
Keesokan harinya, Mita sudah kembali bekerja di perusahaan Ibra. Saat dirinya masih menyusun beberapa dokumen, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kedatangan Sekretaris Han, yang mengatakan kalau dia sudah ditunggu oleh bos nya yaitu Ibra di dalam ruangannya.
"Mita, kamu sudah ditunggu sama Pak Ibra, katanya jika tidak datang dalam waktu lima menit, maka bonus mu akan lenyap," ucap Sekretaris Han dan segera Mita langsung berlari begitu saja meninggalkan ruangannya.
Tanpa berpikir panjang, Mita langsung masuk ke ruangan Ibra dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pak Ibra, apa Bapak memanggil saya?" tanya Mita. Namun, tidak ada jawaban dari Ibra.
"Halo Pak, apa tadi Bapak memanggil saya, kata Sekretaris Han, Bapak memanggil saya," ucapnya kembali dan kali ini barulah Ibra membuka suaranya.
"Hmm, memang aku memanggil kamu, tapi apa seperti ini sikap sopan santun bawahan, tanpa mengetuk pintu dahulu, malah langsung nyelonong masuk begitu saja," balas Ibra dengan menatap tajam ke arah Mita. Sehingga membuat Mita langsung menundukkan kepalanya dan mengakui kesalahannya.
"Maaf Pak, saya lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu, nanti akan ku perbaiki lagi sikapku ini," imbuh Mita pelan.
"Hmm, baguslah kalau kamu paham dan ini, lihatlah isi kontrak nikah kita," ucap Ibra kembali seraya memberikan kontrak pernikahan ke Mita.
...Isi kontrak pernikahan....
...1.Pihak kedua tidak boleh ikut campur urusan pihak pertama, namun pihak pertama boleh ikut campur urusan pihak kedua....
...2. Segala bentuk kesalahan pihak pertama, maka dimaafkan, tapi tidak untuk pihak kedua jika berbuat salah maka harus mendapatkan hukuman....
...3. Pihak pertama boleh berdekatan dengan lawan jenis, namun pihak kedua tidak boleh berdekatan dengan lawan jenis....
...4.Segala sesuatu urusan rumah tangga maka akan diatur oleh pihak pertama dan pihak kedua hanya mengikuti saja....
...5. Kontrak pernikahan ini berlaku selama satu tahun....
...Tertanda, pihak pertama Ibra dan pihak kedua adalah Mita....
Setelah membaca isi kontrak tersebut, Mita langsung mengerutkan keningnya, sebab kontrak yang telah dibuat oleh bos nya sangatlah tidak masuk akal.
"Permisi Pak Ibra, menurut ku kontrak ini sangatlah memberatkan Pak, apa lagi saya yang menjadi pihak kedua sangatlah merasa dirugikan, sebab semua kehidupan ku, jadinya diatur oleh Bapak," jelas Mita yang memang keberatan dengan isi kontrak nikah tersebut.
"Oh, jadi kamu merasa keberatan dengan isinya, baiklah berarti kamu sudah siap menanggung konsekuensinya," ancam Ibra sehingga membuat Mita menjadi pasrah dan setelahnya menandatangani kontrak pernikahannya itu dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Ini Pak, surat kontraknya," sambung Mita kembali seraya menyerahkan surat kontrak nikahnya.
"Hmm bagus sudah kamu tanda tangani dan oh iya ini salinan kontrak pernikahan kita, mana tahu kan kamu butuh."
"Tidak Pak, terima kasih kalau begitu aku kembali ke ruangan dulu," izin Mita dan Ibra langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah keluar dari ruangan bos nya itu, Mita langsung menumpahkan kekesalannya, tak jarang minta menendang barang-barang yang ada di dekatnya.
Tanpa Mita sadari, sebenarnya Ibra masih mengawasinya dengan kamera pengintai yang telah dia pasang di luar ruangannya.
"Ck, wanita yang lucu, begitu saja sudah mengamuk, tapi lucu juga kalau aku sedikit mengerjainya," ucap Ibra dengan senyuman jahil, setelah itu kembali memanggil Mita untuk menghadap ke ruangannya kembali.
Mita yang baru sampai di ruangannya, tiba-tiba didatangi kembali oleh Sekretaris Han dan mengatakan kalau bos nya memanggil dirinya kembali.
"Hah, Pak Han tidak becanda kah, masak iya aku baru selesai dari ruangan Pak Ibra dan sekarang malah dipanggil lagi," seru Mita dan kembali lagi menuju ke ruangan bos nya dengan perasaan dongkol.
Tok.
Tok.
Tok.
"Iya, silakan kamu masuk," jawab Ibra dari dalam ruangannya dan setelahnya Mita langsung masuk ke dalam ruangan Ibra.
