Setia Untuk Suamiku

Setia Untuk Suamiku
22. Hampir Saja


__ADS_3

Malam minggu yang panjang itu mereka lewatkan dengan sangat bahagia dan meninggalkan kesan tersendiri untuk mereka. Pagi harinya hari berlalu seperti biasa, Elia, Laura dan Deni mereka melakukan olah raga bersama seperti biasanya. Hari ini mereka lewati seperti hari biasanya, hingga saat makan malam semuanya masih bahagia, sampai saat handphone tuan Alvin berbunyi.


"Iya halo selamat malam, iya ini dengan saya sendiri, ada apa malam begini menelfon" beberapa saat berlalu tiba tiba muka tuan Alvin berubah, entah apa yang di bicarakan oleh penelfon, hingga dalam satu menit bisa merubah semua hawa di sekitar tuan Alvin menjadi menegangkan.


"Sayang ada apa? " tanya bu Andine sambil mengelus punggung suaminya dengan lembut.


"Deni, masalah yang kemaren itu berlanjut, dan yang kita khawatirkan terjadi" ucap tuang Alvin pada Deni, dan mengabaikan pertanyaan sang istri.


"Kenapa bisa begitu Pa, kesalahanya di mana?" tanya Deni.


"Papa juga tidak tau, tapi sepertinya pada bahan utama produksi kita" jawab tuang Alvin tidak yakin.


Yang lain hanya diam tanpa menyatakan apa pun, karena mereka tidak tau apa yang terjdi sebenarnya. Karena sudah malam mereka semua bersiap siap untuk tidur, karena mereka besok akan menjadi hari yang paling sibuk bagi mereka, terutama tuan Alvin dan Deni.


"Elia sebenarnya ada sih" tanya Laura penasaran.


"Aku juga ngak tau persis ada apa, tapi sepertinya ini masalah perusahaan dan sangat serius" jelas Elia yang tidak yakin dengan penilaianya sendiri.


"Apa pun itu semoga cepat selesai semuanya, kalau memang masalahnya sangat serius aku berharap agar aku bisa bantu" ungkap Laura serius.


"Ayo kita tidur aja, kalau memang masalah ini serius besok Papa pasti akan cerita kepada kita semua" jelas Elia.


Pagi harinya semua berjalan seperti biasa, tuan Alvin dan Deni ke kantor, bu Andin dan Oma siti dirumah. Sedangkan Laura dan Elia mereka pergi ke sekolah untuk mempersiapkan acara wisuda mereka.


"Lia, sudah sore kita pulang yok? bsok pagi pagi kita kesini lagi, perasaan aku tidak enak karena masalah semalam" ajak Laura

__ADS_1


"Kamu itu ya, udah seperti anak kandung papa dan mama aja, padahal aku yang anaknya aja gak ngerasain apa apa" jawab Elia asal


"Entah lah akau juga ngak tau perasaan apa ni, tapi yang penting sekarang pulang aja dulu" ajak Laura lagi, karena dari tadi di ajak Elia masih santai aja.


Begitu sampai dirumah mereka heran karena melihat mobil Deni dan tuan alvin sudah ada di garasi.


"Syukurlah kalian sudah pulang, ayo cepat masuk ke kamar kerja ayahmmu, ada yang mau di bicarakan dengan kita semual" jelas Oma


Karena merasa itu masalah keluarga mereka Laura langsung bejalan ke kamar, tapi belum sampai ke kamar sudah terdengar suara yang manggilnya.


"Laura mau kemana kamu?, ayo cepat turun kesini, kamu juga keluraga kita jadi harus ikut dalam rapat hari ini" ajak tuan Lavin.


Karena semua sudah berkumpul Deni pun menjelaskan bahwa sekarang ada masalah di perusahaan. Saat ini semua minyak hasil produksi kita sudah tidak bisa dikirim ke luar negri lagi, alasannya karena setelah di uji di negara tersebut produk kita tidak memenuhi syarat. Jadi kita harus berisiap untuk hal yang berburuk, kita bisa sangat merugi atau bila masalah ini tidak bisa kita selesikan perusahaan kita bisa bangrut.


Mereka semua kaget, kecuali tuan Alvin yang memang sudah lebih tau duluan saat di telfon oleh rekan kerjanya semalam. Oma terlihat yang paling syok, perusahaan ini dulunya adalah perusahaan milik suami Oma Alm. tuan Mahmud daud yang kemudian di wariskan kepada menantu satu satunya tuan Alvin, dan sekarang menjadi milik Deni cucunya.


"Merasa bersalah boleh, tapi kalian berdua tidak boleh menyerah, Oma akan sedih bila kalian tidak berusaha" ucap Oma tegas.


"Kalau boleh tau perusahaan memproduksi minyal apa?" tanya Laura penasaran.


"Perusahaan kita merupakan salah satu yang produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan kita juga memproduksi sendiri minyak goreng. Sekarang ini banyak negara Uni Eropa yang menetapkan larangan penggunaan CPO untuk bahan baku biodiesel,tapi itu tidak masalah bagi kita, karena kita memang belum ada kerja sama untuk itu." Jelas Deni panjang lebar.


