
Rangga sangat serius dengan ucapnya untuk segera meng sahkan Laura jadi istrinya.
Bu Aisyah yang mendengar itu sangat bahagia.
"Hal baik itu memang harus di segerakan" kata Bu Aisyah
"iya, nanti Ngga akan minta di kenalkan pada kelurganya yang ada di sini." Ucap Rangga yakin.
Rangga sudah mengatakan niatnya pada Laura, tapi Laura tidak mengangap itu serius.
Di rumah Elia
"Ra, kalau kak Rangga serius giman?" tanya Elia.
"Entahlah, aku gak tau" jawab Laura asal.
Laura memang sudah bercerita pada kelurganya, kalau dirinya sekarang sudah punya pacar. Adiknya sangat kaget, apalagi paisal. Mereka sempat protes kerena Laura tidak pacaran dan nikah sama Kak Deni aja.
Tapi ibu dan ayah menjelaskan pada mereka, kalau cinta itu tidak dapat di paksa, dan jodoh itu rahasia tuhan
"Kalau Kak Rangga serius, apa kamu siap" tanya Elia serius
"Kalau sudah waktunya, ya siap gak siap" jawab Laura ngasal lagi
"Aku yakin kalau Kak Rangga pasti serius dengan katanya"
Laura hanya diam aja.
Apa iya aku akan segera menikah?, Aku memang berharap kak Rangga jadi suamiku. Tapi tidak secepat ini. Tapi Aku senang. Batin Laura.
"Dasar ya wanita. Mulut diam aja, tapi hati berbunga bunga" goda Elia yang seakan tau isi hati Laura.
"Apaan sih sok tau" balas Laura.
"Apa yang sok tau" tanya Oma Fadilah,
"Apa itu? ayo cerita sama tante" tambah bu Andine
"Itu....Kata Laura kalau Kak Rangga bilang mau bertemu keluarga Laura,. Ngebet pengen nikah" Ucap Elia
Muka Lura merah karena malu mendegar ucapan Elia, itu gak benar tapi entah kenapa Laura tidak ada niat untuk protes.
"Bagus itu, Rangga anak yang baik. Sudah cukup kesedihan yang dia rasa. Tante ikut bahagia untuk kalian berdua" ucap Bu Andine tulus
"Iya, Oma juga ikut senang. Walau kalian belum lama pacaran, tapi Oma yakin kalau kalian berdua sudah siap untuk jadi suami istri" tambah Oma.
"Iya Oma, Tente. Terima kasih bayak atas doanya" balas Laura tulus
Laura masih bingung dengan hatinya. Mereka belum lama menjalin hubungan. Apa gak terlalu cepat bila mereka segera menikah.
"Bingung lagi... Jalanin aja. Kalau Kak Rangga ngelamar ya terima aja, kalau pun gak segera ya santai aja. Semua sudah ada yang ngatur" ucap Elia yang lagi lagi seakan Ia tau apa yang sedang Laura pikirkan.
__ADS_1
"Iya" balas Laura yang masih terlihat bingung.
"Om sama kak Deni mana?" tanya Laura yang sudah lama tidak ketemu Deni.
"Di taman belakang sayang" jawab Bu Andine.
Laura segera berjalan ke belakang rumah
Dari tempat duduknya Deni dapat melihat Laura berjalan ke arahnya.
"Hai... pengantin baru. Tambah cantik aja" goda Deni
"Kak Deni apapaan sih. Kakak tau dari mana?"
"Semua yang terjdi pada kamu kakak tau. Kakak juga sudah kabarin Om Ahmad, dan Rangga juga sudah ngomong sama Om Ahmad" jelas Deni.
Rangga meminta tolong sama Deni. Atau lebih tepatnya memohon sama Deni agar dirinya di kenalkan sama keluarga Laura yang di Desa.
"APA!"
"Ya gak bisa begitu Kak, kenapa gak ngomong dulu sama Aku. Aku yang akan menjalani semuanya tapi kenapa aku yang gak tau apa apa" kesel Laura.
"Entar malam keluarga Rangga mau kerumah nenek. Kamu gak tau juga?" tanya Deni lagi
"HAH" Hanya itu yang keluar dari mulut Lura.
"Tenang aja, bukan acara lamaran kok, hanya perkenalan dua keluarga aja" balas Deni santai. Karena menurutnya itu hal yang biasa.
