
Tiga Tahun Kemudian
Laura turun dari pesawat menuju ruang tunggu untuk mengambil barang bagasinya. Laura memilih duduk di bangku paling belakang dari deretan bangku yang di sediakan.
Sambil menunggu barang bagasi datang Laura mebuka ponselnya. Sudah sangat banyak chat yang masuk, ada yang dari keluarga, teman dan saudaranya yang tinggal di kota J.
Dreeet... Dretttt... getar ponsel di tangan Laura
📱" Hallo Assalamu'alaiku Kak "
📱" Wa'alaikumsalam, kamu di mana? kenapa lama banget"
📱" Laura lagi di ruang tunggu Kak, lagi nunggu bagasi ni "
📱" Memang barang kamu banyak sampai harus masuk bagasi segala "
📱" Barangku gak banyak Kak. Tapi ibu beli oleh oleh buat semuanya yang ada di sini "
📱" Oh...kalau sudah ambil barang langsung keluar ya. Kakak udah dari tadi ni nunggu kamu "
📱" Iya baik Kak. Sudah dulu ya Kak bagasinya sudah di buka tuh. Aku mau ngantri ambil barang dulu. Assalamu'alaikum
📱" Wa'alaikumsalam " Sambungan ponsel terputus.
Laura ikut ngantri dengan pengujung yang lain juga. Seorang wanita muda mendekat
" Hai...Kamu punya bagasi juga " sapanya ramah
" Iya. Keluargaku membeli banyak oleh oleh dari daerahku untuk kerluarga disini. Kamu sendiri?"
" Barangku juga banyak. Ini barang pribadi, aku di terima kerja disini. Aku ngontak jadi bawa banyak barang biar tidak perlu beli lagi di sini "
" Oh... Selamat ya. Cari kerja di kota besar itu tidak gampang. Kamu hebat "
" Iya kamu benar. Aku beruntung dapat kerja di kota besar dangan gaji yang sangat lumayan. Terima kasih ya ucapan selamatnya " Laura hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Setelah mengambil barangnya Laura pamit sama kenalan barunya selama di pesawat.
Saat berjalan keluar, dari jauh Laura sudah melihat Kak Amelia menunggunya. Laura terseyum dan melambaikan tangan dan di balas oleh kak Amel.
Sambil berjalan Laura bisa melihat kalau Kak Amel mengambil gambar dirinya. Laura tidak begitu peduli karena hal itu sudah biasa baginya.
Baik teman, adik dan bahkan Kakaknya juga sering mengambil gambarnya dan memposting di media sosial. Laura tidak keberatan dengan hal itu.
Laura bersalaman dan memeluk Kak Amel dengan wajah sedih dan meneteskan air mata " Udah gak apa apa, semua sudah berlalu. Ini adalah pilihan yang terbaik. Tante dan Om sangat mendukung kamu tinggal disini jadi jangan sedih lagi ya " Kak Amel mengusap ngusap punggungku penuh sayang.
" Kak doain aku betah ya " Aku sangat berharap agar aku betah tinggal jauh dari keluarga intiku.
" Kamu pasti betah di sini, nanti Elia juga akan main sama kamu. Ada Nenek yang super cerewat yang akan membuat kamu lupa pada semua masalah yang kamu alami "
" Semoga aja ya Kak " karena itu adalah harapanku saat ini.
Kami berjalan menuju ke mobil sambil ngobrol dan kadang tertawa.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan mataku melihat ke luar jendela. Ini bukan tujuanku setelah kuliah, tapi sekarang aku di sini. Semoga ini adalah jalan terbaik untuku dan membawa kebahagiaan
" Ra... Laura... Ra... " berulang kali Kak Amel memanggilku tapi aku asyik dengan lamunanku sendiri. " Hei " Kak Amel mengoyangkan lenganku hingga membuat ku kaget.
