Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Memperkenalkan ke Keluarga Ibra


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak Mita mengikuti apa perkataan bosnya. Setelah kemarin mereka melakukan perjanjian dan kemarin juga Mita sudah mendapatkan uang mukanya, maka sekarang dirinya lah yang harus sudah mulai bekerja untuk Ibra, yaitu bersandiwara menjadi calon istrinya dihadapan kedua orang tua Ibra.


"Sudah siap kamu kan, awas saja jika gagal, maka kamu akan aku pecat sekaligus kembalikan uang yang sudah aku berikan!" ancam Ibra.


"Bapak tenang saja, kemampuan akting ku sudah di atas rata-rata, jadi jangan khawatir kalau gagal," jawab Mita dengan tenang, padahal di dalam hatinya, dirinya merasa deg degan, apa lagi ini adalah kali pertamanya dia harus bekerja dalam bentuk sandiwara.


Walau Mita tahu, dirinya bersandiwara untuk membodohi kedua orang tua bosnya adalah salah, tapi mau bagaimana lagi, sebab dirinya sangat memerlukan biaya untuk pengobatan sang nenek.


Sepanjang perjalanan, baik Mita ataupun Ibra tampak tidak mengeluarkan suara satu sama lain, sehingga menyebabkan kecanggungan tersendiri bagi Mita.


"Duh, kalau dilihat-lihat bos ku ini tampan juga sih, tapi sayang sikapnya sangat buruk, pantas saja istrinya dia ceraikan, huh bos bodoh," batin Mita yang sesekali memandangi wajah Ibra.


Tampa Mita duga, kalau Ibra juga melihat ke arahnya, namun bukan tatapan untuk mengagumi tapi tatapan tajam yang dia layangkan, sebab Mita selalu melirik ke arahnya sehingga membuat Ibra menjadi tidak nyaman.


"Matamu itu bisa kan jangan melihatku terus, ya aku tahu aku tampan, tapi jangan kau perlihatkan seperti itu, Ck menggelikan," seru Ibra dengan perkataan pedasnya.


"Maaf Pak, aku tidak akan menatap Bapak lagi."


"Hmm," gumam Ibra.


"Oh iya jangan lupa, saat di rumah orang tuaku nanti kau panggil saja aku dengan sebutan Mas, tap ingat hanya saat bertemu dengan orang tua ku saja," ucap Ibra.


"Iya Pak, aku akan mengingatnya," jawab Mita seadanya.


Sesampai di halaman rumahnya, Mita dan Ibra keluar secara bersamaan.


"Pak, kenapa kita hanya berdiri saja di luar rumah ini?" tanya Mita.


"Ck, kamu enggak ingat rupanya, kita ke sini mau ngapain."

__ADS_1


"Mau bersandiwara Pak, kan aku yang pura-pura menjadi calon istri Bapak, sedangkan Bapak pura-pura jadi calon suamiku dan kita akan memperkenalkan diri ke orang tua Bapak," jelas Mita.


"Nah itu kamu tahu, sekarang masak kamu tidak mengerti, kamu ya harus gandeng tanganku agar rencana kita berjalan lancar," ucap Ibra dengan kesal.


"Oh iya Pak, maaf."


"Hmm, begitu saja tidak paham, katanya pandai akting, rupanya masih dungu," gumam Ibra dengan menyindir Mita.


Sedangkan Mita yang mendengarkan sindiran dari bos nya hanya menggelengkan kepala saja dan ucapannya hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.


Setelah Arya dan Mita bergandengan tangan, setelahnya baru mereka masuk bersama-sama ke dalam rumah.


"Ma, ayah kemana?" tanya Ibra saat masuk yang ada hanya Mama nya saja.


"Ayah kamu di atas tuh, nanti juga turun dan oh iya wanita yang kamu gandeng itu siapa?" tanya Bu Hana.


"Oh, ini adalah Mita, calon istri Ibra Ma." Jawab Ibra.


"Iya Mas," balas Mita dan setelahnya langsung salim dengan Bu Hana, dengan tingkah laku sopan nya.


"Perkenalkan Tante, nama saya Mita Sahara, panggil saja Mita, saya adalah calon istri dari Mas Ibra, maaf ya Tante jika Mita baru bisa berkunjung ke rumah Tante, karena pekerjaan Mita yang tidak bisa ditunda," imbuh Mita dengan berpura-pura menampilkan wajah sedihnya.


