
Setelah minum Laura merasa lebih baik.
Bibi pun kembali lagi ke dapur, dari pada nanti di omelin lebih baik menghindar, Bibi tau kalau hari ini telah berbuat salah. Tapi semua itu sudah terjadi Bibi hanya bisa pasrah pada nasip.
"Kamu yakin tidak apa, coba berdiri dulu dan jalan, kali aja ada yang sakit atau tidak nyaman" jelas taun Alvin dengan wajah sangat khawatir.
Sambil berdiri dan berjalan serta melompat pelan "Alhamdulillah Om tidak ada yang sakit, kecuali pandatnya" jelas Laura sambil menunduk malu.
"Kalau kamu tidak kesakitan kenapa tadi nangis seperti orang nahan sakit mau melahirkan" ketus Elia kesel karena Laura berhasil membuat semua orang panik.
"Iya... maaf" ucap Laura dengan muka bersalah. "Sebenarnya Lura nangis karena malu, kesel dan juga marah, karena hal ini tejadi lagi saat Laura pake baju hitam putih" jelas Laura.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Oma penasaran.
Laura mulaia bercerita. " Dulu Laura suka pake setelan hitam dan putih, karena menurut Laura cantik dan lucu seperti Panda. Tapi karena terlau sering dipake sampai diledekin adiknya seperti kotor** cicak. Tapi Laura tidak pedulu karena imut dan lucu menurutnya. Sampai kerjadian seperti tadi terjadi, bahkan sampai kaki Laura terkilir. Dan lebih parah lagi Laura sering di ledikin sikecil kalau 'kotora** cicak nyemplung ke lumpur' padahal saat itu kakinya sedang sakit". Jelas Laura dengan malu.
Semua mengangguk, tersenyum dan tertawa sambil membayangkan apa yang terjadi saat itu, Deni dan Elia bahkan sampai mengelurkan air mata yang membuat Laura jadi kesel.
"Sudah puas ketawanya. Terus ini baju dan celana yang kotor giman? Laura gak punya baju lain." Ucap Laura sedih.
"Kalau celan aku punya dan pasti maut saka kamu, tapi baju kemeja putih aku tidak punya." jelas Elia, karena kebanyak baju Elia dres.
__ADS_1
Semua mata melihat ke arah Deni, Dengan bingung Deni menunjuk dirinya dengan wajah bingung.
"Aku, kenapa melihat aku" ucap Deni bingung.
"Baju kemeja putih kamu kan banyak, pinjemin satu buat Laura" kata Oma
Yang lain mengangguk setuju termasuk Laura.
"Gak ada sudah kotor semua, cuma ada 3 aja, mana banyak" balas Deni.
"Ini warnaya putih, dan tidak kotor karena baru kamu pake" ucap bu Andine.
"Apa Laura harus pake kemeja putih papa" tanya tuan Alvin yang melihat putranya seperti kebaratan menganti bajunya.
"Terus, apa Laura tidak jadi ikut ujian test masuk kuliah? hanya kerena tidak ada kemeja putih". Tanya Oma, yang hampir membuat Laura menangsi karena sedih.
"Kak...Kakak ganti baju lain aja, biar baju ini Laura pake" pinta Laura dengan wajah sendu, yang membuat Deni tidak bisa menolak.
"Ini sudah Kakak pake, dan aroma Kakak di baju ini, kamu yakin gak apa apa?"tanya Deni karena tidak yakin Laura akan mau.
"Dari pada tidak ikut test. Jadi mau bagaimana lagi, Laura mau" tegasnya.
__ADS_1
Mereka naik ke lantai atas. Elia ke kamar Deni mengambil baju yang tadi di pakai Deni buat Laura.
Beberap menit berlalu.
Laura keluar sambil berjalan pelan, karena penampilanya lucu dengan kemeja kebesaran, dan berhasil membuat semua tertawa temasuk Deni.
Elia berlalu kemaranya dan bembawa beberapa peniti "Sini. serahkan sama ahlinya, kalau cuma kebesaran mah gampang" jelas Elia sambil tangan terampilnya menjepit beberapa bagian baju sehingga terlihat lebih pantas dan cocok sama di tubuh Laura.
"Terima kasih" Ucap Laura dengan haru.
"Udah sana berangkat, nanti telat lho. Uni udah jam 8 lebih, kamu ujian jam 9 kan? Sudah sana buruan" ingat Bu Andine biar mereka tidak telat.
Karena sudah telat Laura beangkat bersama Deni, dan kebetulan satu arah juga.
Begitu sampai di depan kampus ternyata sudah mulai ramai. Laura dan Deni keluar dari mobil.
"Semangat ya, kamu pasti bisa" ucap Deni sambil memeluk Laura memberi semangat.
"Iya Kak... terima kasih banyak ya untuk smuanya. Terutama untuk baju ini. Laura dapat mencium aroma Kakak dari baju ini, dan Laura merasa nyaman dan terlidungi. Kak Deni sudah menjadi Kakak yang terbaik untuk Laura" ucap Laura tulus.
"Iya Kakak tau, udah cepetan masuk nanti telat.
__ADS_1
Laura aku berharap agar persaanmu berubah padaku suatu saat nanti, karena aku menyukaimu, aku akan menunggu saat itu. Batin Deni sambil melihat Laura masuk ke dalam dengan penuh kasih sayang.