"Bapak memanggil saya lagi, apa ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Mila dengan senyuman tipis, namun di dalam hatinya masih merasa dongkol dengan bos nya ini.
"Hmm, tolong kamu belikan aku makanan yang berat, tapi makanan nya itu untuk makanan ringan, pokoknya aku tidak suka nasi ataupun yang berbahan daging!" perintah Ibra yang membuat Mita menyipitkan matanya.
"Maaf Pak, jika saya lancang, bukan kah tugas ini seharusnya dilakukan oleh office boy Pak, bukan saya, karena saat ini pekerjaan saya sedang menumpuk Pak," jelas Mita dengan lembut, agar tidak menyakiti hati bos nya ini.
"Oh, jadi kamu tidak mau aku suruh, padahal aku baru menyuruh kamu untuk membelikan makanan, tapi malah kamu tolak, bagaimana nantinya jika kamu menjadi istriku!" marah Ibra yang membuat seluruh tubuh Mita bergetar hebat, sebab ini baru pertama kalinya Mita melihat kemarahan bos nya sendiri.
"Maaf Pak, baik akan saya belikan makanan yang ingin Bapak minta," jawab Mita dan segera Ibra menyuruhnya keluar.
"Nah, begitu dong, sekarang sana kamu beli makanan untukku, tapi pakai uangmu ya, karena kamu sudah berani membuatku marah," ucap Ibra dan segera Mita menganggukkan kepalanya, karena Mita sudah tidak mau ribut lagi dengan bos nya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Mita mencari makanan yang diinginkan oleh bos nya, sepanjang itu lah Mita mengeluarkan amarahnya akibat tingkah bos nya sendiri.
"Dasar bos gila, dengan seenak jidatnya dia menyuruh ku semaunya, awas saja aku sumpah kan dia mendapatkan istri yang benar-benar galak dan membuatnya langsung tunduk, jika setelah dia bercerai dariku!" teriak Mita yang langsung mengundang orang-orang disekitarnya menatap ke arahnya.
Sementara itu, di sisi lain Ibra langsung bersin-bersin, entah kenapa penyebabnya dia bersin, tapi yang dia tahu kalau ada seseorang yang menyebut namanya.
"Duh, pasti ada yang rindu denganku, makannya aku jadi bersin-bersin seperti ini," ucap Ibra pelan dan kembali mengecek dokumen yang sudah menumpuk di atas mejanya.
Kembali lagi dengan Mita yang masih bingung harus membeli apa untuk Ibra.
"Duh, aku beli apa ya untuk bos gila itu, apa ada makanan berat tapi ringan dan tidak nasi atau juga berbahan dasar daging," frustasi Mita sembari menjambak rambutnya sendiri.
Namun, saat dirinya memikirkan hal itu, tiba-tiba saja terlintas dipikiran Mita dengan satu makanan yang membuatnya tersenyum jahil.
"Hmm, sepertinya aku harus membeli makanan itu, kan dia termasuk makanan berat, tapi ringan dan tidak nasi ataupun berbahan dasar daging," imbuh Mita dan segera mencari makanan tersebut.
Hampir satu jam lamanya, akhirnya Mita mendapatkan juga satu makanan tradisional yang bernama Ampo, makanan khas dari Tuban yang berbahan dasar dari tanah liat.
"Nah, akhirnya aku dapat juga makanan ini, pasti Pak Ibra akan suka," imbuh Mita dan segera kembali ke perusahaan.
Sesampainya di perusahaan, Mita langsung bergegas menuju ke ruangan bos nya.
"Permisi Pak, ini aku sudah mendapatkan makanan yang Bapak inginkan," seru Mita dari luar ruangan Ibra.
"Hmm, masuk saja," balas Ibra dari dalam ruangannya.
"Ini Pak makanannya, pokoknya Mita jamin pasti Bapak akan ketagihan dengan makanan ini," ungkap Mita dengan tersenyum lebar.
"Hmm, seperti ada yang tidak beres dengan makanan ini," batin Ibra dalam hati dan segera mencoba makanan yang Mita bawa.
Baru sekali Ibra mencobanya, tiba-tiba saja Ibra langsung memuntahkan makanan tersebut yang terasa seperti tanah.
"Mita, sebenarnya kamu ini membeli makanan atau tanah."
"Iya makanan Pak yang saya beli, kenapa rasanya seperti tanah kan memang itu bahan dasarnya tanah liat, nama makanannya saja Ampo Pak, khas dari Tuban, saya dan Nenek juga suka makanan ini," ujar Mita dan segera mengambil makanan tersebut dari atas meja Ibra.
__ADS_1
Mita melahap makanan tersebut dengan santai dan terlihat sangat menikmatinya hingga membuat Ibra langsung menggelengkan kepalanya sendiri.
"Ck, dasar wanita aneh," batin Ibra dalam hati saat melihat Mita dengan santainya menyantap makanan tersebut.