah menjadi kusut!" ucap Arya dengan sedikit keras karena merasa jengkel dengan kedua anak tirinya yang suka memainkan barang pribadinya.
"Iya Yah, maafkan Andrew ya."
"Hmm, oh iya Mil, Mas minta tolong ke kamu untuk menggosokkan dasi Mas ya, agar terlihat lebih licin," pinta Arya.
"Iya Mas, sini biar Mila yang menggosokkan dasi Mas," ucap Mila dan langsung mengambil dasi tersebut dari tangan Arya.
__ADS_1
Setelah selesai Mila menggosok dasi milik Arya, kemudian Mila menata kembali masakannya yang telah dia buat untuk sebagian dia makan bersama keluarga kecilnya dan sebagian lagi untuk mertuanya saat berkunjung ke rumah mereka.
"Mas Arya, ini makan dulu, Mila sudah menyiapkan sarapan untuk Mas."
"Aduh, nanti ya sayang, Mas lagi buru-buru soalnya, sudah tidak sempat sarapan." seru Arya sembari berjalan terburu-buru.
"Oh, iya sudah Mas, tapi ini Mila sudah siapkan kok bekal untuk Mas makan," ujar Mila dan langsung memberikan bekalnya kepada Arya dan setelah itu Mila salim kepada Arya dan Arya tak lupa untuk mencium kening Mila.
"Hati-hati di jalan Mas."
"Hmm, gumam Arya dan langsung bergegas menaiki mobilnya menuju ke kantor.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Mila lalu bersantai sejenak sembari memantau kedua anaknya bermain di ruang tamu, hingga siang harinya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
Tok.
Tok.
Tok, bunyi suara pintu yang ternyata diketuk oleh Mama mertuanya.
Ceklek, suara Mila membuka pintu dan terlihatlah saat ini sudah berdiri dua wanita paruh baya, satu Mama Mertuanya dan satu lagi Tante Rina.
"Ayo Ma sama Tante, silakan masuk," ucap Mila mempersilakan kedua wanita paruh baya itu untuk masuk.
"Oh iya Mama sama Tante, ini Mila buatkan teh herbal sama camilan kering, silakan diminum dan dimakan ya," sambung Mila kembali dengan sopan sehingga membuat Mama mertuanya menatap Mila dengan kagum.
"Wah, anakku tidak salah ya cari mantu," ucap Bu Salma, Mama mertua Mila.
"Ck, belum tentu juga, kan ini baru awal-awal saja, nanti kita lihat kedepannya," timpal Tante Rina dengan perkataan sinis nya.
"Ih, kamu itu ya Rin, selalu saja begitu, langsung berprasangka buruk sama orang lain," bela Bu Salma sehingga membuat Mila terkekeh kecil nan mengejek yang dia tunjukkan untuk Tante Rina. Sebab Mila sebenarnya sudah merasa jengkel melihat perangai Tante Rina.
__ADS_1