
"Kalau begitu kira harus siap siap sekarang, tapi siapa saja yang ikut?" tanya Oma
"Lebih baik Deni dan Oma aja yang pergi, Deni kan pemeran utama dari salah paham ini" jelas taun Alvin.
"Aku juga mau ikut, aku rindu sama bocah bocah biang kerok itu. Dan juga jangan lupa bawa Camera ya, karena disana itu indah banget, anggap aja ini liburan untuk Oma dan Kak Deni" jelas Elia bersemangat.
Deni dan Oma ke kamar mereka untuk bersiap, Elia juga ke atas dan menjelaskan smuanya sama Laura, Laura jadi tidak enak karena sudah merepotkan semauanya, dan Kak Deni jadi libur gak masuk kantor karena harus ikut kerumahnya.
"Kamu tenang saja ya, semuanya akan baik baik aja, Oma akan menjelaskan semuanya ke Om Ahmad" ucap Elia mencoba menenagkan.
Semua sudah berkumpul diruang tamu. "Oma mau nginap satu minggu, kenapa bawaanya banyak banget" tanya bu Andine heran
"Rahasia... " jawab Oma.
__ADS_1
"Deni jangan pake mobil kamu, pake punya papa aja biar lebih lega, karena kan perjalanan jauh" jelas tuang Alvin sambil menyerahkn konci mobilnya.
"Tante, Om, Laura pamit ya" ucapnya sambil bersalaman dan memeluk mereka bergantian.
"Ini hanya salah paham, jadi semuanya akan berjalan lancar, kamu tenang aja ya" ucap tuan Alvin sambil mengelus kepala Laura penuh kasih.
Mereka semua berjalan keluar diantar tuan Alvin dan bu Andine. "Tuh kan, mobil papa lebih lega, jadi kalian akan lebih nyaman. Deni selesaikan semuanya dan sekalian liburan ya" ucap tuang Alvin sambil mengedipkan matanya ke arah Deni.
"Iya Pah tenang aja, semuanya akan selesai dengan sangat jelas" balas Deni dengan raut wajah yang susah diartian.
Setelah 2 jam lebih akhinya mereka memasuki desa BL, benar seperti kata Elia, desanya sangat indah, apa lagi saat sampai disana hari mulai senja. Akhirnya mobil masuk kehalaman rumah sederhana yang cukup luas, tidak ada orang diluar karena tidak ada yang tau kalau mereka akan datang.
"Sepi banget, apa tidak ada orang dirumah?" tanya Deni heran.
__ADS_1
"Kak, ini tuh desa, magrip orang pada di dalam rumah semua, nanti habis insya baru pada keluar lagi" jelas Elia yang sudah paham
"Assalamualaikum....Assalamualaikum....ucap Laura"
"Waalaikumsalam, siapa ya magrip magrip datang bertamu" ucap Rahmad kesel tanpa sebab, begitu pintu dibuka dia jadi kaget, karena Kakaknya dan dua orang asing ada diluar.
"Ibu!, Ayah! ada tamu, buruan, tapi jangan kaget dan marah marah ya" jelas Rahmad, yang khawatir sang ayah akan ngamuk karena melihat sang Kakak.
Pak Ahmad dan bu Ririn buru keluar srtelah mendengar ucap anaknya, masih dengan memakai mukenah sangking buru burunya bu Ririn keluar. Mereka syok karena melihat ada lain bersama anaknya, kalau Elia mereka sudah kenal tapi saat melihat lelaki yang tinggi besar dan wajahnya terlihat seperti bule, namun ini rambutnya hitam, dan seorang nenek yang terlihat cantik walau sudah tua.
Apa jangan jangan ini pria yang selalu bersama Laura, kurang ajar ya dia berani macam macam dengan anak gadisku, apa aku hajar aja sekrang, tidak, sebaiknya jangan, karena dia sudah jauh jauh kesini pasti naitnya baik, tapi kalau sampai itu anak sudah ngapain ngapain anak gadisku baru akan ku hajar habis habisan. Bantin pak Ahmad.
Deni yang melihat wajah pak Ahmad berubah menjadi aneh serta menyeramkan saat melihatnya. Ia langsung maju dan memperkenalka diri. " Kenalkan Om, saya Deni Saputra Addison Kakak kandung Elia" ucap Deni tegas sambil bersalaman dan mencium puggung tangan pak Ahmad.
__ADS_1
"Saya neneknya Elia, nama saya Siti Fadilah, panggil saja Oma seperti mereka memanggil saya" jelas Oma sambil bergantian bersalaman dengan kedua orang tua Laura.
Perkenalan berjalan lancar, mereka masuk. Karena waktu magrip tamu pun sholat dahulu, tidak lupa pak Ahmad memperhatian Deni, dari cara wudhu dan sholatnya. Kerena saatnya waktu makan malam, mereka pun makan malam bersama dengan lauk seadanya ala desa yang sangat menggugah selera. Tidak banyak percakapan di meja makan itu, karena mereka belum terlalu akrap, tapi tidak dengan Elia dan ke empat adik Laura yang terus ngobrol sampai ditegur berulang kali oleh pak Ahmad.