Lagi lagi Laura di bikin kesel dengan sikap Rangga yang gak bilang apa apa padanya.
Laura masuk ke kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi Rangga.
"Hallo, Assalamualaikum" jawab Rangga
"Waalaikumsalam. Kak kenapa kakak tega sama aku. Apa gak bisa kakak bilang sama aku dulu, ni aku tau semuanya dari orang lain" cecer Laura to the point
"Sayang, kamu lupa. Itu kan sudah kita bicarakan, tapi kamunya yang cuek aja. Aku cuma mau kita segera bersama. Makanya aku minta tolong sama Deni. Dan Deni itu bukan orang lain bagi kita sayang.. " Jelas Rangga
"Tapi... Apa ini gak terlalu cepat" balas Laura
"Sayang, kata Ibu hal baik itu harus di segerakan"
"Ya udah terserah. Ayah bilang apa?" Tanya Laura penasaran.
"Nanti malam aku ceritain. Ini hanya makan malam keluarga, perkenalan aja. Jadi kamu santai aja ya" ucap Rangga menengkan Laura.
"Ya sudah. Udah ya Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam" balas Rangga.
Saat Laura akan keluar dari kamarnya. Elia masuk.
__ADS_1
"Pasti mau pulangkan" tanya Elia
Bukanya menjawab Laura Malah Memeluk Elia dan menangis.
"Hai kenapa menangis? "
"Aku terharu. Kamu selalu ada untukku dan paling ngertiin aku. Terima kasih bayak ya untuk semuanya" ucap Laura tulus.
"Biasa aja kali, ayoe cepat. Aku penasaran apa yang siapkan di rumah" ajak Elia.
"Aku juga" ucap Laura.
Mereka pamit pada semuanya. Deni ingin mengantar, tapi Elia gak mau ngalah. Ia tetap ingin mengangatar Laura.
"Dia ngebet karena sudah rindu berat sama Hendra itu" goda Deni
"Kakak pasti cemburu, makanya cepetan cari pacar" balas Elia sambil menjulurkan lidahnya ke arah Deni.
Kelurga lain yang melihat hanya tertawa.
"Akhirnya sampai juga" ucap Elia saat mereka sudah sampai di rumah kelurga Laura.
"Ayo cepetan" ajak Laura yang langsung keluar dari mobil.
Setelah memberi salam mereka masuk ke dalam. Laura kaget karena kedua Tantenya juga ada dan ikut membantu persiapan untuk nanti malam.
"Nenek mana" Tanya Luar setelah bersalaman dengan mereka, di ikuti oleh Elia.
"Di kamar" jawab tante Putri.
Laura langsung ke kamar Nenek.
Elia ikut membantu, Tante Putri sangat menyukai Elia. Dan sangat berharap agar Hendra segera melamar Elia untuk jadi istrinya.
"Assalamualaikum" ucap Laura sambil berjalan masuk ke dalam kamar Bu Fatimah, sang nenek.
"Waalaikumsalam, udah pulang sayang" jawab Nenek sambil menepuk sofa di sampingnya.
Laura yang mengerti Langsung duduk di samping Nenek
"Kenapa Nenek gak bilang tadi pagi" tanya Laura
"Menurut Nenek itu gak perlu sayang. Nenek ingin mengurus semuanya untuk kamu. Ayah dan ibumu juga sudah menyerahkan semua sama Nenek"
"Nek, Laura gak tau kalau Kak Rangga serius"
"Karena itu ucapannya gak kamu tanggapi" Laura mengiyakan. "Apa kmu mencintainya" Tanya Nenek lagi.
"Sangat Nek, Laura sangat menyukainya. Bahkan saat pertama kami bertemu jantung Laura sudah berdebar Nek. Awalnya Laura kira karena ketakut di peluk orang asing. Tapi ternyata bukan"
"Itu bagus, karena Nenek yakin kamu juga menyukainya, makanya Nenek tidak mengatakan apa apa tentang hari ini"
__ADS_1
"Ayah bilang apa Nek" tanya Laura yang penasaran. Karena Laura yakin ayahnya gak akan setuju begitu aja dengan acaranya ini, walau hanya acara keluarga. Pasti ada syaratnya.
"Nanti malam kamu juga akan tau" ucap Nenek yang bikin Laura tambah penasaran.