
Mobil melaju dengan santai dan memasuki sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi penuh dengan ukiran. Aku merasa aneh, karena dalam ingatan anak anakku rumah Nenek tidak seperti ini.
" Kak, apa kita gak salah rumah? " Aku bertanya karena sangat penasaran rumah siapakah ini.
" Ya gak lah. Masa iya Kak bawa kamu kerumah orang lain. Rumah ini memang sudah banyak berubah dari waktu dulu kamu kesini " Kak Amel seperti bisa membaca pikiranku.
Rumah bergaya Eropa dengan tiang menjulang tinggi di padu dengan cat warna crem dan emas membuat rumah terlihat sangat mewah. Kiri kanan rumah di kelilingi taman bunga yang sangat indah. Itulah yang terlihat dari luar.
Sebelum aku turun dari dalam mobil aku melihat seorang wanita yang sudah berumur namun masih terlihat sangat cantik. Aku diam di dalam mobil karena merasa sangat asing dengan suasan ini.
" Hei, ayo cepat turun. Tuh nenek sudah nungguin cucu kesayanganya " Kak Amel menyentuh tanganku agar aku cepat keluar
Aku perlahan membuka pintu mobil dan berjalan pelan ke arah wanita yang kata Kak Amel adalah Nenekku.
Ini terasa asing bagiku. Tapi ini keluargaku. Keluarga kandung ibuku.
Nenek berjalan pelan kearahku sambil merentangkan tangan dengan air mata mengenang di kedua kelopak matanya, yang bisa jatuh kapan aja.
Pelukan ini sangat nyaman dan hangat. Tanpa kusadari air mataku juga keluar dengan sendirinya. Batin Laura
" Maafkan Neneknya ya sayang, yang tidak pernah memberimu kasih sayang. Bahkan tidak pernah datang padamu " Aku bisa merasakan kalau Nenek sedang terisak sambil memelukku.
" Iya nek Laura juga minta maaf karena baru datang sekarang. Seharusnya memang kami yang harus datang berkunjung " ucapku saat berpelukan dengan Nenek
" Sudah...Sudah nangisnya sudah cukup. Ayoe kita masuk " Aku melihat ke arah suara. Sudah ada lima orang berdiri di depan pintu memperhatikan kami
Aku menghampiri mereka satu persatu bersalaman dan mencium tangan mereka. Walau baru ini bertemu aku bisa merasakan kalau mereka semua menyukaiku.
Kami masuk kedalam dan duduk di ruang tamu. Mataku mengitari seluruh isi rumah. Sangat mewah dan besar. Ada banyak foto kelurga disana. Bahkan foto kami juga ada. Aku merasa sangat terharu, ternyata aku punya kelurga besar yang utuh.
" Laura mungkin kamu lupa karena saat kamu terakhir kesini saat itu umur kamu sepuluh atau sebelas tahun. Mereka saudra ibumu, ini istri mereka dan ada juga anak anak mereka. Semuanya laki laki hanya Amelia sendiri yang perempuan " Nenek memperkenalkan mereka denganku. Semuanya sudah aku kenal lewat ponsel saat kita videocall.
Kami mengobrol sebentar sambil saling menyapa dan dan nanyain kabar. Lebih tepatnya aku yang selalu ngomong karena harus menceritakan kegiatan ibu di desa.
" Ceritanya udah dulu ya. Laura ayo Kakak antar ke kamar " Aku sangat senang saat Kak amel memangilku, karena aku sudah capek banget ngomong terus tentang ibu.
" Nenek, Om, Tente Laura permisi dulu " izinku pada semuanya. Selatah mendapat jawaban dari mereka baru aku berjalan mengikuti Kak Amel naik ke lantai dua.
" Ini kamar kamu, semua yang ada di dalam kamar ini dalah milik kamu!. Kamu istirahat sebentar nanti setelah sholat zuhur kita makan siang bersama di lantai bawah " Kata tegas kepemilikan kamar dan isinya membuat aku senang. " Itu kamar Kakak, Kalau kamu perlu apa apa masuk aja ya " Aku menganguk
Aku membuka pinta kamar dan berjalan masuk perlahan sambil melihat seluruh isi kamar. Ini warna yang aju suka. Kamar dengan banyak jendela. Kasurnya sangat empuk nyaman. Aku merebahkan tubuh diatas tempat tidur dengan mata menatap langit langit kamar
Ibu, sekarang aku disini. Tapi ibu tidak ada. Aku kangen. batin Laura dan tanpa terasa air mata sudah keluar dengan sendirinya.
