Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Tanpa Ada Malam Pertama


__ADS_3

Setelah makan malam berlalu, sekarang saatnya Ibra dan Mita kembali masuk ke dalam kamar mereka.


"Mas, Mita pakai bantalnya satu ya, untuk Mita tidur di sofa ini," ucap Mita sembari mengambil bantal dan selimutnya. Kemudian Mita tata di sofa besar yang ada di dalam kamarnya untuk digunakan sebagai tempat tidur.


Ibra yang melihat Mita seperti itu, hanya diam saja sembari menatapnya dengan santai dan langsung merebahkan dirinya ke ranjang yang berukuran king size itu.


"Mita, kamu ngapain menata sofa itu, memangnya kau mau tidur di sofa bergelombang itu," ucap Ibra yang heran dengan tingkah Mita, istri yang baru dia nikahi.


"Iya Mas, kan kita cuma memiliki satu kasur, takutnya nanti malah menganggu tidur Mas lagi Mita," balas Mita yang terlihat sungkan dengan Ibra, sehingga membuat Ibra tertawa terbahak-bahak sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasar bodoh, kasur ini sangatlah luas, bisa muat sampai lima atau enam orang, jadi bagaian mananya kamu yang menggangguku, kecuali kalau kamu," terhenti ucapannya dan kemudian melirik Mita dari atas sampai bawah.


Sehingga membuat Mita langsung menutupi seluruh tubuhnya, apa lagi bagian yang tampak menonjol ke depan yang sedari tadi menjadi perhatian Ibra.


"Mas, jangan macam-macam ya, kan malam pertama tidak ada di agenda kontrak nikah kita," ucap Mita dengan takut.


"Ck, siapa juga yang mau dengan badan triplek mu itu, aku hanya melirik saja karena kaget kenapa ada wanita yang kurus kerempeng seperti mu ini, pasti satu pun pria tidak ada yang mau mendekati mu," kilah Ibra yang membuat Mita langsung melemparkan bantalnya secara tidak sengaja ke arah Ibra.


"Enak saja kamu bilang ya Mas, badan ku ini sudah pas, body bak gitar Spanyol gini kok dibilang kerempeng!" marah Mita dan setelah itu mengambil kembali bantal yang ia lempar ke wajah Ibra dan langsung bergegas tidur ke sisi ranjang yang ada di sebelah Ibra.


"Ya, berarti malam ini tanpa ada malam pertama, huh ya sudahlah aku juga harus tidur jadinya," ucap Ibra pelan seraya menyesali perkataanya yang membuat Mita menjadi marah dan alhasil dirinya gagal untuk melakukan malam pertama. Padahal Ibra sudah memikirkan matang-matang untuk membujuk Mita melakukan malam pertama dengan dirinya. Namun, karena ucapannya kelewat batas, akhirnya membuat Ibra mengurungkan niatnya.


Keesokan paginya, Mita telah terbangun lebih dulu dan segera menyiapkan beberapa perlengkapan kebutuhan Ibra dan selanjutnya baru mulai masak untuk sarapan pagi.


"Di kulkas hanya ada daging dan sayur kangkung, lebih baik aku buat cak kangkung sama ayam goreng sajalah, biar praktis juga," gumam Mita pelan yang kemudian mulai memotong sayuran dan meracik bumbu dapur yang akan dia gunakan ke dalam masakannya.


Sementara Mita sedang memasak makanan untuk sarapan pagi, maka beda halnya dengan Ibra yang saat ini masih tidur cantik di kasurnya.

__ADS_1


Walaupun berulang kali alarm berbunyi, namun Ibra masih tetap saja belum bangun dari tidurnya. Entah terbuat dari apa telinga Ibra sampai-sampai alarm yang ada di dekatnya pun tak mampu untuk membangunkan tidurnya.


Hingga berulang kali alarm itu berbunyi, barulah Ibra membuka matanya.


"Duh, alarm sial, kenapa dari tadi tidak berhenti sih bunyinya," kesal Ibra dan langsung membanting alarm nya hingga membuat isi yang ada di alarm itu berceceran.


Setelah Ibra mendapatkan kebisingan dari alarm nya, kemudian Ibra mencoba bergegas turun dari ranjangnya dan hendak pergi ke bawah karena dirinya mencium sesuatu aroma yang menggugah seleranya.