" I-Iya kak ada apa? " tanyaku kaget karena terpksa di sadarkan dari lamunanku
" Kamu itu mikirin apa sih? di panggil berulang kali tapi diam aja "
" Maaf Kakak. Aku hanya sedang berpikir dan berharap agar semua ini yang terbaik buat aku. Dan bisa membuat aku bahagia "
" Kakak sangat yakin kalau masa depan kamu ada di kota ini. Di sini kamu pasti akan bahagia dan mendapat cinta juga " aku dapat melihat seriusnya omongan kak Amel saat ini.
" Kakak sudah seperti peramal aja ya " ucapku sambai tersenyum dan berharap semua omongan Kak Amel jadi kenyataan.
" Di sini, ada kami keluarga yang sangat mencintai dan menyayangi kamu. Kami semua akan melindungi dan menjaga kamu dengan penuh cinta. Kamu pasti akan bahagia di sini " Walau terihat serius menurutku kata kata Kak Amel terlalu lebay
" Iya Kak, walau kata kata Kakak terlau berlebihan tapi aku suka. Seandainya Ibu dan Ayah ada disini pasti akan sangat menyenangkan "
" Itu juga harapan Nenek. Nenek mau suatu saat nanti Om dan tante akan mau tinggal disini "
" Kak Aku lapar, kita makan dulu ya " ajakku
"Kamu itu gak pernah berubah ya. Selalu aja lapar setiap saat. Emang di pesawar tadi gak dapat makan "
" Dapat kak, tapi cuma satu macam dan dikit "
" Di depan ada restoran nanti mampir ya. Tapi kamu jangan terlalu banyak makan nanti, karena di rumah nenek sudah nyiapin banyak masakan menyambut kedatangan cucu tercinta " ucap Kak Amel sambil tertawa kecil
" Tenang aja Kak, kalau masalah makanan aku akan selalu siap menghabiskan "
" Kak ini restorannya mewah banget. Makananya pasti sangat mahal. Apa boleh aku pesan makanan yang aku suka? " Aku melihat penampakan dari luar aja sudah wau banget apa lagi di dalamnya.
" Kamu bisa pesan apa aja yang kamu suka, dan sebanyak apa yang kamu mau " mukaku langsung berbinar binar membayangkan betapa lezatnya makanan yang akan aku nikmati di dalam nanti.
Saat kami masuk Kak Amel memilih meja paling pojok. Aku tidak peduli mau duduk di mana aja. Yang penting adalah makanannya
" Ini coba kamu lihat dulu, mau pesan apa aja" Aku mengambil daftar menu dan kaget melihat daftar harga makanan
" Kak " Aku memberi aba aba
' ini mahal banget ' Kak Amel sepertinya mengerti ke khawatiranku
" Kamu pesan aja ya " Aku melihat kalau Kak Amel biasa saja saat melihat harga di buku menu.
" Kak aku steak, jus strawberry pake gula putih aja yang bayak, tidak paket susu. Aku itu aja " Kak Amel terseyum melihat ke arahku.
" Steaknya mateng tau setengah mateng "
" Satu mateng satu setengah " Kak Amel mengangguk ngerti. Aku gak melihat apa aja yang Kak Amel pesan, karena aku tau Kak Amel tau banget selera aku.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu makanan kamipun datang. Aku tersenyum semurigah. Kak Ameli melihatku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.
" Kakak emang yang terbaik "
__ADS_1
" Memang sangat gampang ya bikin kamu bahagia. Cukup berikan makanan yang enak dan banyak " kata Kak Amel sambil tertawa
Aku menyantap makanan di hadapanku dengan sangat lahap.
Kenapa aku merasa seperti ada yang memperhatikan aku ya. Batin Laura
Mataku mengitari seluruh penjuru ruangan. Pengunjung tidak rame, hanya beberapa meja saja yang terisi. Sampai mataku menangkap seorang pria muda dan seorang pria paruh baya duduk di meja pojok seberang meja kami.
