Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
14. Tidak seperti itu


__ADS_3

Deni balik ke kantornya dengan perasan tidak karuan, karena gadis yang disukai malah menganggap dirinya sebagai Kakak.


Tanpa mereka sadari ternyata dari awal mereka turun dari mobil sudah ada sepasang mata yang mengawasi. Dengan muka marah mata itu terus mengawasi sambil tangan yang mengempal kerena menahan emosi.


seminggu berlalu


Setelah test ujian masuk Laura tidak pulang ke desa, karena menurut keluarga Elia nanti saja pulangnya kalau hasil testnya sudah keluar, sekalian memberi tahu keluarga hasil testnya. Laura setuju, selama tinggal di keluraga Elia Laura nyaman karena mereka memperlakukan dirinya dengan baik, harinya dihabiskan dengan Oma dan bu Andine, kadang juga kalau pagi Laura dan Deni joging bareng di kawasan rumah.


"Lia... kamu beneran mau kuliah Design" tanya Laura.


"Iya tentu karena itu cita citaku, kuliah di Paris dan nanti buka butik di kota J" ucap Elia santai.


"Aku doakan semoga nanti kamu jadi perancang terklenal, dan jangan sampai melupakan aku ya". ucap Laura penuh harap.


"Tenang aja, kalau aku sukses nanti aku akan membuat baju baju yang indah dan cantik untukmu, bila perlu nanti kamu jadi modelku" jelas Elia bahagia.


"Sebaiknya kalau jadi modelmu jangan deh, aku gak mua rancangan kamu nanti gagal gara gara aku" ungkap Laura, karena Laura tau dia pasti akan membuat Elia malu nanti.


"Tenang aja nanti itu aku ya arus" ucap Elia santai, seolah itu semua akan terjadi besok.


Tring... tring...


bunyi telpon rumah


Hallo... Assalamualaikum

__ADS_1


waalaikumsalam, bener ini dengan rumah Elia


Iya bener, maaf ini siapa? dan mau bicara sama siapa?


Ini saya Ahmad ayahnya Laura


Iya, om ini saya Elia, ada apa ya Om?


Mana Laura om mau ngomong sama Laura, penting!


Ada Om, sebentar.


"Ayah kamu, tapi sepertinya sedang marah marah gitu deh" ucap Elia pelan.


"Kira kira kenapa ya, ayahku telpon sambil marah marah" ucap Laura heran


Assalamualaikum...Iya Ayah ada apa? ini Laura


karena penasaran Elia ikut nempilin kupingnya iku mendergarkan.


Dasar kamu ya, anak tidak tau diri, katanya mau kuliah, tapi nyatanya kamu malah sama lelaki disana, apa begitu ayah mendidik kamu selama ini, sampai kamu kemana saja bersama lelaki itu, perpelukan didepan umum, pagi pagi joging bareng. apa kamu tidur juga dengan lelaki itu?!


Dengan air mata yang terus mengalir, Laura mendengar setiap kata dan kalimat yang ayah ucapkan, dan rasanya seperti dadanya ditusuk pedang, tapi tidak berdarah, begitulah rasanya, sangat sakit walau tidak terluka.


"Ayah, itu semua tidak benar, Ayah dengar dari siapa?, itu fitnah Yah" jawab Laura sambil menagis.

__ADS_1


Mau itu fitnah atau bukan, Ayah tidak peduli, hari ini juga kamu bawa semua baju kamu dan pulang kerumah. Ayah tidak mau tau. capetan pulang!.


Belum sempat Laura menjelaskan semuanya sambugan telpon di putuskan begitu saja oleh ayah.


"Gak apa, sumuanya akan baik baik aja" ucap Elia sambil memeluk Luara, Elia mendengar semuanya sehingga tahu semuanya.


"Aku tidak sepeti itu, aku tidak sehina itu, Ayah tega ngatain aku bagitu, Lia... aku harus bagaimana sekarang" ungkap Laura sambil terus menangis.


Bu Andine dan Oma yang baru pulang kaget melihat Laura menangis sambil dipekuk Elia.


"Aku antar Laura dulu ke kamar ya" ucap Elia sambil memberi aba aba 'nanti Elia jelasin semuanya' karena yang penting sekarang adalah menenangkan Laura.


Satu jam berlalu, saat Elia turun semua kelurganya sudah berkumpul diruang tamu, karena Deni dan tuan Alvin sudah tahu Laura menangis dan terlihat syok di ceritakan semuanya sama istri dan ibu mertuanya.


"Elia tolong jelasin, ada apa dengan Laura, sepertinya dia syok banget tadi" tanya bu Andine penasaran, begitu juga dengan yang lain.


Elia mulai menjelaskan semua yang dia dengar di telpon tadi, pembicaran Laura dan ayahnya tanpa ada yang di lebikan atau dikurangi. Semua keluarga sangat kaget mendengarnya. Mereka heran dari mana Ayah Laura mendengar semua itu, sampai tega berkata begitu untuk anak sendiri.


"Aku juga bingung, kenapa sampai Laura joging aja ayah Laura sampai tau ya" ucap Elia bingung


"Kita harus harus gimana? , Ma, Pa, Oma, aku tidak mau karena salah paham ini masa depan Laura jadi hancur, walau belum lulus test masuk, tapi ini kan tidak benar" ucap Deni yang terlihat sangat marah dengan semua fitnah yang menimpa Laura.


"Biar salah paham ini selesai, kita harus menjelaskan semuanya pada keluarga Laura" ucap bu Andine dan di iyakan oleh Oma dan tua Alvin.


"Iya itu banar, berati bsok pagi pagi kita berngkat kerumah Laura" kata Oma

__ADS_1


"Kenapa tidak sekarang aja Oma, ini kan masih sore, dan Om Ahmad juga tadi minta Laura pulang hari ini" jelas Elia, Elia tau kalau ayah Laura sangat ketat terhadap anak anaknya


__ADS_2