"Hmm, bau aroma masakan yang enak, apa para maid ya yang memasaknya," gumam Ibra yang mengira maid atau pembantu yang memasaknya dan langsung berjalan ke arah dapur.


Setelah sesampainya di dapur, Ibra melihat sendiri bahwa yang memasak adalah sang istri yaitu Mita. Dengan telaten, Mita mulai menggoreskan spatula nya ke wajan yang telah berisikan kangkung yang nantinya akan ia buat menjadi cak kangkung. Sementara, di sisi lain juga Mita menggoreng ayam kalasan, sehingga jadilah saat ini kedua tangannya bekerja dengan masing-masing wajan yang terpisah.


"Wanita unik, aku baru pertama kali melihat seorang wanita yang memasak dengan dua wajan sekaligus, sepertinya bagus juga kalau dia mengikuti ajang master chef, pasti dia merupakan kandidat terkuat untuk menang," ucap Ibra pelan dan menghampiri Mita yang masih sedang memasak.


"Mas, kamu ngapain di sini sih," ujar Mita yang kaget karena tiba-tiba Ibra datang menghampirinya.


"Tapi kan aku belum selesai masaknya, ya paling tunggu lima belas menit lagi."


"Ck lama sekali, bisa-bisa aku mati kelaparan kalau kamu terlalu lama untuk memasaknya" imbuh Ibra pelan yang membuat Mita menggelengkan kepalanya.


"Mas, mana ada orang yang mati kalau hanya menahan lapar selama lima belas menit, sudah lah sana kamu tunggu di ruang makan saja, nanti aku letakkan juga kok masakan ini di meja makan," usir Mita yang membuat Ibra mendengus kesal.


"Baru saja mulai pendekatan, eh malah dia nya mengusir aku," sungut Ibra kesal, namun masih tetap menuruti perkataan Mita untuk menunggu di meja makan.


Sembari menunggu masakan Mita matang, Ibra lalu mengerjakan beberapa dokumen penting kerja sama dengan perusahaan lain. Hingga tanpa sadar beberapa menit setelahnya, Ibra kembali mencium aroma masakan Mita yang sudah mulai tersaji di meja makannya.


"Huh, akhirnya aku bisa makan juga," batin Ibra dan segera mengambil nasi beserta cak kangkung yang telah dimasak oleh Mita.

__ADS_1


Mita yang melihat Ibra begitu tidak sabaran, hanya bisa menggelengkan kepalanya sekaligus meletakkan ayam goreng Kalasan yang telah matang.


"Mas ... Mas, kayak tidak pernah makan selama satu minggu saja kamu, sampai-sampai tidak menunggu ku dulu," sindir Mita, namun Ibra hanya menulingkan telinganya saja dan masih melanjutkan makannya.


Di sela-sela Ibra makan, dirinya tidak malu memuji masakan Mita yang memang terasa enak di lidahnya.


"Ternyata masakan mu enak juga, kalau seperti ini nanti siang sepertinya kamu bisa datang ke kantorku dan bawa makanan untuk aku makan siang!" perintah Ibra.


"Lah, tapi kan di kantor kamu ada kantin Mas, kenapa enggak makan di kantin saja, dari pada aku jauh-jauh mengantarkan bekal untuk mu." Tolak Mita.


"Sudah jangan melawan perintah suami sendiri, kalau aku bilang bawa ya bawa, jangan mengeluh."


"Iya sudah, nanti setiap hari aku bawakan bekal untuk mu," balas Mita dengan terpaksa dan setelahnya melanjutkan lagi makannya.


Selesai sarapan pagi, sekarang Ibra langsung bersiap-siap bergegas menuju ke kantornya, sementara Mita juga bergegas mempersiapkan pakaian milik Ibra.


"Mas, semua pakaian kamu sudah aku siapkan ya, sekarang aku mau bersantai dulu," teriak Mita dari arah ruang tamu.


"Iya ini juga sudah kupakai, oh iya nih salam dulu," jawab Ibra dan setelahnya menyodorkan tangannya ke Mita.


"Lah ngapain Mas?" tanya Mita heran.


"Ya salam lah sama suami sendiri, begitu saja tidak peka."


"Oh iya," balas Mita dan langsung salim tangan Ibra.


" Ya sudah, aku pergi dulu ya." Kata Ibra dan sebelum Ibra pergi, dirinya mencuri kesempatan untuk mengecup kening milik Mita dan setelahnya langsung bergegas pergi berangkat bekerja.

__ADS_1


__ADS_2