Untuk beberapa detik mata kita saling menatap, tanganku tetap cekatan memotong daging dan memakanya.
" Kak apakah di kota ini orang lain akan memperhatikan kita makan? " tanya yang penasaran sambil sesekali melihat ke arah meja yang aku yakin mereka memperhatikan aku.
" Kanapa, Ada yang memperhatikan kita ? " tanya Kak amel sambil memutar tubuhnya untuk melihat sekitar. Karena memang posisi Kak Amel membelakangi meja yang ada pengunjung.
" Gak Kak. Aku cuma nanya aja "
" Ini kota besar. Orang tidak peduli terhadap urusan orang lain. Apa lagi sampai memperhatikan orang lain makan. Kalau sampai itu terjadi berati orang itu pengangguran yang tidak punya kesibukan yang lain " kata kata Kak amel membuat aku lega
Tapi kenapa aku merasa seperti ini ya. Ah ini cuma perasaanku saja. Batin Laura yang terus menyantap makanan dengan lahap.
Di meja pojok seberang
" Paman lihatlah cara gadis itu makan. Apa dia sudah kelaparan tiga hari. Baru ini aku melihat wanita makan dengan lahap dan banyak " uangkap Rangga. Yang menurutnya aneh ada wanita muda banyak makan. Karena kebanyakn wanita takut makan banyak
" Mungkin dia benar sedang kelaparan. Wanita itu sangat cantik dan terlihat polos " kata Paman sambil terus menatap ke arah Laura yang sedang serius makan.
" Paman tolong pesankan aku makanan yang sama dengan gadis itu. Aku jadi ikutan lapar melihat cara dia makan benar benar bikin aku selera makan " pinta Rangga pada sang paman
Dengan heran paman tetap melaksanakan perintah Rangga tanpa bertanya apa apa.
lima belas menit kemudian pesanan mereka datang. Rangga ternganga melihat semua makan yang di hidangkan. Dan melihat ke arah paman seolah bertanya apa semua ini!
" Ini adalah semua makanan yang di hidangkan di meja gadis itu " jelas sang Paman. Dan berhasil membuat Rangga memijat pelipisnya karena pusing bagaimana caranya mereka menghabiskan semua ini.
" Paman yakin? Ini sangat banyak. Ini porsi untuk lima atau tujuh orang makan. Apa kita bisa menghabiskan semua ini? "
" Kita makan aja, yang tidak habis nanti minta di bungkus. Bisa untuk makan siang lagi "
Rangga diam aja sambil melihat makanan di atas mejanya dan sesekali melihat ke arah Laura. Yang di lihat sama sekali tidak menoleh lagi ke arahnya dan sibuk dengan kegiatan makanya.
" Alhamdulillah akhirnya aku kenyang juga kak " kata Laura sambil mengelus perutnya " cacing hari ini kalian senangkan karena dapat yang enak "
Amelia hanya tersenyum sendiri melihat tingkah sang adik sepupu. " Mau langsung pulang atau santai disini dulu " tanya Kak Amel
" Langsung pulang aja Kak. Aku ingin ketemu nenek. Hampir sepuluh tahun aku tidak ketemu langsung sama nenek "
Merekapun meninggalkan restoran.
Begitu melihat Laura sudah pergi dan keluar dari pintu. Rangga langsung bergegas ke meja Laura untuk memastikan apakah makanan yang dia pesan sama persis seperti di meja ini
Rangga menepuk jidatnya sendir sambil tertawa kecil.
Gadis ini benar benar mesin pemakan. Dilihat dari posisi piring delapan puluh persen makanan di meja ini habiskan oleh dagis kecil itu. Batin Rangga
__ADS_1
Paman yang melihat tingak aneh Rangga hari ini hanya tersenyum sendiri.
Sudah empat tahun lebih baru kali ini ada gadis yang menarik perhatian kamu. siapakah sebenarnya gadis itu. Batin paman