
"Deni sini cameranya sama Om, kamu foto sama Laura ya" ucap pak Ahmad sambil mengedipakn matanya. Aku tau kalau anakku tidak akan pernah mencinatinya, tapi setidaknya dengan begini mereka punya kenangan yang bisa dilihat setiap saat. Batin pak Ahmad.
Deni yang mengerti maksud pak Ahmad langsung mendekat dan merangkul bahu Laura dengan mesra, dengan sigap pak Ahmad langsung mengambil gambar, Elia dan Oma juga tidak ketinggalan. Sangat banyak foto yang diambil saat ini, dan semuanya sangat bahagia.
"Ibu pergi ke kebun dulu, mau panen timun dan tomat, sayang kalau tidak segera dipanen, kalau tomat malah nanti busuk" ucap bu Ririn sambil bersiap siap.
Karena kebun dekat rumah, akhirnya yang wanita semua ikut ke kebun, sedangkan Deni dan pak Ahmad akan santai di warung kopi sebentar, sebelum pak Ahmad mampir ke tempat ushanya.
Di kebun Oma sangat senang karena bisa ikut panen, Elia juga semangat. Laura biasa aja karena memang sudah sering ikut panen. Hasil panen yang didapat sebagian dibagikan ke tetangga dan sebagian lagi dijual ke warung sayur yang ada didesa. Berkebun bukanya pekerjaan bu Ririn, itu dilakukan agar tidak bosan dirumah sendiri saat anak dan suaminya pergi kerja dan sekolah.
__ADS_1
"Ra, setelah ini kita jalan jalan keliling desa naik sepeda ya, bila perlu sampai desa tetangga" ajak Elia semangat.
"Oke, siap kita ajak kak Deni juga ya, sekalian nanti kita mampir ditempat yang spotnya bagus untuk foto" jelas Laura, karena ia juga sudah lama tidak jalan jalan dikampungnya sendiri.
Setah dari kebun, mereka semua langsung kerumah, Elia dan Laura mandi dan bersiap untuk keluar, Deni juga sudah siap dengan sepada ontel kakek Laura. Oma tidak mau ikut, mau dirumah saja dengan bu Ririn.
Saat sedang santai dengan bu Ririn. " Apakah ada foto anak anak saat kecil, boleh saya melihat?" tanya Oma pelan karena takut tidak dibolehlan.
Album demi album Oma buka dengan perlahan, Oma tersenyum sendiri melihat semua fofo kenangan keluarga ini, mereka sungguh bahagia walau kehidupan mereka tidak mewah. Sampai akhirnya Oma berhenti di saat membuka album terkahir. "bukankah ini foto dokter Ismail, dokter jantungku, kenapa bisa ada disini, dan ada bu Ririn juga di foto kelurga ni, tapi kan dokter Ismail tinggal dikota besar J". batin oma
__ADS_1
"Ini kan dokter Ismail yang tinggal di kota J?," tanya Oma penasaran.
Bu Rinin mendekat dan melihat foto yang disebutkan Oma. "Iya Oma ini Kakak kandung saya, namanya Ismail, Kakak seorang dokter bedah dan mengambil spesialis jantung. Kakak saya memang sangat terkenal dan sering ada di tv untuk acara kesehatan, Kakak juga direktur dirumah sakit kelurga kami. Keluarga besar saya di medis semua, dan mereka menetap di kota J bersama ibu saya. Anak dari Kakak saya juga di medis semua, tapi saya tidak tau jurusan mereka apa saja." jelas bu Ririn panjang lebar
Oma yang mendengar hanya diam saja "kalau doker Ismail Kakaknya, berati mamanya orang kaya dong, tapi kenapa malah tinggal di desa ini dan jauh sama kelurganya" batin Oma
"Oh, begitu, Oma kenal dengan dokter Ismail dan kita sangat dekat, karena dokter Ismail dokter jantung yang menangani penyakit Oma" jelas oma
Bu Ririn sangat senang karena bu Siti kenal dengan Kakaknya, Kakak yang sangat dirindukan dan juga menyebalkan, akhirnya mereka bercerita tentang banyak hal, baik cerita Oma muapun bu Ririn. Dan yang membuat Oma kagum bu Ririn mau ninggalin kelurganya, dan dulu menolak dinikahkan dengan teman Kakaknya yang sesama dokter, dan malah memilih pak Ahmad yang biasa saja dan meilih hidup di desa.
__ADS_1
Dulu, Kakak dan adik bu Ririn tidak setuju bila bu Ririn menikah dengan pak Ahmad yang hanya pemuda biasa, walau wajahnya tampan. tapi tidak dengan ibunya, ibu setuju karena ibu tau wanita dari keluarganya keras kelapa, kalau sudah jatuh cinta pada pria akan setia sampai mati, kalau tidak disetujui bisa bahaya karena ada kelurganya yang tidak menikah bahakn sampai tua, hanya karena tidak di izinkan menikah dangan pilihanya. Mereka hanya akan menikah dengan orang yang mereka sukai/cintai. Itu yang dialami bu Ririn, walau dulu banyak pria yang mencintainya, tapi bu Ririn tidak. Hingga akhirnya bertemu pak Ahmad, jatuh cinta,dan menikah. Alasanya menikah karena cinta dan karena pak Ahmad membutuhkan bu Ririn, kalau dulu pak Ahmad tidak mengerti arti kata membutuhkan itu, tapi setelah hampir 21 tahun menikah akhirnya tau.
Saat sedang asyik ngobrol, dari luar terdengar suara yang sedang bahagia, karena hari ini mereka menikmati jalan jalan keliling desa yang sangat indah, semua tempat yang ada didesa mereka kunjungi dan tidak lupa berfoto.