"Yang jadi masalah adalah minyak goreng kita dilarang untuk ekspor atau pemakaian CPO yang di larang" tanya Laura serius.


"Untuk saat ini kita hanya mengekspor minyak goreng, sedangkan untuk CPO kita masih melobi semoga nanti bisa di ekspor juga. dan katanya hasil uji minyak kita tidak sesuai dengan standar negara B. Sedangkan kita sudah memproduksi banyak karena di waktu sebelumnya tidak ada masalah saat di uji" jelas Deni.

__ADS_1


"Mungkin itu terjadi karena kualitas bahan utama kurang bagus, aku pernah ikut ke warung ayah, dan melihat setelah membeli kelapa sawit ayah memilah milah lagi. katanya kerena setiap tipe buah akan menghasilan minyak yang berbeda juga.


Ayah juga menjelaskan agar buah dari pohon yang baru berbuah dan pohon yang masa aktif cukup jangan di satuin, begitu juga untuk buah dari pohon yang sudah tua. Karena setiap tahap pertumbuhan pohon akan mengasilkan kualitas minyak yang berdeda. Bahkan dari pupuk yang di gunakan juga akan mempegaruhi kualitas buah" jelas Laura panjang lebar seperti yang pernah di dengar dari ayahnya.


Semua terdiam saat mendegar penjelasan Laura, karena semua yang Laura katakan benar. Mungkin di pabrik saat produksi mereka mencampur semua jenis buah karena permintaan produksi dari kantor pusat yang sangat banyak. Sehingga terjadilah kesalahan seperti sekarang.


"Kamu benar sayang, Om sempat membicarakan hal ini dengan Deni, tapi Om tidak yakin. Tapi sekarang Om tau dari mana harus memulai memperbaiki semuanya. Terima kasih bayak ya sayang" ucap taun Alvin sambil mengelus bahu Laura


"Apa itu artinya ocehan aku barusan bisa membantu perusahaan?" tanya Laura tidak yakin dengan hal yang dia katakan dan menjadi terharu karena bisa membantu.


"Kita harus bergerak cepat, pertama kita akan melihat ke kebun sawit dan pabrik serta mempekerjakan beberapa orang yang ahli, serta untuk saat ini segera menarik smua minyak yang sudah kita kirim, dan minta di uji lagi disini, apa bila lulus kita bisa menjulanya dan bila tidak kita bisa menjadikanya untuk bahan baku sabu, dan deterjen. Jelas Deni semangat.


Saat sarapan pagi tuan Alvin mengatakan bahwa dirinya dan Deni akan balik ke kota J dulu untuk mengadakan apat tentang semua ini dengan para direksi dan pemegang saham, selanjutnya akan ke kota JM untuk melihat kebun sawit dan juga pabrik. Jadi Oma dan bu Andine tetap disini sampai semua urusan sekolah Elia selesai. Kalau sudah beres mereka juga akan kembali ke kota J. Semua yang mendegar kaget, tapi ini adalah keputusan akhir agar masalah krisis di perusahaan bisa diselesaikan.


"Laura kamu tenang aja nanti kita akan sering kesini, dan kalau nanti kamu lulus masuk kuliah kamu bisa tinggi disini" jelas bu Andine yang gak tega melihat Laura sedih.


"Hiks.. Mulai sekarang kamu harus pake handphone biar kita bisa terus bisa komunikasi, entah apa yang ada dipikiran kamu sampai gak mau pake handphone, hiks.. kamu kira masih hidup di zaman batu" ngomel Elia sambil menagis karena akan jauh dari sahabatnya.


"Iya nanti akan ku beli, tapi jangan nangis lagi ya, kan kita tidak akan berpisah hari ini kan" tanya Laura sedih.


"Laura, Om dan Deni akan betangkat ke kota J besok dengan penerbangan siang jadi kita masih punya waktu" jelas tuan Alvin.


"kenapa... ? kamu sudah merindukan Kakak, lebih baik hari ini kita manja manja ya, mumpumg Kakak masih disini" goda Deni, yang di goda mukanya sudah seperti kepting rebus.


Laura aku serius ingin kamu bermanja denganku, karena setelah ini entah kapan lagi kita akan bertemu, namun aku bejanji pada diriku sendiri akan tetep menunggumu. Batin Deni

__ADS_1


"Kak Deni ke pedean, aku bukan merindukan kak Deni, akan akan merindulan Elia, Oma, Tente dan Om, hehe... Kak Deni yang terkahir akan ku rindukan. Kerena kak Deni pelindungku, jadi saat aku susah dan sedih pasti akan ingat Kakak, tapi aku gak mau sedih, aku mau selalu bahagia" jalas Laura yang membuat mereka semua terharu.


"Om pasti akan seperti kehilangan seorang anak gadis nanti dikota J, itu karena kamu tidak ada di sana, tapi Om sangat bersyukur karena ide dari kamu kami bisa menyelesaikan masalah perusahaan yang hampir saja bangkrut, walaupun semua ini butuh proses yang lama kami akan tetap berusaha" ungkap tuan Alvin terharu.


__ADS_2