"Iya Nak, tidak apa-apa, Tante paham kok bagaimana rasanya jadi wanita karir, karena Tante pernah mengalaminya," ujar Bu Hana dengan tersenyum ke arah Mita.


Melihat hal itu, Ibra langsung menampilkan senyumnya, sebab rencananya kali ini sepertinya berjalan dengan lancar.


"Ck, pintar juga wanita itu mencari muka, tidak salah aku memilihnya untuk bersandiwara denganku," batin Ibra dalam hati.


Saat Bu Hana dan Mita sedang berbincang-bincang, dari arah tangga Pak Arman turun begitu saja dan langsung duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Mas, kamu akhirnya turun juga, ini ada calon istri anak kita, dia cukup baik dan sopan loh Mas," seru Bu Hana yang membuat Pak Arman mengerutkan keningnya.


"Calon anak kita, memangnya dia sudah dekat dengan wanita lagi, bukan kah dia trauma sama yang namanya wanita selain dengan Mama dan Mila," ucap Pak Arman dengan santai, namun tetap saja rasanya langsung kena di dalam hati Ibra.


"Ih, enggak ya, lihatlah wanita yang di samping Mama," tunjuk Bu Hana ke arah Mita dan dengan cepat Mita langsung menghampiri Pak Arman untuk memperkenalkan dirinya.


Sama seperti saat memperkenalkan diri ke Bu Hana, lagi dan lagi Mita mendapatkan pujian dari Pak Arman.


"Nah, kalau model yang seperti ini saya setuju untuk kamu jadikan istri, sikapnya sama dengan mantan istrimu Mila, apa lagi dia sangat sopan dengan orang tua," ucap Pak Arman yang melihat sendiri bagaimana sopan nya calon istri Ibra.


"Eh iya Yah, kan Ibra memang tidak salah pilih," balas Ibra dengan sedikit membanggakan dirinya.


"Ck, tidak salah pilih, buktinya dulu kamu sempat tuh pilih Grandong," sindir Pak Arman.


"Itu kan dulu Yah, beda sama yang sekarang, gimana sih Yah," gerutu Ibra pelan dan kemudian, mengalir lah percakapan mereka begitu saja sampai waktu menunjukkan hampir jam makan siang.


"Oh iya, Tante mau ke belakang dulu ya, mau masak untuk makan siang kita," ucap Bu Hana.


"Kalau begitu biar Mita bantu ya Tan, kalau untuk masak sedikit-sedikit Mita bisa kok."


"Oh iya sudah, ayo ikut Tante ke dapur," ajak Bu Hana dan Mita mengikuti Bu Hana menuju ke arah dapur.


"Nak, kenapa enggak dari dulu saja kamu memperkenalkan dia ke keluarga kita, lihatlah selain sikapnya baik, cantik, dia juga bisa masak, pokoknya Ayah merestui kalian, nanti setelah kita selesai makan siang, Ayah akan membahas masalah pernikahan kalian," ujar Pak Arman pelan, namun membuat Ibra langsung terdiam di tempat.


"Duh, mampus aku, kenapa aku tidak kepikiran ke arah sana ya, pasti kalau aku menolak Ayah maka dia tahu akan kebohongan ku, pokoknya ikuti saja lah apa mau Ayah," batin Ibra.


"Iya Yah, nanti setelah makan siang kita akan membicarakan tentang pernikahan kami," jawab Ibra sekenanya.


Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya Bu Hana dan juga Mita, langsung menghidangkan makanan yang sudah mereka masak, terlihat di meja makan itu sudah tersaji ikan goreng, tumis kangkung, Ayah crispy dan masih banyak lagi.

__ADS_1


"Ayah, kamu tahu tidak, kalau yang masak ini hampir semuanya dilakukan oleh Mita, memang Mita sangat cekatan sekali ya Yah," puji Bu Hana sehingga membuat Mita menjadi malu-malu kucing.


"Iya Ayah sih pasti sudah menebaknya Ma, apa lagi dilihat-lihat, wanita pilihan anak kita ini memang serba bisa, untung saja Mita mau dengan anak kita ini," balas Pak Arman yang tidak lupa menyematkan sindiran halus untuk Ibra.


__ADS_2