Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Berangkat Ke Wilayah B


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak Mila tengah bersiap-siap untuk keberangkatannya menuju ke wilayah B, tempat proyek kerja sama yang dia tangani.


Saat ini, Mila mencoba memberi pengertian kepada kedua anaknya untuk ikut bersama orang tua Ibra, sebab hanya orang tua sang mantan suaminya lah yang masih dekat dengan sekitar lingkungan rumah Mila.


"Anak-anak, untuk sementara kalian tinggal dulu ya bersama Kakek Arman dan Nenek Hana, karena Mama harus dinas ke luar kota, nanti pokoknya di rumah Kakek dan Nenek, Andrew dan Syifa jangan nakal ya," ucap Mila memberikan pengertian kepada Andrew dan juga Syifa.


"Ya, berarti Mama lama dong pulangnya," sahut Syifa dengan wajah cemberut.


"Tidak sayang, paling selesai masalah di sana, Mama langsung pulang menjemput kalian, jadi nanti kalian baik-baik di rumah Kakek dan Nenek."


"Oke Ma, pokoknya Andrew dan Syifa janji enggak akan nakal," imbuh Andrew.


"Bagus, kalau begitu kalian siap-siap juga ya, itu sudah ditunggu supir." Ucap Mila kembali yang mendapatkan anggukan dari Andrew dan juga Syifa.


Setelah kedua anaknya sudah pergi, barulah Mila pergi bersama dengan Arya dan Ibra menuju ke wilayah B. Ya, saat ini mereka menggunakan satu mobil untuk keberangkatan menuju wilayah B, di sini Mila berharap semoga masalah yang nantinya akan dihadapi cepat selesai, sehingga Mila bisa berkumpul kembali dengan kedua anaknya.


Sepanjang perjalanan, terlihat ada sesuatu perasaan yang mengganjal di dalam hati Mila, namun dia tidak tahu perasaan apakah itu, karena rasanya sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.


Namun, Mila berharap perasaannya kali ini adalah perasaan yang bukan mengarah pada hal keburukan.


......................


Tak terasa sudah hampir lima jam lamanya mereka berkendara dan sekarang tampaknya mereka menepi ke salah satu rumah makan yang ada di sepanjang perjalanan, untuk makan siang.

__ADS_1


"Kita berhenti di sini saja ya untuk makan siang, karena kalau sampai ke wilayah B masih membutuhkan setengah perjalanan lagi dan takutnya nanti kita tidak menemukan tempat makan," ucap Arya.


"Iya sudah, kita makan di sini saja tidak apa-apa, yang penting perut kita terisi agar tidak terkena penyakit asam lambung yang berujung mag," balas Mila dan setelahnya mereka bertiga duduk di satu meja, dimana saat ini Mila dan Arya duduk bersebelahan, sedangkan Ibra duduk berada tepat dihadapan Mila dan juga Arya.


Dapat dilihat sendiri, bahwa selama mereka makan di tempat tersebut, Ibra selalu menghadap ke bawah, tepatnya ke arah piringnya tanpa menoleh ke arah Mila dan Arya, sebab di dalam hati Ibra masih ada tersimpan rasa cemburu melihat kemesraan Mila dan Arya, sehingga membuat Ibra hanya bisa menatap ke arah bawah seraya menyembunyikan kecemburuannya.


Puas dengan makanan yang sudah disajikan, sekarang waktunya Mila, Arya dan Ibra kembali melanjutkan perjalanannya dan saat ini giliran Arya yang menyetir mobilnya berganti dengan Ibra.


Saat Ibra hendak duduk di tengah, dekat dengan Mila, tiba-tiba Arya langsung mengatakan kalau lebih baik Ibra duduk di depan untuk menemani dirinya, agar Arya tidak mengantuk saat mengendarai mobilnya.


