
Sudah 2 minggu berlalu, Laura sangat nyaman tinggal di rumah keluarga Elia. Laura sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh keluarga Elia dan basar harapan mereka juga agar Laura suka sama Deni.
Deni juga sudah mulai berkerja diperusahaan papanya, walau belum diangkat menjadi pimpinan namun posisi Deni diperusahan cukup bagus.
"Yang mau test masuk kuliah bsok, pasti semangat banget, semua sudah disiapin?" tanya bu Andine memastikan biar semuanya siap tidak ada yg terlupakan.
"Sudah Tante, tidak ada yang perlu di persiapkan. Karena pihak kampus hanya mengharuskan kita untuk pakai baju putih dan celana hitam. Kemaren kita sudah belanj. Jarena harus pakai baju kemeja putih, sedangkan Laura tidak punya." jelas Laura
"Mah, Laura itu paling tidak suka pakai baju putih celana hitam, ataupun sebaliknya. Itu adalah setelan pakaian yang paling dibenci, kata Laura kalau dia pake baju warna itu terlihat seperti kotor** cicak"
Jelas Elia sambil tertawa, karena menurutnya itu lucu, dan berlebihan karena diluar sana banyak perancang busa yang memilih paduan kedua warna itu.
"Memang Laura punya kesan apa tentang dua warna itu" tanya bu Andine penasaran. Apa sebabnya sampai Laura tidak suka warna yang berlawanan itu dipadukan.
"Tidak ada alasan atau kesan tertentu, Laura cuma tidak suka aja" jawab Laura berbohong.
Bagai mana Laura tidak benci itu setelah, dulu dia sering memakai baju warna hitam dan putih, tapi setelah diejak oleh adiknya terlihat seperti kotar** cicak dan saat keluar dari rumah dia terpeleset dengan kaki terjungkal ke atas dan ditertawakan seluruh keluarganya. ditambah lagi ejekan si Adik kecil, "kotor** cicak nyemplung di lumpur" setiap mengingat kerjadian itu Laura sangat membenci setelah hitam putih. apa lagi saat kejadian itu kaki kirinya terkilir. Batin Laura.
Hari yang paling mendebarkan akhrinya tiba. Pagi itu semua sarapan bersama.
__ADS_1
Oma dan yang lainya memberi semangat untuk Laura, semalam ayah dan ibunya juga telfon untuk memberi semangat. Tidak lupa si Adik kecil mengingatkan sang Kakak agar hati hati dengan baju hitam putih.
Semua ikut keluar ke teras mengatar mereka yang mau berangkat kerja dan juga yang mau ujian.
"Sayang... sini Oma peluk, semangat ya nak, kamu pasti bisa, karena selama ini kamu sudah berusaha, insya Allah hasilnya akan bagus" ungkap Oma penuh haru.
"Iya Oma terima kasih banyak ya doa dan semangatnya" jawab Laura tulus sambil bersalaman dan berpelukan untuk berangakat.
BUBRAKK!!
"Aduuuh sakit! " teriak Laura
Mereka heran melihat ada air di depan rumah sampai mengenang dan membuat Laura terpelesat.
Mereka ingin tertawa tapi tidak jadi setelah melihat ke arah Laura.
Tanpa rasa malu Laura menangis sejadi jadinya, hal yang paling di takutkan karena seragam hitam putih akhirnya terjadi. Semua yang ada disana bingung melihat Laura seperti itu.
"Kamu tidak apa apa" tanya Deni panik karena Laura terus menagis, Deni khawatir kalau Laura terluka parah.
__ADS_1
Semua mendekat dan ikut panik, Deni langsung mengakat laura dan membawanya kedalam, Laura membenamkan kepalanya ke dada Deni sambil terus menangis.
"Hei, hei tenang, jangan menagis lagi, apa yang kamu rasain ayo bilang biar kami tau apa yang kamu rasakan " bujuk Deni sambil menguelus punggung Laura dengan lembut.
"Sayang, apa yang kamu rasain" tanya Oma
"Laura coba garakin kaki kamu, masih gerak apa gak, atau jangan jangan kamu lumpuh" ngerocos Elia yang bikin yang lain tambah panik.
"Mah... cepat telpon dokter suruh kesini" teriah taun Alvin panik setelah mendengar omongan Elia.
Bibi datang dari dapur membawa air putih untuk laura. " Tu.. Tuan maaf kan saya, saya yang tadi membuang air di teras" jelas bibi dengan wajah ketakutan sambil menyerahkan gelas
BIBI!!....
Teriak semuanya termasuk Laura yang dengan tiba tiba berhenti menangis. Bibi yang di teriaki semuanya menjadi pucat karena ketakutan.
"Terima kasih minumnya Bi" ucap Laura mengambil minum dari Bibi dan meminumnya
Semua bengong melihat ke arah Laura, dengan banyak pertanyaan di benak masing masing.
__ADS_1