Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
17. Jalan Jalan


__ADS_3

Setelah pulang dari mesjid pak Ahmad mampir di warung kopi yang ada di desa, mereka memilih duduk di pojokan agar tidak menarik banyak perhatian warga. Deni duduk dan memesan kopi, tidak bayak pilihan karena itu hanya warung kopi biasa. Pak Ahmad juga memesan kopi dan cemila seadaanya. tak lama pesann pun datang.


"Apa ada yang Nak Deni Sampaikan? " tanya pak Ahmad tanpa basa basi.


Deni bingung karena tiba tiba ditanya seperti itu, Deni terdiam "apa ini kesempatan yang baik untuk aku menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi, apa tidak masalah membicarakan hal penting ditempat seperti ini" batin Deni dengan wajah bingung.


"Sebenarnya tujuan saya dan Oma serta Lia kesini ingin menjelaskan tentang yang Om katakan tadi di telpon sama Laura, " ucap deni


"Terus" tanya pak Ahmad.


"Itu semua tidak benar, dan lelaki yang bersama Laura saat joging adalah saya, dan yang pernah memeluknya juga saya, tapi itu hanya pelukan penyemangat untuk Laura dihari ujian test masuk kuliahnya. Mama dan Papa Oma sudah menganggap Laura keluarga sendir, dan Laura sangat pandai menjaga diri, dan tidak sembarangan pria akan bisa mendekat denganya." jelas Deni panjang lebar

__ADS_1


"Kamu sendiri menggangap Laura siap?, Om perhatikan sorot mata kamu terhadap Laura berbeda saat kamu mentatap Elia dan juga saat kamu manatap Mona tadi" ungkap apk Ahmad


Deni yang ditanya begitu langsung syok dan kaget "apa persaanku begitu terlihat, kalau aku menyukai Laura, bagai mana ini, apa aku berbohong aja," batin Deni bingung harus bagai mana.


Melihat Deni bingung, "kamu jujur saja sama Om, karena sebagai sesama pria Om mengerti keadaan kamu, siapa tau saja Om bisa bantu" jelas pak Ahmad berharap agar Deni mau berkata jujur padanya.


"Sebenarnya saya memang menyukai Laura, dan entah kapan itu saya rasakan, saya sendiri tidak tau, dekat dengan Laura membuat saya nyaman dan saya jadi bersemangat. Dan saya akan sedih saat Laura sedih atau terluka. itu yang saya rasakan. Tapi Laura malah menganggap saya seperti kakaknya sendiri." Jawab Deni jujur dengan muka khawatir.


"Iya Om Deni akan mencoba yang terbaik" jawab Deni sunguh sunguh.


"Nak Deni, kalau jodoh itu tidak akan kemana, dan wanita dari keluarga istri Om itu memang unik, mereka keras kepala dan punya prinsip, tapi mereka sangat setia. Berdasarkan dari pengalaman Om dengn tante, Kalau Laura sama seperti ibunya maka kamu tidak punya kesempatan, karena yang mereka meyakini 'mereka akan mengenal dari tulang rusuk mana mereka Allah ciptakan' ribet dan mustahilkan?." jelas pak Ahmad, dan itulah yang terjadi pada dirinya dan istri

__ADS_1


"Iya Om seperti Laura punya prinsip sendiri dalam memilih laki laki, bukan seperti wanita lain yang mengatagorikan, tampan dan kaya untuk calon suami merka, kalau Laura sepertinya dia punya kriteria lain" ucap Deni.


"Kamu benar banget nak Deni, sama seperti Om dulu dipilih oleh ibunya, bukan karena Om tampan atau kaya, Om malah tidak punya itu semua, setiap Om tanya kenapa melilih Om jawabanya selalu sama, karena Om yang membutukan, itulah jawabnya" jelas pak Ahmad


Selesai ngobrol mereka pun pulang, Deni juga baru merasa lelah sekaligus lega setelah ngobrol dengan pak Ahmad.


Pagi hari sebelum subuh dirumah sudah rame, karena sudah bangun untuk siap siap sholat, yang laki laki ke mesjid dan yang wanita sholat dirumah, ibu Riri sedang menyiakan sarapan dibantu Laura dan Mona, Oma di temani Elia berkeliling sekitar rumah dipagi hari yang cerah dangan suasana dingin, Deni ngobral dengan pak Ahmad di teras. Setelah sarapan siap, merekapun serapan bersama, sambil sesekali ngobrol dan bercanda. Suasana sarapan sangat menyenangkan, hangat dan akrap.


Semua bersiap siap dengan kegiatan masing masing. Sebelum semua pergi Deni sudah di halaman dengan cameranya.


"Ayo semua berkumpul, kita foto dulu" ucap Deni bersiap denga cameranya dan akan mulai membidik bocah bocah yang pada siap berangkat sekolah. Tanpa aba aba itu bocah sangat semangat untuk difoto dengan bermacam gaya mereka, tak ketinggalan Oma, bu Ririn dan pak Ahmad juga ikutan. Dengan bermacam gaya dan juga posisi foto, Elia dan Laura juga tidak ketinggalan.

__ADS_1


__ADS_2