
Seminggu sudah berlalu, Ospek di kampus pun telah usai. Walau sangat capek tapi mereka semua terlihat senang. Segala kegiatan yang mereka lakukan denga semangat, karena hampir semua kegiatan di lakukan oleh tim.
Bertemu dengan orang baru, akan sering atau bahkan selalu bertemu selama 4 tahun kedepan itu bukanlah hal mudah dan menyenangkan. Karena masa kuliah itu masa paling egois yang kita alami. Kita mau di hormati tapi tidak mau menghargai, semua yang terbaik berharap itu semua untuk kita. Padahal sikap kita sendiri bersikap sangat buruk. Inilah yang sering terjadi saat masa kuliah.
Niat awal selesai Ospek ingin mencari kost tapi saat hari libur malah tiduran di rumah aja, senin sudah mulai ngampus lagi.
"Lia aku belum sempat cari kost, kamu sekarang sibuk banget ya"
"Iya aku akan sangat sibuk selama seminggu ini. Maaf ya karena gak bisa bantu" bohong Elia
"Iya gak apa apa, aku ngerti. Mungkin nanti pulang kampus aku akan keliling bentar, siapa tau aja dapat yang cocok" ungkap Lura dengan wajah penuh harap
"Kita keluar yo nyari makan diluar, Bibi hari ini izin keluar dan malam nanti baru pulang" jelas Elia yang berati tidak ada yang akan masakin makan siang buat mereka
"Aku mau dirumah aja, badanku sakit semua, masih berasa capeknya" keluh Laura yang tidak beranjak dari tempat tidur.
"Ya udah kamu tidur aja ya, nanti aku pulang ku bawain lauk"
"Kamu memang yang terbaik. Terima kasih banyak ya"
Mulai sekarang aku harus belajar memasak, berati aku harus ngontrak rumah. kalau kost pasti dilarang memasak. semoga aja besok ada teman yang mau ngontrak rumah bareng denganku. batin Laura sedih.
Akhirnya Laura teridur dengan sambil memikirkan tempat tinggal.
"Sepertinya si tukang makan belum bangun, apa dia gak lapar" Elia bergumam sendiri
"Hei!! Udah sore bangun, lo gak lapar. Tumben tukang makan melewatkan makan siang"
"Apa! Sore! Lo serius, aku cuma tidur bentar kenapa sudah sore aja" kaget Laura sambil melihat jam, dan memang benar sudah sore.
"Kamu beliin aku makanan? aku lapar banget"
"Pastilah, banyak lagi sekalian buat malam. Tuh di bawah di meja makan semuanya" belum selesi Elia ngomong Luara sudah keluar dari kamar turun ke meja makan.
*****
Di kota J
"Den, rumah untuk Laura sudah beres semuanya" tanya Oma
"Udah Oma tinggal nunggu perabotan kamar aja yang belum datang, kata Lia besok baru bisa dikirim" jelas Deni
__ADS_1
"Iya bu, Lia juga sudah pesan tiket kesini itu minggu depan" kata bu Andine.
"Apa Laura tau kalau Lia sudah beli tiket" tanya Oma.
"Belum Oma, aku yang nyuruh Lia jangan bilang dulu, nanti saat mereka sudah pindah baru ngasih tau Laura. Lia nanti juga akan nginap di rumah baru beberapa malam" jelas Deni.
"Semoga aja Laura tidak terlalu sedih ya saat Lia kesini nanti. Dan sepertinya ini perpisahan pertama untuk Laura" kata Oma
"Laura gadis periang dan cuek. Pasti akan baik baik aja" bu Andine.
"Kalau gak ada masalah di perusahaan aku mau kesana jemput Lia dan ketemu Laura" kata Deni
"Tidak sekarang Deni, papa masih butuh bantuan kamu" bu Andine
"Iya Ma aku tau, sekarang aja papa belum pulang karena ada hal penting yang dilakukan di luar kantor" kata Deni dengan muka sedih
Di Tempat Laina
"Rangga di mana kenapa tidak pulang bareng" tanya Bu Aisnyah sama Paman Edi
"Pergi Kakak, katanya ada acara sama tamanya" jawab Tuan Edi
"Hmm.... Hampir setiap hari pulang kerumah tengah malam. Apa itu anak gak capek hidup begitu" keluh Bu Aisya sambil menghela mafas yang meresa kasihan pada anaknya
"Kamu beneran sudah putus sama Melisa" tanya Evan penasaran
"Sebaiknya jangan ngomongin dia ya, aku tidak suka. Bikin aku emosi" jawan Rangga
"Sebenarnya ada apa sih, biasanya kalian itu seperti mata putih dan mata hitam. Selalu saja bersama dan mesra" ucap Agus
"Atau lo sudah tau siapa sebenarnya Melisa" tanya Rio
Rangga tidak menjawan pertanyaan temannya, itu tidak penting menurutnya sambil menghisap rokok di tanganya.