" Keluarga ibu tingal dengan segala kemewahan. Sangat berbeda dengan kehidupan ibu di desa, tapi aku dapat melihat kalau ibu sangat bahagia dengan ayah. Apakah Ibu akan tetap bahagia seandainya ibu pindah kesini" gumamku sendiri. Dan tanpa sadar aku tertidur
Tokk... Tokk...
__ADS_1
" Non di tunggu nyoya di bawah "
Aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar " Iya bu sebentar saya siap siap dulu " kataku pada pelayan
Aku bergegas ke kamar mandi. Sangat mewah dan besar, bahkan sebesar kamar tidurku di desa.
Setelah membersihkan diri aku masuk ke ruang ganti, semua lemari sudah ada isinya. semuanya sangat lengkap dan terlalu berlebihan untukku. Aku menacari koper bajunya yang ternyata tidak ada. Mau tidak mau aku harus memaki satu baju yang yang ada di dalam lemari.
Aku berjalan perlahan turun ke bawah. Aku bisa melihat kalau para istri dari Om sedang menyipakan makanan di atas meja. Meja makan ini sangat panjang dan besar, ada sekitar lima belas bangku ada dimeja makan.
Apakah ibu tau kalau kelurganya di sini hidup dengan sangat baik. Seandainya ibu juga ada di sini hiks. batin Laura
" Hai Laura " sapa mereka ramah begitu melihatku
Aku hanya tersenyum dan mengangguk " Nenek di mana? " tanyaku. Karena memang aku tidak melihat Nenek
" Ada di kamarnya, ayoe kita kesana " tiba tiba Kak Amel menjawab pertanyaanku. padahal sebelumnya aku tidak melihat Kak Amel turun
Tokk... Tokk...
" Nek kami masuk ya " tanpa menunggu jawaban dari dalam Kak Amel langsung masuk. Membuat yang punya kamar kaget.
Aku bisa melihat Nenek sedang menangis duduk sendirian di sofa dekat jendela kamar.
" Amel yakin Nenek pasti seperti ini, menangis sendiri di dalam kamar " Kak Amel mendekat dan memeluk Nenek. Aku hanya terdiam di tempatku.
Aku mendekat dan memeluk Nenek dari sisi lain Kak Amel. Aku mengusap punggung Nenek " Nek walau ibu tidak hidup di rumah semewah ini tapi ibu sangat bahagia. Ayah sangat mencintai ibu, dan memperlakukan ibu dengan sangat baik. Jadi Nenek jangan terlalu sedih ya " kata kataku ini entah tepat atau tidak.
Aku yakin Nenek begini karena ingat ibu, anak perempuan satu satunya yang hidup jauh darinya dan dalam kesederhanaan.
" Hiks... Hiks... Kenapa Ririn gak ikut nganterin kamu ke sini, apa Ia tidak merindukan Ibunya yang sudah tua ini. Sudah sangat lama Nenek tidak memeluk ibumu" Tangis nenek semakin menjadi jadi. Kita bertiga akhirnya menangis.
Kak Amel memberi kode padaku ' bagaimana caranya agar nenek keluar dari kamar, kalau di sini terus nenek akan terus menangis' Aku mengerti maksud Kak Amel
" Nek... Aku lapar " ucapku pelan sambil tetap memeluk nenek " cacing di perutku sedang berantem karena mereka kelaparan " ucapanku berhasih membuat nenek menoleh dan melepaskan diri dari pelukanku dan Kak Amel
" Maaf ya sayang, gara gara nenek kamu jadi telat makan " Nenek berdiri menghapus air matanya dengan tisu dan beralih ke meja rias dan menyeprotkan sesuatu ke mukanya. Menepuk mukanya dengan pelan dan balik ke arahku dan mengajakku keluar kamar untuk makan siang
Aku hanya menurut saja. Aku dapat melihat kalau mata nenek masih sembab dan agak merah.
Saat kami bertiga tiba di meja makan semuanya sudah ada termasuk para sepupuku yang semuanya lelaki dewasa.
Mereka menyapaku dengan ramah. Seperti mereka sangat bahagia melihatku. Mungkin karena aku cewe sendiri jadi mereka suka karena punya orang untuk di jahilin. Itu yang Aku pikirkan.