"Pak Ibra, Bapak duduk di depan saja ya, di sebelah saya soalnya kadang saya merasa mengantuk kalau tidak ada teman untuk mengobrol," kilah Arya yang sebenarnya maksud dari perkataannya adalah agar Ibra tidak bisa leluasa untuk berdekatan dengan calon tunangannya yaitu Mila.


"Oh, baiklah," ucap Ibra dengan singkat seraya mengumpat Arya di dalam hatinya, sebab kesempatan untuk berdekatan Mila harus pupus sudah karena Arya menyuruhnya untuk duduk di depan bersebelahan dengannya.


"Mbak, kami pesan tiga kamar ya," ucap Mila ke resepsionis.


"Baik Bu, ini kuncinya dan untuk pembayarannya bisa dilakukan dengan transfer," jawab sang resepsionis.


Setelah mendapatkan kamar masing-masing, mereka kemudian langsung beristirahat untuk memulihkan tenaganya yang akan mereka pakai pada esok harinya.


"Huh lelah nya, semoga saja masalahnya langsung selesai besok hari, sehingga tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk tinggal di wilayah B ini," batin Mila dalam hati.


Setelah itu, Mila bergegas pergi membersihkan diri, apa lagi sudah terasa lengket seluruh tubuhnya karena perjalanan mereka yang hampir memakan waktu satu hari.

__ADS_1


Sementara itu, di kamar lain. Terlihat Ibra tengah terjaga karena hari ini dirinya tidak dapat tidur, apa lagi sepanjang perjalanan, Ibra selalu meminum kopi untuk menemani Arya dalam berkendara.


"Sial, gara-gara kebanyakan minum kopi itu, aku tidak bisa tidur jadinya, ah lebih baik aku coba memantau kamar Mila saja lah, semoga dia juga belum tidur," ucap Ibra dan setelahnya mencoba berjalan menuju ke arah kamar Mila.


Namun, saat Ibra hendak ke kamar Mila, dirinya dipergoki oleh Arya yang ternyata juga sama-sama ingin ke kamar Mila.


"Eh kamu mau ngapain ke sini Pak Ibra, jangan-jangan mau ke kamar Mila ya," seru Arya dengan tatapan menyelidik.


Merasa kepergok, Ibra juga melayangkan perkataan yang sama dengan Arya.


"Pak Arya juga ngapain ke kamar Mila, kan Bapak masih bertunangan, belum berstatus sebagai suami istri, jadi ya tidak boleh juga masuk ke kamar seorang wanita, apa jangan-jangan Bapak mau dikatakan mata keranjang ya," balas Ibra yang membuat Arya terdiam seketika.


Setelah perdebatan itu, Arya dan Ibra malah duduk di balkon dengan menghisap sebatang rokok dan kembali menyeruput segelas kopi.


"Pak Arya tahu tidak, gara-gara Bapak, saya jadinya tidak bisa tidur, apa lagi bolak balik minum kopi dan sekarang malah Anda menawari saya kopi lagi," kesal Ibra namun masih tetap menyeruput kopi yang dibuat oleh Arya.


"Ya namanya biar ada teman ngobrol Pak, buktinya kalau Bapak tidak suka kopinya, kenapa Bapak minum juga tuh kopi buatan saya," balas Arya yang melihat tindakan dan ucapan Ibra yang saling bertentangan.


"Ck, ya terserah saya dari pada terbuang sia-sia, jadinya mau tidak mau ya harus saya minum," kilah Ibra kembali dan setelahnya mereka terdiam sesaat.


Namun, saat Ibra hendak kembali ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja Arya mengatakan sebuah kalimat yang menohok hatinya.


"Pak Ibra, lebih baik ikhlaskan saja Mila untuk saya, dari pada Bapak harus mencoba merusak hubungan kami yang memang tetap tidak bisa membuat Bapak bersama dengan Mila, karena sudah resiko jika Bapak mengucapkan talak, apa lagi talak tiga," cetus Arya yang membuat Ibra bergeming di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2