Tak jauh dari mereka duduk seorang wanita cantik sedang mencari seseorang hingga tanpa sengaja matanya tertuju kepada empat para pria yang sedang asyik ngobrol
"Akhirnya aku menemukanmu Rangga" ucap wanita itu sambil berjalan mendekat
"Boleh aku bergabung dengan kalian" ucap sang wanita yang tak lain adalah Melisa
Ke empat pria menoleh berbarengan ke arah suara dengan raut muka yang berbeda beda.
__ADS_1
Melisa... ucap ketiga pria, tidak dengan Rangga yang cuek dan hanya menoleh sekilas.
"Hei, apa kabar? Kamu agak kurusan, tapi tambah cantik sih heheh... "ucap Evan sambil tersenyum ramah
"Terima kasih, apa boleh aku pinjam teman kalian sebentar" ketus Melisa sambil melihat ke arah Rangga.
"Pinjam. Emang Rangga barang" jawab Rio tidak kalah ketus sambil menatap tajam ke arah Melisa.
Rio tau bagaimana Melisa dan apa yang dilakukannya di belakang sahabatnya. karena itu Rio sangat tidak menyukai Melisa. Tapi tidak bisa berbuat apa apa karena Rangga sangat mencintai Melisa. tapi sekarang tidak lagi.
"Rangga ada yang mau aku omongin sama kamu, ini penting. Aku mau kita ngomong berdua aja" kata Melisa
"Tidak ada yang perlu kita berdua omongin lagi, terutama aku. Kalau ada yang ingin kamu omongin, ngomong aja sekarang disini" kata Rangga tegas
Tidak, Rangga tidak tau apa yang akan aku bahas. Kalau dia tau tidak akan menyuruhku ngomong di depan temanya. Rangga tidak akan membiarkan aib aku di ketahui temanya. Rangga tidak seperti itu. Batin Melisa
"Kenapa diam aja, bicara disini atau tidak sama sekali" tegas Rangga
"Ta-Tapi Rangga in" belum selesai ucapan Melisa sudah di tahan oleh Rangga
"Kenapa? Kamu malu. Kamu kira aku gak cerita semuanya pada sahabatku" kata Rangga sambil tersenyum sinis.
Sedangkan tiga sekawan yang mendengar kata Rangga hanya diam dan saling melirik dengan aba aba 'apa ini, apa kamu tau, tidak aku tidak tau, lo tau, tidak, aku juga tidak tau' mereka tetap tidak ada yang berani berkata atau bertanya.
"Oke baiklah kalau mereka sudah tau, jadi tidak ada lagi yang perlu aku tutup tutupi" kata Melisa yakin.
"Aku minta maaf atas semuanya. Sumpah aku sangat mencintaimu Rangga. Aku gak mau kehilangan kamu. Dan aku juga tau kalau kamu sangat mencintai aku"
"Apa kamu bilang! Minta maaf. Dan kamu mencintai aku. Mencintai kamu memang benar tapi itu dulu sebelum aku tau siapa dirimu" uangkap Rangga dengan muka kaku tanpa ekpresi.
"Aku benar benar minta maaf hiks... Hiks... Tolong maafkan aku kali ini aja. Aku benjanji akan menyingkirkannya demi kamu" mohon Melisa sambil menangis.
"Apa kamu bilang, menyingkirkannya!! Benar benar kamu itu ibl** bermuka bidadari" kata Rangga emosi sambil melihat kearah perut Melisa yang masih datar, dan hampir ingin menampar wanita di depanya kalau tidak mengingat bayi yang di kandungya.
"Itu tidak masalah untukku selama kamu mau bersamaku" Melisa
"Dasar kamu ya gadis gak tau diri, gak ada rasa bersalah sedikitpun dihatimu" Rangga
"Aku gak peduli, asal bisa bersama kamu Rangga"
"Aku peduli. Aku tidak akan pernah mau hidup dengan wanita yang pacaran denganku dan hamil anak orang lain. Dan kamu akan menyingkirkan bayimu demi aku. Gila kamu ya. Kamu itu murah** baru ini bertemu wanita ibl** sepertimu yang tega membunuh anak yang bahkan belum kamu lihat" uangkap Rangga yang sudah tidak bisa nemahan emosinya lagi.
__ADS_1
Ketiga pria yang dari tadi diam terlihat syok dengan apa yang mereka dengar dan lihat dengan kepala mereka sendiri. Akhirnya mereka tau apa yang Rangga alami selama ini. Dan yakin karena inilah Rangga yang dulu hangat dan ramah menjadi dingin dan kejam.