Aku ingin duduk dekat Kak Amel dan para sepupuku tapi sama nenek tidak di perbolehlan. Aku di suruh duduk di samping kanan Nenek. Aku hanya menurut saja.
Aku melihat makanan yang sangat enak enak di meja, dari penyajianya saja sudah sangat mengugah selera.
__ADS_1
Semua masih diam di tempat duduk masing masing tanpa ada yang duluan mengambil piring untuk diisiin nasi. Hingga akhirnya nenek mengambil piringku dan mengisi dengan nasi begitu juga dengan piring nenek sendiri.
Aku masih diam sambil memperhatikan sekitar. Hening... Nenek mulai neyendok lauk dan menarok di piringnya sendiri. " Ayo semuanya mari kita makan " ucap Nenek yang setelah itu langsung di ikuti oleh yang lain dan tentu saja yang tua duluan.
Aku melihat dan memperhatikan. Di rumah ini Nenek adalah orang tua dan semuanya menurut dan patuh pada Nenek.
Tidak ada yang berbicara di meja makan ini. Sangat berbeda dengan suasana makan di rumahku. Disini hanya suara denting sendok dan piring yang terdengar, sangat sunyi.
Aku menatap Kak Amel dengan penuh tanda tanya. Kak Amel hanya tersenyum melihat ke arahku dengan kode ' Nikmati aja semuanya, bila perlu habiskan ' Aku mengangguk kecil.
Aku mulai menikmati makananku dengan lahap, seakan aku sedang bersama kelurgaku sampai " Mad makanan ini sangat enak, Kamu makan yang bayak ya " tanpa sadar aku berucap dan tetap melanjutkan makanku dengan lahap.
Aku merasa ada yang aneh, kenapa tiba tiba jadi hening. Aku tersadar bahwa sekarang aku sedang bersama keluarga besar ibuku, bukan dengan kelurgaku.
" Maaf... tadi Laura merasa seperti sedang makan degan keluarga di desa. Di sini suasana makanya sepi, di desa biasanya kami makan sambil ngobrol santai dan bercanda. Bahkan kami berebut makanan walau kami tau kalau makanan itu cukup untuk kami semua " jelasku sambil menunduk
Hening lagi. Bahkan suara sendok dan piringpum tidak terdengar. Aku masih tertunduk karena merasa tidak enak telah mengacaukan acara makan bersama
" Sayang... Kamu juga bisa melakukanya disini. Kamu bisa melakukan apapun dirumah ini agar kamu nyaman dan betah tinggal disini " ucap Nenek.
Setelah mendegar ucapan Nenek " Ra kamu belum kenyang kan? " Aku mengangguk " Ini kamu habiskan ya " Kak Amel memberikan piring yang berisi asparagus tumis di campur jamur dan udang.
Aku tersenyum dan mengabil piring yang di berikan secara meraton padaku oleh kak amel. Karena posisi dudukku dan Kak Amel berjauhan jadi piring sayurnya melalui beberapa orang baru sampai di depanku.
Kami kembali menikmati makanan. Walau belum ada yang ngobrol tapi suasana tidak sekaku tadi.
Aku makan dengan sangat lahap. dan ternyata ada sepupuku yang selera makannya sama sepertiku. Aku melihatnya dengan tersenyum.
" Akhinya aku punya saudara yang makanya sama sepertiku " kata Brian
" Ya benar. Sepertinya kalian cocok kalau pergi kuliner berdua " ucap Rian kembaran Brian.
" Sepertinya Brian bakalan kalah kalau lomba makan sama Laura " sambung Kak Amel
" Benarkah? " tanya Om Ikbal setelah menelan makananya sambil tersenyum ke arahku
" Iya Om, Laura itu makanya sangat bayak. Semua makanan enak pasti di suka, tapi anehknya dia tidak gemuk " jelas Kak Amel
Nenek tertawa kecil " Itu sama seperti Nenek waktu muda " jawaban nenek membuat semua terkejut dan melihat ke arah Nenek dengan dengan raut muka yang berdeda beda.
" Benarkah! " ucap Om Ikbal dan Om Ismail hampir bersamaan
Semua yang ada di meja makan ikut tersenyum dan tertawa.
Acara makan bersama kali ini terasa berbeda bagiku dan keluarga disini. Namun cukup menyenagkan.
Selesai makan semuanya kembali ke aktifitasnya masing masing.
__ADS_1